Friday, 30 December 2005 14:37
Di sudut lain...jiwa sedikit terusik membuat diri menitikkan air mata
Handai taulan perlahan menjauh
Karib kerabat menjaga jarak, silaturahmi terputus
ITULAH sebait lagu yang menceritakan penggalan kehidupan seorang mualaf yang disuarakan grup nasyid Khalifah. Dari tujuh personel Khalifah, lima orang merupakan Muslim keturunan Tionghoa yang mengalami pahit getirnya hidup sebagai mualaf.
![]() SENDY memperlihatkan VCD album grup nasyid Khalifah yang lima dari tujuh anggotanya Muslim keturunan Tionghoa.* SARNAPI/"PR" |
"Menyuarakan nasib lewat nasyid, kenapa tidak? Itulah yang dilakukan Yayasan Haji Karim Oei (YHKO) Cabang Bandung melalui grup nasyid Khalifah," kata juru bicara Khalifah, Sendi Yuli (Sie Sian Ni).
Grup nasyid yang baru terbentuk tiga bulan lalu itu, ternyata sudah mengeluarkan album bertajuk "Suara Hati Muallaf". "Kalau contoh album dalam bentuk kaset dan VCD sudah jadi, tinggal diperbanyak. Untuk tahap pertama baru 500 buah, masing-masing untuk VCD dan kaset," kata Sendi, yang juga sekretaris YHKO Bandung.
Selain lagu "Suara Hati Muallaf" sebagai jagoannya, lagu-lagu lainnya juga manis untuk didengar seperti "17 Ramadan", "Ar-Rahman", "Ar-Rahim", "1 Syawal", "Penerangan Murni", dan "Renungan untuk Dunia Fana". Iringan musik khas Mandarin seperti er hu (rebab) dan di zi (suling) menyentak pendengaran kita, karena terdengar berbeda dengan grup-grup nasyid yang telah ada.
Lagu-lagunya dibalut syair berisi nasihat selain ungkapan nasib seorang muallaf. Album Khalifah sengaja memakai teks bahasa Indonesia dan bukan bahasa Mandarin, agar bisa dimengerti oleh masyarakat umum, maupun warga keturunan Tionghoa pada khususnya.
Ihwal terbentuknya grup Khalifah, menurut Sendi, karena didorong keinginan kuat untuk berdakwah melalui musik, sebagai "bahasa" universal. "Dari pembicaraan selintas, akhirnya terbentuk grup dengan personel tujuh orang, lima di antaranya Muslim keturunan Tionghoa yaitu saya, Tendi, Chunchun, Ku Wie Han, dan Fifi. Sedangkan Mila adalah aktivis di YHKO Bandung dan Carli merupakan teman Mila," jelasnya.
Mengenai nama Khalifah yang dipilih sebagai identitas grup, menurut Sendi, kata khalifah juga dikenal dalam bahasa Mandarin yakni ha li fa. "Maknanya tetap sama yakni kita merupakan khalifah," katanya, seraya menunjukkan kata ha li fa dalam kamus bahasa Mandarin.
Sebanyak 10 lagu dalam album tersebut merupakan buah karya Tendi, yang sekaligus berperan sebagai vokalis dan pemain perkusi. "Sedangkan pemain musik lainnya, dari non-Muslim yang dipimpin Andri Suryana. Kami nilai album ini merupakan harmoni yang baik antara Muslim dan non- Muslim untuk saling mengisi," ujarnya.
Menyinggung pendanaan pembuatan album, Sendi mengatakan, masih meminjam dari kas YHKO Bandung, yang jumlahnya lebih dari Rp 20 juta. "Bukan hanya untuk kebutuhan pembuatan album mulai dari musik, mixing, sampai penggandaan, namun dana pinjaman juga untuk mengurus hak paten atas 10 lagu kami ke Departemen Kehakiman dan HAM," katanya.
Nantinya, kewajiban Khalifah untuk mengembalikan dana pinjaman tersebut, bahkan kalau bisa mendapatkan tambahan penghasilan. "Kami sudah dua kali tampil di Pusdai Jabar dan PT Telkom, tak lama lagi di MQ Cafe. Hasil dari tampil secara langsung dan penjualan album, untuk mengembalikan dana pinjaman milik YHKO Bandung," katanya.
Apabila ada kelebihan dari penjualan kaset maupun VCD, Sendi mengatakan, rencananya untuk mendanai pendirian rumah singgah muallaf. "Perlu diketahui, kondisi muallaf lebih banyak yang memprihatinkan karena terusir dari keluarganya atau diputuskan tali silaturahmi. Dengan adanya rumah singgah muallaf, diharapkan menjadi tempat berteduh sementara bagi muallaf sebelum memiliki penghidupan yang mapan," ujarnya.
Selain dari penjualan album, Sendi juga mengingatkan kepada pengelola zakat untuk menyalurkan bagian asnaf muallaf, yang sampai saat ini tidak dialokasikan sama sekali. "Penerima zakat ada delapan golongan atau asnaf yang salah satunya adalah muallaf. Sampai sekarang, bagian muallaf tidak pernah disalurkan baik kepada muallaf maupun lembaga muallaf seperti YHKO," katanya.(Sar/"Pikiran Rakyat Online")***
| < Prev | Next > |
|---|







"Setelah seorang keturunan Tionghoa menjadi muslim, maka keadaannya sungguh berlainan. Antara si pribumi (yang umumnya beragama Islam) dan nonpri keturunan Tionghoa yang masuk Islam, terjalin suatu hubungan batin yang luar biasa menakjubkan. Persamaan agama, dalam hal ini Islam, menciptakan hubungan mesra dan mengharukan sebagai saudara seagama. Berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits, arti dan nilai saudara sekandung tidak lebih besar dari saudara seagama. Bahkan, saudara sekandung bisa berbeda agama dengan segala konsekuensinya di akhirat. Sedangkan, saudara seagama sifatnya abadi di dunia maupun di akhirat." Junus Jahja