Friday, 07 April 2006 20:54
Kalau sejarahnya, ada catatan menarik dari Nico Captein, seorang Islamisis atau orientalis dari Universitas Leiden. Dia menulis buku yang judulnya Perayaan Hari Lahir Nabi Muhammad SAW. Terbitan INIS tahun 1994. Menurut dia, Maulid Nabi itu aslinya perayaan kaum Syiah, muncul pada abad XI, pada zaman Fatimiyah.
Pada waktu itu, role playing dilakukan oleh penguasa, dilaksanakan pada siang hari dan tidak selalu dilaksanakan pada tanggal Maulid. Urut-urutan Acaranya seperti apa? Ada pembacaan Alquran, ceramah, persembahan untuk para pejabat. Dengan adanya persembahan ini, menjalin hubungan antara penguasa dengan ahlul bait (keluarga nabi) untuk memupuk kesetiaan pada Imam atau Khalifah Fatimiyah. Ketika Fatimiyah jatuh, peringatan ini terus dilakukan. Ini dari kalangan Syiah.
Dari kalangan Suni, pertama kali diselenggarakan di Suriah oleh Nuruddin pada abad XI. Maulid juga dilaksanakan di Mosul, Irak dan pada abad itu juga dilaksanakan di Mekkah dan seluruh penjuru Islam.
Adapun Sultan Shalahuddin Al Ayubi yang dikenal sebagai pemula peringatan Maulid Nabi. Ia menghidupkan kembali atau merevitalisasi Maulid Nabi yang pernah dilaksanakan oleh Dinasti Fatimiyah di Mesir tadi. Tujuannya untuk membangkitkan tentara Islam melawan serbuan Pasukan Salib yang memerlukan keteguhan dan keteladanan. Nah, dari situlah muncul anggapan Shalahuddin dianggap sebagai penggagas Maulid.
Bagaimana dengan keanekaragaman tata cara peringatan Maulid Nabi saw yang ada di Nusantara?
Keanekaragaman tersebut sangat dipengaruhi oleh budaya setempat. Di Jawa, Maulid Nabi diabadikan dalam bentuk upacara sekaten di Yogyakarta dan Solo. Yang menjadi intinya justru gamelan, alat musik tradisional Jawa. Kalau kita lihat di lingkungan santri, yang lebih kental adalah pembacaan sejarah nabi dalam bentuk puisi yang ditulis dalam bentuk maulib barzanji, diba'i, dan nasar
Artinya, sangat kuat dengan pembacaan teks. Kemudian pada puncak peringatan maulid, tanggal 12 Rabiul Awal, pada masyarakat pesantren di Jawa ada tambahan tradisi Jawa, yaitu kendurian atau selametan. Kenduri yang khas tradisi Jawa tersebut dikombinasikan dengan pembacaan maulid. Apa maknanya? Maknanya adalah ketika menghormati dan memuliakan Nabi dengan bacaan maulid itu, masyarakat menyelenggarakan kenduri. Inti kenduri adalah pembagian makanan, berkat atau dari bahasa Arab barakah. Barakah itukan turunan dari sedekah. Dalam Islam, sedekah itu untuk menolak bala.
Hal ini berbeda dengan tradisi peringatan maulid di Betawi. Maulid di kalangan Betawi dilaksanakan anytime. Betul-betul maulid nabi tanpa ada kaitannya dengan bulan Rabiul Awal.
Kepentingan apa yang diharapkan JIC dengan mengangkat dan mengkaji maulid sebagai icon di bidang sosial budaya JIC?
JIC sebuah lembaga baru dengan pengalaman baru, mencoba menjawab persoalan umat dalam konteks kebaruan. Salah satu problem ummat adalah semakin jauh meneladani junjungannya Rasulullah SAW. Saat ini yang diidolakan masyarakat tidak lagi Nabi atau pahlawan Islam. Anak-anak mengidolakan Dora Emon.
