Friday, 08 February 2008 11:02
Masjid Raya Al Musyawarah berada tepat di samping Mal Kelapa Gading di Jl Bulervar Raya, Jakarta Utara. Masjid ini ibarat penunjuk bahwa dari semua kegiatan manusia maka akan kembali kepada-Nya. Ujung dari semua kegiatan bisnis dan leisure adalah bersujud kehadirat Ilahi di Masjid yang teduh dan terbuka.
Maka masjid ini menjadi tempat shalat bagi orang yang berkunjung ke Mal Kelapa Gading. Masjid Raya Al Musyawarah juga menjadi pusat dakwah baik dakwah bulanan, atau dakwah berupa pengajian yang digelar tiap pekan dengan penceramah berbeda-beda. Pengajian ini tak hanya diikuti warga Kelapa Gading tapi juga Sunter dan Tanjung Priok.
Tiap Rabu dan Jumat siang digelar pengajian untuk kaum ibu. Kemudian pada Sabtu pagi diselenggarakan juga Kajian Islam Saabtu (KIS) yang dibuka untuk umum. Setiap awal bulan ada juga bedah buku Islam yang bekerja sama dengan penerbit buku.
Masjid Raya Al Musyawarah berdiri di atas lahan seluas 16 ribu meter persegi yang semula merupakan fasilitas sosial yang diserahkan dari developer--H Zaelani Zein, dan H Sjamhudi ke Pemda DKI. Pemda DKI kemudian menunjuk pengelola masjid.''Sekarang berdasar usul dari Walikota Jakarta Utara Efendi Anas, maka masjid berstatus yayasan,'' kata Imam Muslich Ramlan, Kepala Sekretariat Masjid Raya Al Musyawarah kepada Republika.
Pada bulan Ramadhan, kata dia, kegiatan di Masjid Raya Al Musyawarah makin semarak. Selain, shalat Tarawih rutin, pengelola masjid juga menyediakan buka puasa gratis untuk sekitar 400 orang. Buka puasa ini diawali dengan pemberian kuliah singkat. Saat Tarawih, materi ceramah disampaikan oleh mubalig terkenal di Ibukota dengan jadwal berbeda tiap hari.
Pada sepuluh malam terakhir, Masjid Al Musyawarah yang luas bangunannnya 1.626 meter persegi juga menggelar kegiatan i'tikaf bagi jamaah yang menghendaki. Pada malam ganjil, di penghujung Ramadhan itu ada ceramah dan shalat malam secara khusus yang digelar hingga pagi menjelang.
Belakangan Masjid Raya Al Musyawarah juga menjadi tempat untuk resepsi pernikahan. ''Dana untuk buka puasa itu murni dari kegiatan operasional masjid plus beberapa donatur,'' kata Imam lagi.
Pos Sehat
Awal Muharam ini, pengelola Masjid membuka lagi satu layanan yang menjadikan masjid ini menjadi sebuah oase yang lengkap. Pos Sehat didirikan untuk memberi pelayanan kepada keluarga miskin secara gratis, terutama masyarakat miskin yang berdomisili di kawasan Kelapa Gading. Kehadiran layanan ini menjadikan Al Musyawarah tak hanya oase bagi orang yang dahaga ilmu agama tapi juga butuh pertolongan.
Pos Sehat ini dibentuk bekerja sama dengan Layanan Kesehatan Cuma-cuma.Untuk awalnya, diharapkan pos ini bisa melayani sekitar 200-250 kepala keluarga. ''Nantinya kami harapkan bisa bertambah,'' kata Imam.
Layanan Pos Sehat tidak terbatas pada lingkup kesehatan yang terdiri dari pemeriksaan, konsultansi, pengobatan dan rujukan saja tapi juga pada promosi kesehatan seperti pembinaan kader sehat, pondok keluarga sehat, penyuluhan kesehatan, pemberian makanan tambahan dan juga pembinaan rohani.
Pos Sehat ini akan dioperasikan menggunakan dana zakat dari Masjid Raya Al Musyawarah. Selain Pos Sehat, dana zakat yang dihimpun di Masjid Raya Al Musyawarah juga disalurkan dalam bentuk beasiswa kepada pelajar dari keluarga miskin.
Bersamaan dengan peluncuran Pos Sehat yang juga bertepatan dengan peringatan tahun baru Islam 1429 Hijriyah ini, Masjid Al Musyawarah juga menggelar aksi sosial berupa donor darah, santunan bagi seratus fakir miskin dan dhuafa di samping tablig akbar yang diisi oleh KH Zakki Mubarak.( tid )
| < Prev | Next > |
|---|






"Setelah seorang keturunan Tionghoa menjadi muslim, maka keadaannya sungguh berlainan. Antara si pribumi (yang umumnya beragama Islam) dan nonpri keturunan Tionghoa yang masuk Islam, terjalin suatu hubungan batin yang luar biasa menakjubkan. Persamaan agama, dalam hal ini Islam, menciptakan hubungan mesra dan mengharukan sebagai saudara seagama. Berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits, arti dan nilai saudara sekandung tidak lebih besar dari saudara seagama. Bahkan, saudara sekandung bisa berbeda agama dengan segala konsekuensinya di akhirat. Sedangkan, saudara seagama sifatnya abadi di dunia maupun di akhirat." Junus Jahja