Tak banyak yang memahami kebutuhan mualaf (muallaf), padahal sebagai Muslim baru, mereka membutuhkan teman, tempat berlindung, dan juga pembimbing. Orang-orang yang baru saja hijrah ke dalam Islam, membutuhkan teman dan sahabat yang dapat memberi dukungan moril dan perlindungan dari kecaman keluarga maupun saudara, karena perpindahan agama bukanlah perkara sederhana ! Oleh karena itu, pada kesempatan ini, kami menyediakan waktu untuk berbagi bagi calon mualaf ataupun mualaf, hubungi kami atau sahabat mualaf dengan email myfriend at mualaf dot com atau di milist mualafindonesia@yahoogroups.com

See Videos

Who's Online

We have 45 guests online

Ingin belajar Islam dan mengenal Islam atau ingin menyambung tali silaturahmi dengan para Sahabat Muallaf ? silahkan gunakan media chatting dibawah ini :

Yahoo Mesenger kami:
Steven_widjaja@yahoo.com

Atau untuk akhwat (wanita):
misscantyq@yahoo.com

BBM Konsultasi:
2931719A (steven Indra).

khusus wanita.
22627987 (Merlin / ummu Hanna)
26B44C0B (Dina Fitriani)

Google Talk:
Stevenindra@gmail.com

Windows Live Messenger:
stevenindra@hotmail.com

Twitter:
@stevenindraw

sms ke 0817 910 5900 (steven) Indra Wibowo

 

 

Sahabat Muallaf

Donasi untuk Zakat Infaq dan Sedekah (ZIS) @ Muallaf Center Online with Paypal

Paypal Donation & ZIS

Mutiara

'Tiga hal yang merupakan sumber segala dosa, hindarilah dan berhati-hatilah terhadap ketiganya. Hati-hati terhadap keangkuhan, karena keangkuhan menjadikan iblis enggan bersujud kepada Adam, dan hati-hatilah terhadap tamak (rakus), karena ketamakan mengantar Adam memakan buah terlarang, dan berhati-hatilah terhadap iri hati, karena kedua anak Adam (Qabil dan Habil) salah seorang di antaranya membunuh saudaranya akibat dorongan iri hati." HR Ibn Asakir melalui Ibn Mas'ud.

Kampanyekan ''Bersama Berlebaran Bersama ''

Print PDF

Ragam & Muhibah - Ragam

Mari kita dukung Kampanye BERSAMA BERLEBARAN BERSAMA  tahun ini dan seterusnya.

Sehabis shalat Tarawih kemarin malam saya dihentikan oleh Fadli di serambi masjid. Saya diajak duduk bersila bersama Uun dan Kang Ngalwi. Rupanya mereka sudah mulai terlibat dalam suatu pembicaraan dan saya diminta bergabung.

''Kang Ngalwi punya pertanyaan dan kita diminta menjawabnya,'' kata Fadli setelah saya duduk. ''Katanya, kita ini hidup sekampung, seagama, sekitab suci, senabi; tapi nanti kita akan berlebaran pada hari yang berbeda. Di kampung ini sebagian akan berlebaran hari Senin, sebagian lagi hari Selasa. Kenapa? Apakah ini nalar? Apakah ini patut?''
Saya tersenyum dan merasa naif. Tapi nanti dulu. Sekilas pertanyaan itu memang terasa tidak bermutu, bahkan bodoh. Apalagi bagi mereka yang merasa pakar di bidang agama. Oleh para alim, pertanyaan Kang Ngalwi pasti akan digilas dengan jawaban: ''Sudahlah, pokoknya kita hormati keyakinan masing-masing. Tahun ini, yang mau Lebaran hari Senin maupun Selasa, semua baik-baik saja karena keduanya berpegang dengan keyakinan masing-masing, dan keduanya punya dalil segudang untuk membenarkan keputusan yang mereka ambil.''

Itulah kearifan tertinggi yang selama ini bisa dicapai oleh umat Islam. Namun sebenarnya kearifan tertinggi itu masih menyisakan perasaan tidak nyaman dalam kenyataan hidup sehari-hari, terutama di lapisan bawah.

