Wednesday, 27 December 2006 10:53
"Bank Muamalat baru buka cabang di Pangkalpinang tahun ini ternyata produk tabungan Arafah cukup diminati oleh warga yang berkeinginan menunaikan ibadah haji," kata kepala Pemasaran Bank Muamalat Bangka Belitung, Novian Yatrizal, ketika dihubungi Senin (25/12)
Dana tabungan haji nasabah yang tersimpan di bank akan dikelola secara syariah. Hasil pengelolaan dana akan diakumulasikan kedalam tabungan haji. Mungkin saja ONH yang nilainya Rp27 juta, dengan simpanan sebesar Rp24 juta, nasabah sudah bisa berangkat," ujarnya.
Untuk produk tabungan bank muamalat yang paling diminati adalah tabungan Shar-E. Pihaknya sudah memasarkan sebanyak 8.000 buah kartu yang disebar melalui kantor pos dan kantor bank muamalat.
Produk andalan perbankan ini menjadi laris manis, karena menawarkan kemudahan sekaligus kepuasan dalam menabung dan penarikan dana nasabah yang sepenuhnya dikelola berdasarkan prinsip syariah.
Hanya dengan harga kartu perdana Rp125.000 termasuk didalamnya sudah ada saldo sebesar Rp100 ribu, para nasabah sudah bisa melakukan penarikan uangnya di berbagai ATM bersama tanpa dipungut biaya.
Selain itu, dana nasabah yang dikelola berdasarkan prinsip syariah membuat masyarakat tidak khawatir uangnya akan jadi 'subhat' bahkan haram. Sistim syariah ini ternyata mendapat sambutan hangat masyarakat, karena dinilai memiliki kelebihan dibandingkan sistim bank konvensional.
Setiap tahun dana pihak ketiga yang dikelola perbankan di Bangkabelitung mencapai Rp3 trilyun, dari dana sebesar itu yang dikelola perbankan syariah seperti Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS) Bangka dan bank syariah lainnya belum mencapai satu persen. antara/abi
| < Prev | Next > |
|---|






"Setelah seorang keturunan Tionghoa menjadi muslim, maka keadaannya sungguh berlainan. Antara si pribumi (yang umumnya beragama Islam) dan nonpri keturunan Tionghoa yang masuk Islam, terjalin suatu hubungan batin yang luar biasa menakjubkan. Persamaan agama, dalam hal ini Islam, menciptakan hubungan mesra dan mengharukan sebagai saudara seagama. Berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits, arti dan nilai saudara sekandung tidak lebih besar dari saudara seagama. Bahkan, saudara sekandung bisa berbeda agama dengan segala konsekuensinya di akhirat. Sedangkan, saudara seagama sifatnya abadi di dunia maupun di akhirat." Junus Jahja