Ragam & Muhibah - Khazanah Islam
Thursday, 13 March 2008 13:32
Itu berarti, Sultan Muhammad tampil secara gemilang memimpin ratusan ribu tentara Muslim menggempur ibukota Bizantium pada usia 21 tahun. Sebuah pencapain yang begitu gemilang. Ketika Sultan Muhammad terlahir ke dunia, kedua orangtuanya sudah melihat isyarat bahwa sang buah hati akan menjadi pimpinan besar.
Menjelang kelahirannya, sang ayah Sultan Murad - juga sebenarnya sebenarnya sedang mempersiapkan diri untuk menggempur imperium Bizantium yang berbasis di Konstantinopel. Seorang ulama besar Syekh Syamsuddin Al Wali dari Khurasan sudah melihat tanda-tanda pada bayi yang diberi nama Muhammad itu.
Syekh Syamsuddin Al-Wali pun mendidik dan membimbing Sultan Muhammad II sejak masih kecil hingga menemaninya ke medan pertempuran untuk menaklukkan Konstantinopel. Sultan yang bergelar Al-Fatih atau ‘Sang Penakluk’ itu digembleng dengan pendidikan tarekat sufi dan keterampilan berperang. Ia didik dengan disiplin tinggi dan keras.
Sehingga, Sultan Muhammad II sudah terbiasa dalam hidup susah dan menahan hawa nafsu. Ujian dan latihan yang dilaluinya sejak masa kecil itu, kelak membuatnya menjadi seorang pemuda berjiwa kuat dan tahan banting. Semua itu dipersiapkan demi untuk menepati janji Sang Pencipta melalui Rasulullah SAW, yakni menaklukkan Konstantinopel.
Pelajaran teknik dan strategi perang didalaminya dari sejumlah panglima berpengalaman. Menginjak usia 19 tahun, Pengeran Muhammad akhirnya didaulat menjadi sultan. Sebelum sukses menjebol benteng Bizantium, dia mendidik tentara dan rakyatnya agar menjadi orang-orang bertaqwa. Bermodalkan itulah, dia mammpu menggerakkan semangat para tentaranya untuk berjuang menegakkan janji Tuhan. Merebut Konstantinopel dari kekuasaan Bizantium. Janji itu akhirnya terbukti. hri
* Abu Bakar (632 - 634)
* Umar bin Khattab (634 - 644)
* Utsman bin Affan (644 - 656)
* Ali bin Abi Talib (656 - 661)
Kekhalifahan Bani Umayyah di Damaskus
1. Muawiyah I bin Abu Sufyan, 661-680
2. Yazid I bin Muawiyah, 680-683
3. Muwaiyah II bin Yazid, 683-684
4. MarwanI bin al-Hakam, 684-685
5. Abdul-Maluk bin Marwan, 685-705
6. Al-Walid I bin Abdul-Malik, 705-715
7. Sulaiman bin Abdul-Malik, 715-717
8. Umar II bin Abdul-Aziz, 717-720
9. Yazid II bin Abdul-Malik, 720-724
10. Hisyam bin Abdul-Malik, 724-743
11. Al-Walid II bin Yazid II, 743-744
12. Yazid III bin al-Walid, 744
13. Ibrahim bin al-Walid, 744
14. Marwan II bin Muhammad (memerintah di Harran, Jazira) 744-750
Kekhalifahan Bani Abbasiyah di Baghdad
* Abu'l Abbas As-Saffah - 750 - 754
* Al-Mansur - 754 - 775
* Al-Mahdi - 775 - 785
* Al-Hadi- 785 - 786
* Harun ar-Rasyid - 786 - 809
* Al-Amin - 809 - 813
* Al-Ma'mun - 813 - 833
* Al-Mu'tasim Billah - 833 - 842
* Al-Watsiq - 842 - 847
* Al-Mutawakkil - 847 - 861
* Al-Muntashir - 861 - 862
* Al-Musta'in - 862 - 866
* Al-Mu'tazz - 866 - 869
* Al-Muhtadi - 869 - 870
* Al-Mu'tamid - 870 - 892
* Al-Mu'tadhid - 892 - 902
* Al-Muktafi - 902 - 908
