Tak banyak yang memahami kebutuhan mualaf (muallaf), padahal sebagai Muslim baru, mereka membutuhkan teman, tempat berlindung, dan juga pembimbing. Orang-orang yang baru saja hijrah ke dalam Islam, membutuhkan teman dan sahabat yang dapat memberi dukungan moril dan perlindungan dari kecaman keluarga maupun saudara, karena perpindahan agama bukanlah perkara sederhana ! Oleh karena itu, pada kesempatan ini, kami menyediakan waktu untuk berbagi bagi calon mualaf ataupun mualaf, hubungi kami atau sahabat mualaf dengan email myfriend at mualaf dot com atau di milist mualafindonesia@yahoogroups.com

See Videos

Who's Online

We have 24 guests online

Ingin belajar Islam dan mengenal Islam atau ingin menyambung tali silaturahmi dengan para Sahabat Muallaf ? silahkan gunakan media chatting dibawah ini :

Yahoo Mesenger kami:
Steven_widjaja@yahoo.com

Atau untuk akhwat (wanita):
misscantyq@yahoo.com

BBM Konsultasi:
2931719A (steven Indra).

khusus wanita.
22627987 (Merlin / ummu Hanna)
26B44C0B (Dina Fitriani)

Google Talk:
Stevenindra@gmail.com

Windows Live Messenger:
stevenindra@hotmail.com

Twitter:
@stevenindraw

sms ke 0817 910 5900 (steven) Indra Wibowo

 

 

Sahabat Muallaf

Donasi untuk Zakat Infaq dan Sedekah (ZIS) @ Muallaf Center Online with Paypal

Paypal Donation & ZIS

Mutiara

“To convert to Islam is very easy. Probably the most difficult part of that, is to make sure that you are really convinced that Islam is the truth and the right way to follow. What you need to do after becoming a Muslim is learning some Islamic regulations. Islam is a practical religion and it provides clear guidance on what to do and not to do”.

Silaturahmi Muslim Tionghoa di Bandung : Bangun Image Islam Lebih Baik

Print PDF

Ragam & Muhibah - Ragam

Ada anjuran tak tertulis di kalangan etnis Tionghoa, yaitu boleh masuk agama apa saja kecuali Islam. Dienullah ini digambarkan sebagai agama tukang nyandung (orang yang suka berpoligami).

Benarkah mualaf itu hanya sebutan untuk orang yang baru pertama kali masuk Islam? Bagaimana dengan orang yang sejak lahir Islam, tapi baru akan memperdalam ilmu agamanya, apakah pantas disebut mualaf?
 
Bagaimana dengan stigma mengenai Islam sebagai agama "rendah" (sampai-sampai ada istilah di kalangan etnis Tionghoa, boleh memeluk agama lain kecuali agama Islam)? Bagaimana menghapuskan stigma agama Islam identik dengan poligomi?
 
Berondongan pertanyaan itu mengemuka dalam acara silaturahmi Muslim Tionghoa di Bandung, akhir pekan lalu. Dalam kemasan acara bertajuk 'Ada Apa dengan Mualaf ?',
Apreasiasi dari peserta di luar dugaan. Mereka bersama-sama mencari solusi bagi semua permasalahan yang dihadapi mualaf. Hadir sebagai narasumber pada acara itu adalah Wakil Ketua Yayasan Haji Karim Oei Jakarta HM Ali Karim Oei dan pengurus masjid Lautze Ku Kie Fung S Ag Muh Syarif Abdurrahman. Acara itu dihadiri juga oleh mantan preman dan residivis Anton Medan dan pelawak asal Bandung, Sup Yusup, beserta istri.
 
Suasana Masjid Lautze di Pasar Baru, JakartaMenurut HM Ali Karim Oei, di Jakarta pihaknya sudah mengislamkan sekitar dua ribu orang sejak 10 tahun lalu. Setiap satu minggu, kata dia, masjidnya mengislamkan dua atau tiga orang. Selain di Jakarta, kata dia, di Masjid Lautze Bandung dan Tanggerang pun banyak mualaf yang datang. Bahkan, di daerah lain minat non-Muslim untuk memeluk agama Islam pun tinggi. ''Oleh karena itu, kami akan membuka masjid di Cirebon, dan Surabaya pun akan dibuat Masjid Lautze,'' katanya.
 
Bila dilihat per wilayah, Jakarta, kata dia, paling banyak mualafnya. Sebenarnya, kata dia, banyak orang, terutama etnis Tionghoa, yang ingin tahu Islam tapi tidak harus kemana. Pada umumnya, kata dia, orang Tionghoa yang mau tahu tentang Islam itu akan mencari Masjid Lautze. ''Karena bentuk Masjid Lautze seperti ruko jadi tidak menakutkan bagi mereka,'' ujarnya.
 
Para mualaf, kata Ali, masih memiliki kendala dan hambatan setelah masuk Islam. Memang, kata dia, masalah yang mereka hadapi itu bentuknya bukan penyiksaan seperti zaman dulu. Namun, tekanan dalam bentuk lain, misalnya tekanan perasaan. ''Kendala yang dihadapi oleh mualaf sekarang misalnya di sekolah, begitu tahu Islam langsung dikeluarkan oleh sekolah berlatar agama lain,'' jelasnya. Beruntung, jalan keluar sudah diperoleh. Mereka menjalin kerja sama dengan Muhamadiyah dan lembaga pendidikan Islam yang lain untuk menampung mereka.
 
