Monday, 29 August 2005 14:00
Berbicara mualaf di dunia maya, ada dua situs dalam negeri yang kini gampang dikunjungi. Selain situs resmi Irena Center di alamat www.irena-center.org , ada lagi yang masih gres, www.mualaf.com . Keduanya lahir karena alasan yang sama, memberi pendampingan dan bimbingan bagi para mualaf.
Seiring dengan banyaknya mualaf yang hijrah ke Islam, lembaga bagi para mualaf memang banyak bermunculan. Bila dulu hanya ada beberapa, antara lain yang terdepan adalah Yayasan Haji Karim Oei, kini jumlahnya mencapai puluhan dan tersebar di berbagai daerah. Sebut saja AMMA Foundation, Yayasan Al Manthiq, Irena Center, dan lainnya. Lembaga-lembaga tersebut selama ini menjadi oase bagi mualaf yang membutuhkan pendampingan sebagai Muslim pemula.
Yayasan Haji Karim Oei - Bandung menyediakan aneka pelayanan bagi mualaf. Mulai dari konsultasi agama, bantuan ekonomi, hingga bimbingan baca tulis Alquran. ''Kami juga membantu mualaf untuk memecahkan persoalan pribadinya,'' jelas Sekretaris Yayasan Haji Karim Oei Cabang Bandung, Sendy Yuli SE. Menurutnya, sebagian besar mualaf binaannya diislamkan di Masjid Lautze 2 - Bandung umumnya beralasan mencari ketenangan hati. Beberapa menikah karena alasan pernikahan. ''Agar keimanan mereka tidak luntur, maka kami coba terus mendampinginya,'' tambah Sendy.
Ketua Umum Al Manthiq, dr H Bambang Sukamto mengungkapkan, problematika mualaf sering kali sangat kompleks. Tantangan terberat yang dihadapi mualaf selain masalah akidah adalah masalah sosial ekonomi. ''Tak jarang, saudara-saudara kita yang baru masuk Islam itu kehilangan pekerjaan dan mendapat embargo ekonomi dari keluarganya. Yang semula seluruh biaya hidup dan pendidikannya ditanggung keluarga, tiba-tiba diputus,'' ujar pria yang sudah 20 tahun lebih memeluk Islam ini.
Hal senada diungkapkan Ir H Surya Madya, Ketua Umum Amal Muslim Muhajirin dan Anshar (lebih dikenal sebagai AMMA Foundation) yang juga bergerak di bidang pembinaan bagi para mualaf. Selain bimbingan keimanan dan akidah, kata dia, yang amat diperlukan oleh para mualaf adalah dukungan moral dan material selama masa awal-awal keislamannya.
Baik Bambang Sukamto maupun Surya Madya mengakui, pada hari-hari pertama keislaman, seorang mualaf biasanya ditampung di tempat sementara. ''Kalau hanya sekadar makan dan tempat tinggal, itu mudah tapi yang dipikirkan bukan hanya itu yakni masa depan dia bagaimana,'' kata dia.
AMMA, menurut Surya, sudah melakukan berbagai langkah kongkrit untuk membina para mualaf. Misalnya dengan mengadakan kursus bahasa Inggris maupun bahasa Arab, serta beberapa ketrampilan lainnya. Dengan begitu, para mualaf ini mempunyai bekal yang cukup untuk masuk ke dunia kerja. seperti kakak beradik,'' jelasnya menambahkan.
Namun menurut Bambang, tak selamanya mualaf mempunyai kisah sedih setelah berislam. Banyak di antara binaannya yang secara ekonomi beruntung dan kariernya bahkan bertambah naik. Kehidupan rumah tangganya pun adem ayem saja. ''Karena merasa sudah mendapat hidayah, maka etos kerjanya bagus. Itu yang mendorong mereka menjadi sukses,'' Bambang mencoba menganalisa.