Jadi pertanyaan Kang Ngalwi itu tidak mengada-ada, bahkan mungkin mewakili perasaan umum masyarakat awam.

Jelasya, masyarakat awam merasa tidak nyaman bila ada Lebaran yang berbeda hari.

Ya, bagaimana bisa nyaman (terasa konyol) ketika masjid di sebelah sudah bertakbir dan masjid kita masih melakukan shalat Tarawih.

Bagaimana silaturahmi tidak menjadi janggal ketika kita sudah menyantap gulai kambing, berpakaian bagus, bergembira ria karena hari Lebaran sudah tiba tetapi tetangga masih berpuasa.

Bagaimana hati tidak terasa buntu ketika salaman kita belum bisa diterima oleh teman yang Lebarannya baru besok hari.
''Lho, sampeyan ini diminta bergabung dengan harapan mau menjawab pertanyaan Kang Ngalwi. Kok malah merenung,'' Fadli mengingatkan saya.
''Wah, jawaban saya pasti sudah kalian ketahui karena kita sama-sama sering mendengar ceramah yang menyinggung masalah perbedaan hari Lebaran,'' jawab saya.
''Baik. Kalau begitu saya ingin tanya. Kalau boleh memilih, sampeyan lebih suka Lebaran bareng atau Lebaran sendiri-sendiri?'' kejar Fadli.
''Saya lebih suka Lebaran bareng.''
''Kenapa?''
''Rasanya, itu lebih patut, lebih enak. Bahkan andaikata Kanjeng Nabi masih ada di tengah kita, saya yakin beliau tidak berkenan dengan Lebaran yang tidak kompak ini.''
''Ya, betul. Jadi kenapa para alim yang memimpin umat tidak bisa kompak dalam menentukan hari Lebaran?''
Terus terang saya malas menjawab pertanyaan ini sebab khawatir akan ditertawakan oleh para alim. Maka saya senang ketika Uun mengambil alih dan mencoba menjawab pertanyaan Fadli.
''Begini, Fad,'' kata Uun. ''Perbedaan keyakinan di antara para pemimpin memang punya dasar berupa dalil-dalil. Yang jadi masalah, saya kira, adalah sikap memutlakkan keyakinan masing-masing.''
''Memutlakkan bagaimana?''
''Memutlakkan, ya tidak bisa ditawar meski sikap itu melanggar ruh Islam yang amat menjunjung tinggi kebersamaan. Dan membuat umat di bawah menjadi tidak nyaman.''
''Tapi Kanjeng Nabi pernah bersabda, perbedaan di antara umat Islam adalah rahmat.''
''Ah, kamu sendiri tahu, penerapan sabda itu tidak boleh sembarangan. Dan saya sangat yakin Kanjeng Nabi merasa sedih dengan perbedaan hari Lebaran ini.''
''Kalau begitu kamu punya gasasan apa?''
''Demi kemuliaan Kanjeng Nabi maka saya sampaikan gagasan ini. Tapi, Fad, kamu jangan kaget: Mari kita putuskan jatuhnya hari Lebaran melalui keputusan politik. Ada beberapa opsi yang ingin saya tawarkan, tapi saya kemukakan satu saja yang paling sederhana.''
''Lebaran dengan keputusan politik?'' tanya Fadli dengan mata melebar. Terus terang saya dan yang lain juga terkejut.
'Nah, betul kan, kalian kaget? Sebab kalian lupa Umar bin Khatab RA pernah mengambil keputusan politik untuk mengatur suatu ritus ibadah, dalam hal ini adalah shalat Tarawih. Bukankan shalat Tarawih berjamaah dan dilakukan sebulan penuh merupakan pengaturan Umar bin Khatab? Apakah itu bukan keputusan politik setelah Umar bin Khatab melihat umat Islam waktu itu melaksanakan shalat Tarawih sendiri-sendiri sehingga di mata beliau kurang enak dipandang?''

Kecuali Uun yang tertawa-tawa, selainnya jadi memasang wajah serius karena merasa tersodok oleh pemikiran anak yang tidak lulus STAIN itu. Dan, masih dengan tertawa-tawa, Uun melanjutkan omongannya.

