Friday, 06 October 2006 05:26
Tak lama kemudian suara orang mengaji pun terdengar, mengharu-biru ruangan masjid yang terasakan lebih khidmat nan syahdu. Suara orang-orang ngaji di dalam masjid itu pun seakan menyirnakan pekaknya suara-suara dari luar, yakni suara lalu lintas di Jl Raya Darmo yang amat padat saban hari itu. Mereka yang belajar mengaji (baca tulis Alquran--red) di Masjid Alfalah Surabaya ini rata-rata datang dari kalangan lanjut usia (Lansia). Kalaupun ada yang dari kalangan muda, itu hanya bisa dihitung dengan jari.
''Kami yang belajar mengaji di Masjid Alfalah ini umumnya kalangan orang tua,'' kata Ny Maidah (50 tahun), warga kampung Rangkah, Surabaya. Mereka sedang bergiat mengaji sebagai bekal menuju akhirat. Ny Maidah sendiri mengaku, dirinya selama ini sama sekali tak bisa membaca dan menulis Alquran.
Ia memilih Ramadhan, selain karena bulan penuh berkah juga karena waktunya lebih luang. ''Kalau pagi, kita kan banyak menganggurnya di rumah karena semua di rumah berpuasa. Daripada bengong, mendingan kita mencari ilmu, belajar membaca dan menulis Alquran ini,'' ujar ibu tiga anak dengan tujuh cucu ini.
Niat ini telah sejak muda dipendamnya. Namun, kesibukan dan urusan lain menenggelamkan niatan sucinya tersebut. Sehingga baru di usia senjanya benar-benar konsentrasi belajar membaca dan menulis Alquran. ''Selain menambah pengetahuan agama, juga bisa untuk bekal kelak kalau sudah meninggal. Sebentar lagi kami dipanggil Sang Khalik. Kalau semasih hidup tak mencari bekal akhirat lalu kapan lagi,'' kata perempuan pensiunan karyawan di Pelabuhan Tanjung Perak ini.
Dengan niatan untuk bekal akhirat itulah, tutur Ny Maidah, ia rela di siang hari yang terik dengan berpuasa harus naik turun dan berdesak-desakan naik angkutan menuju Masjid Alfalah. Belajar ngaji untuk bekal akhirat tak hanya menjadi alasan seorang Ny Maidah saja. Hampir semua peserta kaum lansia juga punya alasan serupa. ''Semasa muda kami ini lupa dengan kegiatan-kegiatan agama. Karena itu, masa tua ini kami harus tahu betul agama termasuk membaca dan menulis Alquran,'' kata Suparwan (63 tahun), yang kini tengah belajar tingkat tafsir Alquran karena mudanya sudah mampu membaca dan menulis Alquran.
Mereka yang datang di Masjid Al Falah memang tidak semuanya belajar Alquran dari nol. ''Mereka yang belajar di sini malah ada yang sudah pandai membaca Alquran. Mereka datang ke sini untuk belajar Tafsir, Al Hadits, dan Tarjamah Lafdhiyah Alquran,'' kata Ketua Lembaga Kursus Alquran Masjid Al Falah, Achmad Mujab Said didampingi ustadznya, Zamroni kepada Republika, Senin (2/10).
Permintaan itu, lanjut Zamroni, membuatnya membuka beberapa jenjang kursus. Di antaranya, kelas Baca Tulis Alquran, Tartil Alquran, Seni Baca Alquran, Tafsir Alquran, Shalat dan Hukum Islam (SHI), Tarhamah Lafdhiyah Alquran, Al Hadits, dan Bahasa Arab. ''Untuk semua jenjang ini, kami menyiapkan sekitar 40 ustadz,'' kata Zamroni. Masing-masing membimbing 15 hingga 40 peserta.
Sejatinya, kursus ini tak hanya dibuka dalam Ramadhan tapi juga bulan biasa. Hanya saja menggunakan sistem periodisasi. Setiap jenjang butuh waktu empat bulan. ''Hanya saja, biasanya dalam Ramadhan ini orang banyak berdatangan untuk bergabung belajar membaca dan menulis Alquran di Masjid Alfalah,'' kata Zamroni. Pasti memanfaatkan bulan Ramadhan yang penuh berkah ini. n sunarwoto
| < Prev | Next > |
|---|






"Setelah seorang keturunan Tionghoa menjadi muslim, maka keadaannya sungguh berlainan. Antara si pribumi (yang umumnya beragama Islam) dan nonpri keturunan Tionghoa yang masuk Islam, terjalin suatu hubungan batin yang luar biasa menakjubkan. Persamaan agama, dalam hal ini Islam, menciptakan hubungan mesra dan mengharukan sebagai saudara seagama. Berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits, arti dan nilai saudara sekandung tidak lebih besar dari saudara seagama. Bahkan, saudara sekandung bisa berbeda agama dengan segala konsekuensinya di akhirat. Sedangkan, saudara seagama sifatnya abadi di dunia maupun di akhirat." Junus Jahja