Hal lain yang tak kalah penting, menurut kedua tokoh ini, adalah pemantapan akidah. Al Manthiq selama ini melakukan pendampingan rohani dalam bentuk pengajian, diskusi, dan meluruskan persepsi tentang Islam. ''Di dalam pikiran mereka itu Islam selalu identik dengan hal-hal yang negatif seperti kaum Muslim yang laki-laki itu tukang kawin, dan hal-hal semacam itu,'' ujarnya. Untuk tenaga pengajar, mereka bekerja sama dengan Jakarta International Muslim Society (JIMS).
Hal yang sama juga diakui Ustadz H Syamsul Arifin Nababan. Ketua Yayasan Bina Mualaf menyatakan, yang paling penting dari pendampingan itu adalah untuk menggugurkan ajaran agama sebelumnya yang masih tertanam di hati. Mantan penginjil di Medan, Sumatera Utara ini menegaskan, berislam secara total tidak sederhana. ''Ada diantara mereka yang masuk Islam hanya sekitar 60 persen. 40 persen masih ada sisa-sisa ajaran agama sebelumnya,'' kata dia.
Kalau sampai tidak ada bimbingan kepada mereka, bukan tidak mungkin mereka bisa kembali ke agama lama. ''Saya yakin mereka tidak akan secara total berIslam, kalau tidak kita gugurkan sisa-sisa ajaran sebelumnya dalam dirinya. Untuk ini diperlukan perjuangan, pengorbanan dan kiat-kiat jitu,'' tandas alamui LIPIA ini menjelaskan.Saat ini lembaganya membina 100 mualaf. Ia mengkritik rendahnya perhatian lembaga amil zakat infak dan sedekah terhadap para mualaf. Padahal dalam tuntunan agama, para mualaf juga berhak menerima bagian zakat.
Pendampingan menjadi keharusan
Pembinaan maupun pendampingan mualaf merupakan keharusan bagi lembaga dakwah maupun majelis ulama. Dan yang terpenting pembinaan tersebut berkelanjutan Demikian penegasan Ketua MUI KH Amidhan saat dihubungi per telepon, Rabu malam (24/8/05).
Namun dia tidak menampik bahwa faktor itulah yang kini masih menjadi persoalan utama. Dulu di DKI, misalnya, kegiatan terpusat di masjid-masjid besar seperti Istiqlal, Al-Azhar, dan Sunda Kelapa. Khususnya bagi mereka yang baru diislamkan. Namun belakangan, tidak terdengar lagi kabarnya. "Seyogyanya, pihak masjid tidak sekedar mengeluarkan sertifikat kepada mualaf, tapi hendaknya juga terus menjalin hubungan atau paling tidak punya database mualaf," kata Amidhan. Menurutnya, saat ini cukup banyak kalangan non-Muslim yang beralih ke Islam.
Amidhan mengaku punya pengalaman pribadi. Beberapa tahun lalu dirinya pernah mengislamkan seorang pejabat di perusahaan tambang yang berada di Nusa Tenggara Barat. Orang itu pun dibimbingnya mengucapkan dua kalimat syahadat di sebuah masjid di Jakarta. ''Namun pihak masjid ternayat tidak lagi menjalin komunikasi dengan dia dan kehilangan kontak,'' sesalnya.
Menurut Amidhan, beragam latar belakang seseorang menjadi Muslim. Tak sedikit yang kemampuan ekonominya rendah. Oleh karenanya, pembinaan terbaik jangan sekedar dari aspek agamanya saja, melainkan juga memberikan bantuan secara sosial ekonomi. "Terus terang saja, kita terenyuh kalau melihat sertifikat mualaf terpaksa dijadikan untuk meminta sumbangan," tukasnya.
Pihak MUI sendiri bukan tidak memperhatikan persoalan ini. Amidhan menyatakan, aspek pembinaan mualaf selama ini sudah termasuk dalam tugas komisi dakwah. Tetapi karena MUI tidak bersifat operasional maka sifatnya hanya memberikan bimbingan serta arahan secara konsepsional, sementara operasional pembinaan menjadi bagian lembaga-lembaga dakwah.
Terkait hal itu, lanjut dia, sekarang sedang disusun peta dakwah nasional dan telah berjalan selama berjalan dua tahun. "Saya kira kalau sudah terumuskan, sasaran dakwah yang perlu diperhatikan salah satunya adalah para mualaf tadi," jelasnya.
