Saturday, 14 October 2006 04:47
Ketua Dewan Pimpinan Daerah Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (DPD PITI) Makassar, Sulaiman Gozalam, mengatakan selama ini kaum hawa keturunan Tionghoa cenderung minder shalat di masjid. ''Mereka kadang merasa dipelototi orang-orang kalau ke masjid,'' katanya usai bertemu Gubernur Sulsel, HM Amin Syam, di Makassar, kemarin.
Sulaiman yang bernama asli Goh Tjie Kiong, ini, menuturkan, selain sebagai tempat beribadah, masjid tersebut kelak akan difungsikan untuk berbagai kegiatan lain. Antara dan pembinaan mualaf untuk menambah pemahaman keislaman. Juga tempat bimbingan belajar baca tulis Alquran.
Selain itu, tutur Sulaiman, masjid itu juga akan dimanfaatkan untuk sosialisasi. Sosialisasi dibutuhkan karena sampai saat ini jumlah Muslim Tionghoa yang terdaftar di PITI Makassar baru sekitar 100 orang. Padahal, jumlah Muslim Tionghoa di Sulsel diperkirakan tak kurang dari 5.000 orang. Muslim Tionghoa ini kebanyakan berada di daerah Sungguminasa, Gowa dan wilayah Galesong, Takalar, serta Makassar.
''Makanya dengan kehadiran masjid itu diharapkan nanti akan mudah mendata mereka untuk bergabung di PITI,'' ujar Sulaiman. Sulaiman kemarin bertemu Gubernur untuk menyampaikan rencana Musyawarah Wilayah II PITI pada 5 November mendatang, bertempat di Hotel Sahid, Makassar. Gubernur, kata Sulaiman, bersedia menghadiri acara tersebut. Bahkan, tak hanya itu, Pemerintah Provinsi Sulsel juga siap memberikan bantuan moril dan materiil untuk pembangunan masjid.
Rencana pembangunan masjid bagi muslim Tionghoa ini juga mendapat dukungan dari Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), HM Aksa Mahmud. Beberapa waktu lalu, Aksa yang juga salah satu anggota Dewan Penasihat DPP PITI, itu, mengatakan akan mewakafkan sebidang tanah untuk lokasi pembangunan masjid tersebut. Aksa berharap PITI juga bisa terlibat banyak dalam upaya pembauran serta pencairan etnis Tionghoa dan pribumi di kota Makassar.
Sulaiman mengatakan, harapan Aksa tersebut juga menjadi harapan warga PITI. Menurutnya, PITI memang memiliki posisi strategis untuk pembauran etnis Tionghoa dan pribumi yang jumlahnya cukup besar di Makassar. Apalagi, kata dosen Fakultas Ilmu Kelautan Unhas ini, eksistensi PITI juga telah diakui oleh komunitas Tionghoa non-Mmuslim.
Soal arsitektur masjid, Sulaiman mengatakan pihaknya berencana membangun mesjid yang menonjolkan ciri bangunan Tionghoa. ''Harapan kami, minimal ada ciri khas bangunan Tionghoa pada masjid itu. Mungkin mirip-mirip Masjid Lautze di Pasar Baru,'' ujarnya. (Republika/mualaf)
| < Prev | Next > |
|---|






"Setelah seorang keturunan Tionghoa menjadi muslim, maka keadaannya sungguh berlainan. Antara si pribumi (yang umumnya beragama Islam) dan nonpri keturunan Tionghoa yang masuk Islam, terjalin suatu hubungan batin yang luar biasa menakjubkan. Persamaan agama, dalam hal ini Islam, menciptakan hubungan mesra dan mengharukan sebagai saudara seagama. Berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits, arti dan nilai saudara sekandung tidak lebih besar dari saudara seagama. Bahkan, saudara sekandung bisa berbeda agama dengan segala konsekuensinya di akhirat. Sedangkan, saudara seagama sifatnya abadi di dunia maupun di akhirat." Junus Jahja