* Al-Muqtadir - 908 - 932
* Al-Qahir - 932 - 934
* Ar-Radhi - 934 - 940
* Al-Muttaqi - 940 - 944
* Al-Mustakfi - 944 - 946
* Al-Muthi' - 946 - 974
* Ath-Tha'i' - 974 - 991
* Al-Qadir - 991 - 1031
* Al-Qa'im - 1031 - 1075
* Al-Muqtadi - 1075 - 1094
* Al-Mustazhir - 1094 - 1118
* Al-Mustarsyid - 1118 - 1135
* Ar-Rasyid - 1135 - 1136
* Al-Muqtafi - 1136 - 1160
* Al-Mustanjid Billah - 1160 - 1170
* Al-Mustadhi' - 1170 - 1180
* An-Nashir - 1180 - 1225
* Azh-Zhahir - 1225 - 1226
* Al-Mustanshir - 1226 - 1242
* Al-Musta'shim - 1242 - 1258
Kekhalifahan Bani Abbasiyah di Kairo
* Al-Mustanshir II - 1261
* Al-Hakim I - 1262 - 1302
* Al-Mustakfi I - 1302 - 1340
* Al-Wathiq I - 1340 - 1341
* Al-Hakim II - 1341 - 1352
* Al-Mu'tadid I - 1352 - 1362
* Al-Mutawakkil I - 1362 - 1383
* Al-Wathiq II - 1383 - 1386
* Al-Mu'tashim - 1386 - 1389
* Al-Mutawakkil I (pengangkatan kedua) - 1389 - 1406
* Al-Musta'in - 1406 - 1414
* Al-Mu'tadid II - 1414 - 1441
* Al-Mustakfi II - 1441 - 1451
* Al-Qa'im bi Amrillah - 1451 - 1455
* Al-Mustanjid - 1455 - 1479
* Al-Mutawakkil II - 1479 - 1497
* Al-Mustamsik - 1497 - 1508
* Al-Mutawakkil III - 1508 - 1517
ekhalifahan Turki Utsmani
* Selim I - 1512 - 1520 (scara aktif menggunakan gelar khalifah)
* Suleiman I (Suleiman yang Agung) - 1520 - 1566
* Selim II - 1566 - 1574
* Murad III - 1574 - 1595
* Mehmed(Muhammed) III - 1595 - 1603
* Ahmed I - 1603 - 1617
* Mustafa I (Pengangkatan Pertama) - 1617 - 1618
* Osman II - 1618 - 1622
* Mustafa I (Pengangkatan Kedua) - 1622 - 1623
* Murad IV - 1623 - 1640
* Ibrahim I - 1640 - 1648
* Mehmed (Muhammed) IV - 1648 - 1687
* Suleiman II - 1687 - 1691
* Ahmed II - 1691 - 1695
* Mustafa II - 1695 - 1703
* Ahmed III - 1703 - 1730
* Mahmud I - 1730 - 1754
* Osman III - 1754 - 1757
* Mustafa III - 1757 - 1774
* Abd-ul-Hamid I - 1774 - 1789
* Selim III - 1789 - 1807
* Mustafa IV - 1807 - 1808
* Mahmud II - 1808 - 1839
* Abd-ul-Mejid I - 1839 - 1861
* Abd-ul-Aziz - 1861 - 1876
* Murad V - 1876
* Abd-ul-Hamid II - 1876 - 1909 (secara aktif menggunakan gelar khalifah)
Catatan: Sejak 1908 sistem pemerintahan Islam berakhir.
* Mehmed(Muhammed) V - 1909 - 1918
* Mehmed (Muhammed)VI - 1918 - 1922
* Abdul Mejid II - 1922 - 1924; hanya sebagai khalifah
(Kepala negara: Gazi Mustafa Kemal Pasha Ataturk)
| < Prev | Next > |
|---|






"Setelah seorang keturunan Tionghoa menjadi muslim, maka keadaannya sungguh berlainan. Antara si pribumi (yang umumnya beragama Islam) dan nonpri keturunan Tionghoa yang masuk Islam, terjalin suatu hubungan batin yang luar biasa menakjubkan. Persamaan agama, dalam hal ini Islam, menciptakan hubungan mesra dan mengharukan sebagai saudara seagama. Berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits, arti dan nilai saudara sekandung tidak lebih besar dari saudara seagama. Bahkan, saudara sekandung bisa berbeda agama dengan segala konsekuensinya di akhirat. Sedangkan, saudara seagama sifatnya abadi di dunia maupun di akhirat." Junus Jahja