Masyarakat mengidolakan idol-idol yang ada atau selebritis, baik lokal maupun internasional. Yang fiksi-fiksinya yang diidolakan Harry Potter. Padahal nilai-nilai apa sebetulnya nilai-nilai kepahlawanan atau herosime yang ditampilkan para selebriti. Para selebriti itu adalah idola untuk hedonisme. Yang dilihat adalah glamour atau kemewahannya. Anak-anak tidak pernah mempelajari bagaimana selebritis atau tokoh menjadi terkenal. Orang tidak pernah mempelajari bagaimana perjuangannya.
JIC melihat kondisi semacam ini dan mencoba kembali mengingatkan bahwa di tengah-tengah umat ini ada uswatun khasanah, ada suri tauladan yang bagus, ada idola yang benar-benar sah lahir dan batin untuk diidolakan. Lalu kenapa ada tambahan kata Betawi, Maulid Nabi khas Betawi, karena masyarakat Betawi atau orang Betawi adalah salah satu suku bangsa di Indonesia yang sangat memuliakan maulid.
Apa langkah yang akan dilakukan oleh JIC?
Melalui festival ini diharapkan menjadi modal sosial bahwa kita meskipun berbeda-beda suku, budaya bisa bersatu melalui maulid. Untuk kepentingan ummat, dan bangsa Indonesia, maulid ini bisa dijadikan salah satu faktor integrasi nasional. Apalagi di dalam momentum maulid nabi seperti yang sudah dilaksanakan pada tahun 2005 dan 2006, mudah-mudahan tahun-tahun mendatang, itu mempertemukan berbagai kaum profesi di JIC. Ada kalangan nelayan, petani, pegawai, dan bahkan ada tentara.
Kalau lebih luas lagi, sesuai dengan tujuan didirikannya JIC. Masyarakat Islam Indonesia, khususnya masyarakat Islam Jakarta akan bertemu dengan masyarakat Islam internasional. Melalui forum ini nanti ada Mawlana Syekh Nurjan Mirahmadi dari Los Anggles, seorang khalifah tarekat Naqsabandiyah Haqani. Dia akan hadir memberikan penyembuhan spiritual dan membawa tarian sufi werling, seperti kupu-kupu terbang. Juga akan hadir Mufti Australia, Syekh Salim Alwan. Nah, jadi sudah ada tiga benua. Ada umat dari tiga belahan benua, yaitu umat Islam Asia, Australia dan Amerika Serikat.
Mulid nabi ini pada akhirnya mampu mensinergikan peradaban dan tidak mempertentangkan peradaban. Jadi ini jawaban Class of Civilization-nya Samuel P Huntington, kita coba untuk sinergitas. Di era globalisasi ini tidak ada yang bisa hidup sendiri.
Bagaimana kaitan Festival Maulid NaSAW dengan upaya pencapaian visi JIC sebagai pusat peradaban Islam?
Ya, inilah momentum untuk menjadikan JIC sebagai pusat peradaban Islam. Kalau festival dimanaj dengan baik, teratur, rapi, semuanya akan bahagia dan terpuaskan. Orang yang pulang dari festival ini merasa ada pencerahan. Inilah bangunan sebuah peradaban yang muncul dari kegiatan kesenian. (Republika Online/ mualaf.com )
| < Prev | Next > |
|---|






"Setelah seorang keturunan Tionghoa menjadi muslim, maka keadaannya sungguh berlainan. Antara si pribumi (yang umumnya beragama Islam) dan nonpri keturunan Tionghoa yang masuk Islam, terjalin suatu hubungan batin yang luar biasa menakjubkan. Persamaan agama, dalam hal ini Islam, menciptakan hubungan mesra dan mengharukan sebagai saudara seagama. Berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits, arti dan nilai saudara sekandung tidak lebih besar dari saudara seagama. Bahkan, saudara sekandung bisa berbeda agama dengan segala konsekuensinya di akhirat. Sedangkan, saudara seagama sifatnya abadi di dunia maupun di akhirat." Junus Jahja