( dam/yus/san )
Terkait hal itu, lanjut dia, sekarang sedang disusun peta dakwah nasional dan telah berjalan selama berjalan dua tahun. "Saya kira kalau sudah terumuskan, sasaran dakwah yang perlu diperhatikan salah satunya adalah para mualaf tadi," jelasnya.
( dam/yus/san )
Yayasan H Karim Oey - Bandung
Kontribusi etnis Tionghoa dalam penyebaran Islam di Indonesia tidak sedikit. Usai persinggahan Laksamana Cheng Ho ke Indonesia, banyak Muslim asal Tionghoa yang menjadi pendakwah di Tanah Jawa. Namun kini, Muslim keturunan Tionghoa masing dianggap "anak tiri" oleh komunitas Muslim Tanah Air.
Kontribusi etnis Tionghoa dalam penyebaran Islam di Indonesia tidak sedikit. Usai persinggahan Laksamana Cheng Ho ke Indonesia, banyak Muslim asal Tionghoa yang menjadi pendakwah di Tanah Jawa. Namun kini, Muslim keturunan Tionghoa masing dianggap "anak tiri" oleh komunitas Muslim Tanah Air.
Tesidaknya, itulah pengakuan Sekretaris Yayasan Haji Karim Oei Cabang Bandung, Sendy Yuli SE. Menurutnya, posisi mereka saat ini sangat dilematis. Oleh etnis Tionghoa non-Muslim, aku dia, mereka dijauhi. Namun oleh Muslim pribumi, ungkap dia, belum sepenuhnya diterima.
Padahal, menurut pemilik nama asli Sie Sian Ni ini, seluruh kegiatan di Masjid Lautze itu, sama dengan aktivitas lembaga Islam pribumi. ''Namun, kendati yayasan kita membina 90 mualaf, kami belum pernah diposisikan sebagai asnaf (penerima bagian zakat) oleh lembaga zakat,'' keluh Sendy kepada Republika.
Sebaliknya, menjelang Ramadhan, Idul Fitri, serta Idul Adha, lembaga muallaf Karim Oei Bandung, kerap dimintai bantuan oleh warga. Tionghoa, oleh komunitas pribumi, sering dipandang sebagai "kaum berduit". Padahal untuk membantu para mualaf yang umumnya mengalami masalah sosial dan ekonomi setelah menyatakan keislamannya, jelas membutuhkan anggaran yang tidak sedikit. Untuk memenuhi biaya operasional yayasan, mereka hanya mengandalkan kotak amal di Masjid Lautze. bagi mereka, pantang meminta-minta sumbangan ke rumah warga atau menggalang dana di jalan.
Empat orang pengurus Yayasan Karim Oei Cabang Bandung juga membuka kursus bahasa Mandarin bagi masyarakat umum. Seluruh dana yang terhimpun yayasan itu, digunakan untuk biaya operasional pendampingan para mualaf. Kini, mereka mencoba merilis album religi dengan musik tradisional Tionghoa. Album perdana Yayasan Karim Oei itu akan diluncurkan Bulan Oktober 2005. ''Kami tidak pernah berkecil hati. Rahmat Allah ada di mana-mana,'' ujarnya. ( san )
| < Prev | Next > |
|---|






"Setelah seorang keturunan Tionghoa menjadi muslim, maka keadaannya sungguh berlainan. Antara si pribumi (yang umumnya beragama Islam) dan nonpri keturunan Tionghoa yang masuk Islam, terjalin suatu hubungan batin yang luar biasa menakjubkan. Persamaan agama, dalam hal ini Islam, menciptakan hubungan mesra dan mengharukan sebagai saudara seagama. Berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits, arti dan nilai saudara sekandung tidak lebih besar dari saudara seagama. Bahkan, saudara sekandung bisa berbeda agama dengan segala konsekuensinya di akhirat. Sedangkan, saudara seagama sifatnya abadi di dunia maupun di akhirat." Junus Jahja