Sebelum zaman demokrasi, kata dia, banyak mualaf yang diusir oleh keluarganya karena keluarganya tidak setuju ia berislam. Sehingga, pihaknya menyiapkan tempat untuk menampung mualaf yang diusir itu. Namun, lama-lama tempat itu tidak terpakai lagi setelah globalisasi dan modernisasi berkembang. ''Upaya yang kami lakukan saat ini adalah pembinaan setiap hari dengan menyiapkan ustadz dan ustadzah,'' katanya.
 
Sedangkan menurut Anton Medan, untuk berdakwah pada etnis Tionghoa, tantangannya sangat besar dibanding berdakwah di kalangan pribumi. Hal itu, kata dia, berkaitan dengan kesiapan mental. Karenanya, ia menganjurkan agar mualaf dari etnis Tionghoa agar berbaur dengan Muslim pribumi. ''Tapi pada umumnya, kalau akidah dan keyakinan mereka kurang kuat maka akan mengalami kesulitan setelah menjadi mualaf,'' ujarnya.
 
Sup Yusup yang juga menjadi nara sumber dalam acara itu menceritakan, pada saat menjadi mualaf, etnis Tionghoa mengalami beberapa kendala. Terutama, kata dia, berkaitan dengan stigma yang dibangun tentang islam oleh non-Muslim. Islam, kata dia, diidentikan dengan tukang nyandung (poligami). Sehingga, kata dia, pada saat istrinya yang bernama Lie Ing masuk Islam, semua temannya menghina istrinya. ''Teman-teman istri saya mengatakan, kenapa harus masuk Islam, nanti hidup kamu tidak bahagia karena dimadu, lebih baik masuk agama lain saja asal bukan Islam,'' katanya menirukan.
 
Masjid Lautze 2 , BandungStigma lain yang sudah terbangun pada non-Muslim, kata dia, adalah, jika masuk Islam maka akan merosot dari segi materi. Pemikiran-pemkiran seperti itu, kata dia, menjadi tugas semua orang untuk merubahnya. Pasalnya, minat etnis Tionghoa untuk menjadi mualaf itu makin besar jika semua pihak membangun image Islam yang sebenarnya. ''Yang terpenting dari semua kendala itu adalah bagaimana agar mualaf itu bisa terus dibimbing dan dijaga keimanannya,'' katanya.
 
Sedangkan menurut Ketua Pengurus Masjid Lautze Cabang Bandung, Muhamad Bobby Alandi, kondisi yang dialami oleh mualaf Indonesia sesuai dengan kondisi umat Islam. Saat ini, kata dia, kondisi umat Islam merosot di segala bidang, begitu juga dengan kondisi mualafnya. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan.
 
Pertama, kata dia, kondisi umat islam yang lemah itu bisa membuka peluang maraknya upaya-upaya pemurtadan. Jadi, kata dia, mualaf perlu diperhatikan dengan terus memberikan bimbingan. Oleh karena itu, pihaknya akan membangun pondok singgah di Bandung. Rencananya, pembangunan dilakukan mulai 2006.''Pondok singgah untuk mualaf harus ada sebagai salah satu solusi untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang dihadapi oleh mualaf,'' ujarnya.

( Republika Online / n kie / Irwan MCOL)

Google
"Setelah seorang keturunan Tionghoa menjadi muslim, maka keadaannya sungguh berlainan. Antara si pribumi (yang umumnya beragama Islam) dan nonpri keturunan Tionghoa yang masuk Islam, terjalin suatu hubungan batin yang luar biasa menakjubkan. Persamaan agama, dalam hal ini Islam, menciptakan hubungan mesra dan mengharukan sebagai saudara seagama. Berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits, arti dan nilai saudara sekandung tidak lebih besar dari saudara seagama. Bahkan, saudara sekandung bisa berbeda agama dengan segala konsekuensinya di akhirat. Sedangkan, saudara seagama sifatnya abadi di dunia maupun di akhirat." Junus Jahja
Konsultasi Muallaf juga bisa dengan mendatangi langsung ke  :
  • Masjid Raya Mekar Indah Jl. Puspita II No. 1, Sektor Mekar Indah, Perumahan Cikarang Baru, Kota Jababeka, Cikarang, Bekasi 17550, Telp.021 8983 2007 (telp masjid) Tp yang mengangkat nanti takmir masjid dan  minta dihubungi/disambungkan ke Masruri Mohammad Asy'ari atau via FB ybs.
  • Mr. Gene Netto via blognya di http://genenetto.blogspot.com/ untuk janjiannya
  • Masjid Agung Sunda Kelapa setiap hari, jadwal dapat dilihat di sini
  • untuk wilayah tangerang bisa menghubungi Masjid Al-Karim, Bintaro dengan bapak Johansyah Reza di 0811 99 44 22
  • untuk wilayah bandung dan sekitarnya dapat menghubungi mualaf center Daarut Tauhid dengan Ibu Ummu Hanna di 0815 73 6666 59
  • untuk wilayah Kota Semarang dan sekitarnya dapat menghubungi Masjid Asy-Syifa di Jalan Pemuda, Rumah Sakit dr. Karyadi, Semarang dengan Ibu Sisian Indraswari di 0813 2500 8364
  • untuk wilayah Surabaya, sampai Gresik dapat menghubungi Bapak Harris di 0813 3031 4137
  • Masjid Al-Hidayah, Gandaria City Lantai. 4, untuk kontak silahkan ke Em Riza 0856 800 8400 atau ke Aisiyah Eiyin 083 8860 6606
Untuk wilayah kota lainnya dapat menghubungi  Steven Indra di 0817 910 5 900