''Bagaimana kalau umat Islam Indonesia dalam menentukan hari Lebaran kompak saja makmum ke Makkah? Maka kita akan melaksanakan shalat Id bareng pada hari yang sama dengan orang Makkah, hanya pelaksanaannya kita lebih cepat empat jam. Jadi tak usah lagi ada orang yang mengaku paling jago dalam ilmu hisab, atau paling jago dalam mengintip hilal. Dan yang penting kita jadi lebih patut karena sebagai umat yang mengaku paling baik, bisa berlebaran bareng.''

Uun mengakhiri omongannya dengan tertawa. Kami tak bisa berkomentar. Dan Kang Ngalwi amat-sangat setuju. Tapi entah para alim karena Uun, itu tadi, STAIN saja tidak tamat.

Redaksi Mualaf Center Online : Kami mengajak anda berkampanye Bersama BerLebaran Bersama dengan mengirimkan topik ini ke Sepuluh Rekan Anda dengan email, dengan harapan semoga Iedul Fitri tahun 1427 H ini tidak ada perbedaan harinya. Jika dapat cc kan juga ke DPP Muhammadiyah dan DPP NU.

Tahun ini Alim Ulama NU ikhlas mengikuti keputusan Alim Ulama Muhammadiyah dalam penentuan Iedul Fitri 1 Syawal, bergantian di tahun depan Alim Ulama Muhammadiyah ikhlas mengikuti keputusan Alim Ulama NU dalam penentuan Iedul Fitri 1 Syawal, karena toh dua-duanya mengklaim benar dalam penentuan 1 Syawal. Jika terjadi Hmmmm Indahnya Kebersamaan kata Aa Gym.
Google
"Setelah seorang keturunan Tionghoa menjadi muslim, maka keadaannya sungguh berlainan. Antara si pribumi (yang umumnya beragama Islam) dan nonpri keturunan Tionghoa yang masuk Islam, terjalin suatu hubungan batin yang luar biasa menakjubkan. Persamaan agama, dalam hal ini Islam, menciptakan hubungan mesra dan mengharukan sebagai saudara seagama. Berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits, arti dan nilai saudara sekandung tidak lebih besar dari saudara seagama. Bahkan, saudara sekandung bisa berbeda agama dengan segala konsekuensinya di akhirat. Sedangkan, saudara seagama sifatnya abadi di dunia maupun di akhirat." Junus Jahja
Konsultasi Muallaf juga bisa dengan mendatangi langsung ke  :
  • Masjid Raya Mekar Indah Jl. Puspita II No. 1, Sektor Mekar Indah, Perumahan Cikarang Baru, Kota Jababeka, Cikarang, Bekasi 17550, Telp.021 8983 2007 (telp masjid) Tp yang mengangkat nanti takmir masjid dan  minta dihubungi/disambungkan ke Masruri Mohammad Asy'ari atau via FB ybs.
  • Mr. Gene Netto via blognya di http://genenetto.blogspot.com/ untuk janjiannya
  • Masjid Agung Sunda Kelapa setiap hari, jadwal dapat dilihat di sini
  • untuk wilayah tangerang bisa menghubungi Masjid Al-Karim, Bintaro dengan bapak Johansyah Reza di 0811 99 44 22
  • untuk wilayah bandung dan sekitarnya dapat menghubungi mualaf center Daarut Tauhid dengan Ibu Ummu Hanna di 0815 73 6666 59
  • untuk wilayah Kota Semarang dan sekitarnya dapat menghubungi Masjid Asy-Syifa di Jalan Pemuda, Rumah Sakit dr. Karyadi, Semarang dengan Ibu Sisian Indraswari di 0813 2500 8364
  • untuk wilayah Surabaya, sampai Gresik dapat menghubungi Bapak Harris di 0813 3031 4137
  • Masjid Al-Hidayah, Gandaria City Lantai. 4, untuk kontak silahkan ke Em Riza 0856 800 8400 atau ke Aisiyah Eiyin 083 8860 6606
Untuk wilayah kota lainnya dapat menghubungi  Steven Indra di 0817 910 5 900