Thursday, 18 May 2006 04:26
Adakah kesulitan yang dialami Dika dan teman-temannya mempelajari Alquran Braille? Menurut Dika yang menjadi tuna netra pada usia 9 tahun, jika Alquran biasa indra penglihatan yang paling dominan digunakan, maka pada Alquran Brialle justru pikiran dan daya ingat yang dominan digunakan. ''Kesulitan menggunakan Alquran Braille tentu saja ada. Apalagi, waktu kecil sampai usia 9 tahun saya menggunakan Alquran biasa,'' jelas remaja kelahiran Bogor yang dibesarkan di Manggarai Jakarta Selatan.
Kebutaan tak menghalangi niatnya untuk mengapal Juz Amma. Setahun belajar membaca Alquran Braille, kini hapalan suratnya semakin bertambah. '' Saya pikir kebutaan ini merupakan ujian dari Allah SWT, apakah dengan kondisi ini saya akan lebih dekat kepada Allah SWT atau sebaliknya malah lebih jauh,'' paparnya. Dari sekolah dasar umum, kini ia mencatatkan namanya sebagai siswa di Sekolah Luar Biasa A (SLB A) di Lebak Bulus, Jakarta Selatan.
Semangat yang dimiliki Dika juga dipunyai Ade Ismail, 22 tahun. Usia tidak menjadi halangan bagi lelaki asal Kalimantan ini untuk nyantri di Pondok Pesantren Raudlatul Makfufin. Dulu, karena keterbatasan media belajar, ia mempelajari Alquran dengan cara menghapal, setelah sebelumnya 'dituntun' menghapal oleh gurunya. Kini, ia belajar sendiri dengan membaca Alquran Braille.
Bagi Dika dan Ade, dahaga rohaninya terpenuhi karena ada pesantren khusus tuna netra di pinggiran Jakarta itu. Paling tidak, Alquran Braille yang harganya lumayan itu tersedia dalam jumlah banyak.
Di Bandung, Osi Kurniasih SPd, warga Majalaya, harus pergi ke perpustakaan Wyata Guna di Jl Pajajaran, Bandung, hanya untuk menderas Alquran. Perempuan yang buta sejak lahir ini mengaku dua kali dalam seminggu datang ke perpustakaan umum yang jaraknya lumayan jauh dari tempat tinggalnya, dua jam perjalanan dengan kendaraan umum.
''Untuk membeli Alquran sampai 30 juz saya tidak sanggup,'' ujarnya. Ia hanya memiliki tiga juz Alquran di rumah. Kendati begitu, ia masih bersyukur. ''Saya masih beruntung karena di daerah lain masih banyak temen-temen tuna netra yang tidak bisa mempelajari Alquran karena sulit menemukannya,'' katanya.
Membaca Al Quran merupakan kebutuhan setiap Muslim dan Muslimah. Karena, semua ajaran Islam bersumber dari Alquran. Untuk mereka yang penglihatannya normal, membaca Alquran mungkin menjadi hal yang gampang dan murah.
Namun tidak demikian dengan saudara kita yang tuna netra. Guyonan seorang teman tuna netra ini barangkali ada benarnya. Kata dia, Muslim yang penglihatannya normal mestinya sudah bisa menghapal Alquran kalau mau. ''Dengan lima puluh ribu rupiah, Alquran sudah bisa dibeli di toko buku. Sementara bagi kami, dengan satu juta rupiah, baru dapat satu unit Alquran,'' ujarnya.
Satu set Alquran Braille standar dijual seharga Rp 850 ribu. Ada juga yang harganya Rp 600 ribu, namun tanpa terjemahannya. Maka tak heran, banyak Muslim tuna netra yang tidak memiliki kitab suci itu.
Menurut Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Ikatan Tuna Netra Muslim Jabar, Yudi Yusfar, pihaknya sangat kekurangan Alquran Braille. Saat ini, Alquran yang tersebar di Jabar baru 117-120 set. Sementara, di Jabar dibutuhkan 1.000 set Alquran dengan rasio satu set Alquran untuk 10 orang. ''Idealnya memang satu Muslim satu Alquran,'' ujarnya, dalam seminar dan lokakarya dengan tema "Permasalahan Tuna Netra dalam Belajar Baca Tulis Al Quran Braille", Jumat (28/4).
Jumlah tuna netra yang ada di Jabar, sambung Yudi, sekitar 10-15 ribu orang. Sedangkan Alquran Braille yang ada saat ini baru sekitar 100 unit. ''Maka untuk mengaksesnya setiap tuna netra harus datang ke sekolah, perpustakaan, dan masjid yang menyediakan Alquran Braille,'' tambahnya.
Itu dengan catatan, Alquran Braille sudah masuk ke daerahnya. ''Di daerah Pantura seperti Karawang, Cikampek, dan Subang, jumlahnya sangat sedikit. Banyak saudara kita yang tuna netra bahkan tak tahu seperti apa wujud Alquran itu,'' ujarnya.
Di perpustakaan, mereka bisa meminjam 30 juz Alquran sekaligus. Tapi, harus secara parsial satu persatu juz karena selain dipakai oleh dia, orang lain juga membutuhkan. ''Efek kurangnya Alquran itu adalah pada kurangnya pemahaman mereka pada Alquran,'' tambah Yudi.
Lembaga IKTNM Jabar mencatat, sekitar 50-60 persen tuna netra masih buta huruf Alquran sampai sekarang. Angka itu mungkin sudah berubah kini, seiring perubahan kebijakan pemerintah.
Tahun 1970-an, pengadaan Alquran Braille dilakukan oleh Departemen Agama. Namun, sejak tahun 1982 kebijakan itu dihentikan tanpa ada alasan jelas. Kalau pun ada bantuan, sifatnya isidental dan bukan proyek rutin.
Namun ITNM tidak putus asa. Untuk memberantas buta huruf Alquran, mereka rutin mengadakan pelatihan instruktur baca tulis Alquran. Para instruktur itu kemudian disebarkan ke daerah-daerah yang belum memiliki instruktur dan juga disebarkan ke pusat-pusat tuna netra. Uluran tangan Anda, sangat mereka butuhkan. -( kie/dam )
Apakah anda ingin menyumbangkan kelebihan dana anda untuk membelikan mereka Al-Qur'an Braile ?
| < Prev | Next > |
|---|






"Setelah seorang keturunan Tionghoa menjadi muslim, maka keadaannya sungguh berlainan. Antara si pribumi (yang umumnya beragama Islam) dan nonpri keturunan Tionghoa yang masuk Islam, terjalin suatu hubungan batin yang luar biasa menakjubkan. Persamaan agama, dalam hal ini Islam, menciptakan hubungan mesra dan mengharukan sebagai saudara seagama. Berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits, arti dan nilai saudara sekandung tidak lebih besar dari saudara seagama. Bahkan, saudara sekandung bisa berbeda agama dengan segala konsekuensinya di akhirat. Sedangkan, saudara seagama sifatnya abadi di dunia maupun di akhirat." Junus Jahja