Thursday, 12 October 2006 07:00
''Ramadhan kali ini saya lebih berkonsentrasi pada keluarga. Memanajemen keluarga dengan baik ternyata paling penting sebelum melangkah ke hal selanjutnya,'' ujarnya Aa Gym di sela-sela melakukan Safari Ramadhan di Cirebon, Selasa (4/10).
Ramadhan kali ini Aa Gym ingin memberikan perhatian khusus untuk keluarganya. Bahkan, Aa Gym tak segan membantu pekerjaan dapur istrinya. ''Saya bahkan kini menyediakan diri untuk bisa memasak dan bahkan terkadang berbelanja,'' ungkapnya.Aa Gym mengaku selama Ramadhan menerima sekitar 1.000 hingga 1.200 undangan di berbagai daerah. Dari undangan itu hanya sekitar 50-an saja yang dipenuhi. Ditambah lagi, hampir setiap harinya ada 15 ribuan masyarakat yang datang ke pondok pesantrennya. Dan masyarakat disediakan waktu Sabtu dan Ahad saja.
''Itupun ketika berkunjung ke luar kota, keluarga kami ajak. Saya ingin keluarga tahu ketika saya berceramah,'' katanya. Dengan lebih seringnya tinggal di rumah, kini penggagas Manajemen Qolbu ini sudah bisa tenang. Apalagi nak-anaknya kini sudah bisa membaca Alquran dengan lancar. Bahkan anaknya yang berumur 3,5 tahun sudah bisa berpuasa walau setengah hari.
Menurut Aa Gym, kunci kesuksesan hidup sebenarnya adalah bagaimana memanajemen keluarga dengan baik. Anak akhirnya merasa diperhatikan orang tuanya, hingga bertanggung jawab. Sang isteri pun merasa lebih senang karena merasa tidak sendirian mendidik anak.
''Kami ingin mendidiknya supaya menjadi keluarga sakinah dan tentram di dunia dan akhirat,'' tambahnya. Untuk menjadi keluarga sakinah, menurutnya, diperlukan beberapa syarat. Di antaranya harus mempunyai ilmu. Seseorang yang berilmu pasti mempunyai pikiran yang luas sehingga punya rasa pengertian. Dan kedua, harus ikhlas dengan keadaan apa saja. (lhk/riol)
| < Prev | Next > |
|---|






"Setelah seorang keturunan Tionghoa menjadi muslim, maka keadaannya sungguh berlainan. Antara si pribumi (yang umumnya beragama Islam) dan nonpri keturunan Tionghoa yang masuk Islam, terjalin suatu hubungan batin yang luar biasa menakjubkan. Persamaan agama, dalam hal ini Islam, menciptakan hubungan mesra dan mengharukan sebagai saudara seagama. Berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits, arti dan nilai saudara sekandung tidak lebih besar dari saudara seagama. Bahkan, saudara sekandung bisa berbeda agama dengan segala konsekuensinya di akhirat. Sedangkan, saudara seagama sifatnya abadi di dunia maupun di akhirat." Junus Jahja