Tuesday, 02 October 2007 19:44
Sore itu, Ahad, 16 September, suasana alam lereng gunung Senduro begitu cerah. Di lokasi yang terletak di ketinggian lereng gunung, berjarak sekitar 8 km dari gunung Bromo nampak seperti biasa. Di ufuk Barat, tak terlihat rona merah mega senja yang berarak mengiringi mentari. Rona alam Senduro kala itu hanya diselimuti kabut putih. Sejauh mata memandang hanya hamparan putih yang terlihat.Tak ketinggalan, hawa dingin pun menyeruak menusuk kulit, seolah-olah tiga lapis kain pun tak cukup untuk melindungi badan dari sengatanya.
Adzan Magrib segera berkumandang. Beberapa orang tua-muda juga anak-anak nampak mengelilingi meja kecil dan sebuah tikar. Tepat di dekat meja dan tikar itu menyala tungku api. Suasa nampak hangat.
”Bismillahirrahmaanirahiim”, ujar Natoyo (40), warga Desa Argosari, Senduro, Lumajang, segera menyeruput teh panas. ”Alhamdulillah,” ucapnya. Beberapa orang nampak mengikutinya. Suasana jadi riuh dan ramai.
Jangan keliru, ini, adalah suasana Ramadhan pertama bagi warga lereng gunung Senduro. Tepatnya, warga dari tiga desa, yaitu desa Wonocempoko, desa Argosari, dan desa Burno. Di sinilah, pada tanggal 17 Mei 2007 lalu, sebanyak 227 warga mengucapkan dua kalimat syahadat.
Seperti halnya Natoyo, aktivitas selepas maghrib ini merupakan hal baru. Sebelumnya Natoyo bersama 226 rekan lainnya beragama Hindu. Meski makan malam merupakan budaya turun-temurun, namun memulai makam malam sambil menunggu adzan maghrib, apalagi disertai puasa sehari penuh, baru ia lalukan kali ini.
Natoyo tahu, konsekwensi syahadat yang ia ucapkan empat bulan lalu, membuat ia harus melakukan beberapa kewajiban sebagaimana dilakukan kaum Muslim lainnya. Selain berpuasa, ia –juga diikuti warga dari tiga desa lainnya-- bahkan telah memperbaharui pernikahannya yang kini telah dikaruniai tiga putra.
Selain itu, ia bersama warga lain, juga mengganti status mereka yang ada dalam kartu tanda penduduk dan menggantinya dengan kata “Islam”. Tak sekedar itu, mayoritas warga dewasa, bahkan umurnya sudah kakek-kakek, terpaksa melakukan khitan.
Suka dan Duka
Walau baru empat bulan mereka memeluk Islam, animo para muallaf Senduro untuk berpuasa sangat tinggi. Sebagaimana dituturkan Ust. Ali Farkhu, salah satu dai Hidayatullah yang juga pembina muallaf Senduro sudah tujuh puluh persen muallaf berpuasa.
Sikap antusias ini memang sudah nampak jauh hari. Sebelum bulan Ramadhan tiba, selain diajarkan shalat juga mengenal sarat dan rukun Islam, mereka juga diajarkan cara berpuasa. Sebelum ini, mereka tak penah melakukan puasa. Apalagi sampai sebulan penuh.
“Tapi puasa itu asik walau lapar tidak terasa. Tahu-tahu sudah tiba waktu berbuka,” kata Natoyo. Lain lagi bagi Giman (42), dia memilih untuk tidak berpuasa, sebab kalau berpuasa maka dia tidak bisa mencangkul. “Gak kuat. Lha , siapa yang mau memberi makan keluarganya kalau puasa?”, tuturnya beralasan.
Tak sekedar berpuasa semata. Para muallaf baru ini, juga mengikuti Shalat tarawih bersama yang dilaksanakan di Musolah Mubarak. Karena Musolanya terlalu kecil, maka tak mampu menampung jumlah jamaah, sehingga para jamaah harus Shalat di pelataran Musolah dengan beralaskan terpal dan karpet.
Ba’da tarawih biasanya ada tausyiah yang disampaikan oleh para pembina muallaf, materinya tentang dasar-dasar berislam antara lain rukun iman dan Islam.
Sebelum Islam datang, setiap Magrib terdengar suara bacaan doa dari Pura tempat peribadatan agama Hindu setempat. Namun sejak warga Senduro memeluk Islam, kini suara azdhan dan lantunan ayat suci Al-Quran terdengar membahana di lereng gunung nan indah itu. Apalagi di bulan Ramadhan ini, banyak anak-anak Senduro tadarusan setiap malam.
Malam harinya, untuk membangunkan masyarakat guna makan sahur, biasanya jam 2.00 ada pengumuman sahur dari Musolah lewat alat pengeras suara. Dulu, sebelum Islam, bukan hal lumrah jika harus bangun mempersiapkan masakan. Namun, setelah mengenal Islam, ibu-ibu juga harus bangun, memasak dan mempersiapkan makanan untuk sahur keluarganya.
Suasana baru Ramadhan di lereng Senduro tahun ini, ibarat cahaya di tengah-tengah gelapnya malam lereng Gunung Bromo. Senduro berada di kawasan Taman nasional Bromo, Taman Nasional pegunungan dan lembah seluas 50.273,3 Hektar. Bromo mempunyai ketinggian 2.392 meter di atas permukaan laut.
Semangat para muallaf Senduro ini sungguh membanggakan. Namun tak hanya sekedar ucapan membanggakan yang dibutuhkan mereka. Perhatian dan bantuan para aghiniya’ dan perhatian kaum Muslim lainnya. Ibarat benih yang sedang tumbuh subur, mereka harus disiram dan dijaga dari hama. Jika tidak, mereka akan menjadi makanan empuk bagi kristensisasi yang yang sedang gencar-gencarnya membeli akidah mereka dengan sebungkus mie instan.
Hari ini inim mereka bersuka-ria menikmati puasa. Sebentar lagi, mereka juga berharap-harap akan segera merayakan hari kemenangan idul fitri. Namun, akankah kemenangan dan kebahagiaan fitri tersebut bisa dirasakan para keluarga muallaf Senduro di tahun-tahun depan?.
Bantuan dan dukungan dana Anda, akan ikut membantu semangat dan kilau cahaya Islam terus bersinar di Lereng Gunung Senduro. [war/sfi/cha/www.hidayatullah.com]
***
Zakat dan Infaq Anda untuk kelanjutan Dakwah Islam di Lereng Gunung Senduro, bisa disalurkan melalui Baitul Maal Hidayatullah [BMH], Jawa Timur.
Bank Syariah Mandiri Surabaya Utama No. rek. 008 010 8896 atau BCA Surabaya No. rek. 088 382 7004.
Atau kontak person: Ust. Ihya Ulumuddin di 031-71527034, Kantor BMH [031- 5915516] dan Email:
This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
| < Prev | Next > |
|---|






"Setelah seorang keturunan Tionghoa menjadi muslim, maka keadaannya sungguh berlainan. Antara si pribumi (yang umumnya beragama Islam) dan nonpri keturunan Tionghoa yang masuk Islam, terjalin suatu hubungan batin yang luar biasa menakjubkan. Persamaan agama, dalam hal ini Islam, menciptakan hubungan mesra dan mengharukan sebagai saudara seagama. Berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits, arti dan nilai saudara sekandung tidak lebih besar dari saudara seagama. Bahkan, saudara sekandung bisa berbeda agama dengan segala konsekuensinya di akhirat. Sedangkan, saudara seagama sifatnya abadi di dunia maupun di akhirat." Junus Jahja