Tak banyak yang memahami kebutuhan mualaf (muallaf), padahal sebagai Muslim baru, mereka membutuhkan teman, tempat berlindung, dan juga pembimbing. Orang-orang yang baru saja hijrah ke dalam Islam, membutuhkan teman dan sahabat yang dapat memberi dukungan moril dan perlindungan dari kecaman keluarga maupun saudara, karena perpindahan agama bukanlah perkara sederhana ! Oleh karena itu, pada kesempatan ini, kami menyediakan waktu untuk berbagi bagi calon mualaf ataupun mualaf, hubungi kami atau sahabat mualaf dengan email myfriend at mualaf dot com atau di milist mualafindonesia@yahoogroups.com

See Videos

Who's Online

We have 49 guests online

Ingin belajar Islam dan mengenal Islam atau ingin menyambung tali silaturahmi dengan para Sahabat Muallaf ? silahkan gunakan media chatting dibawah ini :

Yahoo Mesenger kami:
Steven_widjaja@yahoo.com

Atau untuk akhwat (wanita):
misscantyq@yahoo.com

BBM Konsultasi:
2931719A (steven Indra).

khusus wanita.
22627987 (Merlin / ummu Hanna)
26B44C0B (Dina Fitriani)

Google Talk:
Stevenindra@gmail.com

Windows Live Messenger:
stevenindra@hotmail.com

Twitter:
@stevenindraw

sms ke 0817 910 5900 (steven) Indra Wibowo

 

 

Sahabat Muallaf

Donasi untuk Zakat Infaq dan Sedekah (ZIS) @ Muallaf Center Online with Paypal

Paypal Donation & ZIS

Mutiara

Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa dilanda kesusahan dalam suatu masalah hendaklah dia mengucapkan Laa Haula wa laa quwwata illa bil-laahil 'aliyyil-'azhiim' (Tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah yang maha Tinggi lagi Maha Agung" (H.R Baihaqi dan Ar Rabi'i)

Geliat Muslim Tionghoa di Kota Pahlawan

Print PDF

Ragam & Muhibah - Muhibah

Islam untuk semua, juga untuk etnis Tionghoa. Tidak percaya, datanglah ke Surabaya

Sebuah Artikel dari Sabili tentang PITI & Etnis Tionghoa : Mendengar kata etnis keturunan Tionghoa, hal yang pertama kali terlintas dalam pikiran orang umumnya adalah mereka pasti non-Muslim dan eksklusif. Hanya bergaul dengan kelompok mereka sendiri dan kurang bisa berbaur dengan lingkungan sekitar. Padahal, orang-orang yang biasanya sukses dalam bidang ekonomi ini juga ada yang Muslim dan mempunyai komunitas sendiri.


Komunitas Muslim Tionghoa di Indonesia terkumpul dalam sebuah wadah organisasi bernama Pembina Iman Tauhid Indonesia (PITI). Dulu, PITI adalah singkatan dari Persatuan Islam Tionghoa Indonesia. Pergantian nama dari Persatuan Islam Tionghoa Indonesia menjadi Pembina Iman Tauhid Islam itu terjadi pada masa Orde Baru.

Menurut Sekretaris DPP-PITI, H.S. Willy Pangestu, pergantian nama itu terjadi karena ada ketakutan terhadap hal-hal yang berbau Tionghoa. ”Anda bisa lihat sendiri di kartu nama saya, “ ujar Willy sambil memberikan kartu namanya. Dalam kartu nama tersebut memang tertera nama PITI yang lama yang kemudian diganti dengan yang baru, yakni Pembina Iman Tauhid Islam.

 

PITI merupakan organisasi wadah komunitas Muslim Tionghoa dari seluruh nusantara. Organisasi ini memiliki tujuan mempersatukan kaum Muslimin Tionghoa di Indonesia dalam satu wadah, sehingga lebih berperan dalam proses persatuan bangsa.

illy juga menolak persepsi sebagian orang selama ini yang menganggap bahwa etnis Tionghoa identik dengan non-Muslim. ”Tidak benar kalau etnis Tionghoa identik dengan non-Muslim dan cenderung eksklusif. Itu adalah produk kolonial Belanda yang diteruskan oleh pemerintah RI. Dan paradigma atau stigma itu dibawa terus sampai sekarang,” katanya.

tigma semacam ini merupakan akibat jangka panjang dari penerapan politik devide et impera yang dilakukan Belanda. Akibatnya kalangan non-pribumi menjadi kelompok terpisah dari kalangan pribumi. Hal tersebut dapat dilihat dalam Regeringsreglement tahun 1854, masyarakat Hindia Belanda dibagi dalam tiga golongan besar, yaitu Europeanen (golongan Eropa), Vreemde Oosterlingen (Timur Asing), dan Inlander (pribumi).

elama ini komunitas Muslim Tionghoa tidak pernah mendapat perhatian serius dari pemerintah bahkan cenderung diabaikan. Dari kalangan Islam yang lain juga kurang mendapat perhatian karena terlanjur tertanam stigma bahwa etnis Tionghoa itu eksklusif dan sulit didekati.

ebenarnya, kata Willy, kalau mau didata secara akurat, jumlah Muslim Tionghoa di tanah air ini cukup besar. “Namun, pemerintah sekarang ini kan hasil didikan Belanda. Jadi keberadaan PITI ini sengaja tidak diekspos dan diawasi terus. Apalagi sejak pertama kali didirikan, PITI dipimpin oleh orang militer non-Tionghoa. Jadi secara nasional bisa dikatakan PITI habis, kecuali DPW PITI Yogyakarta dan Jatim. Sebab di kedua tempat ini pimpinannya masih getol untuk terus memperjuangkan PITI,” paparnya.

i Surabaya, komunitas Tionghoa sudah menetap sejak zaman kolonial Belanda. Surabaya merupakan salah satu kota penting di Jawa dan salah satu kota tertua di Indonesia. Di masa kolonial, kota ini berkembang dan menjadi salah satu kota modern. Sebagai salah satu kelompok masyarakat yang datang dan menetap di Surabaya, jumlah orang Tionghoa semakin meningkat. Jika dibandingkan dengan kelompok imigran lain, Arab dan India, masyarakat Tionghoa menempati jumlah terbesar. Hal ini dapat dilihat dari data pada 1920, penduduk Tionghoa di Surabaya berjumlah 18.020 orang, Arab 2.539 orang, dan kelompok etnis Timur Asing lainnya 165 orang.

Menurut data resmi DPW PITI Jatim, jumlah Muslim Tionghoa di Surabaya sekarang sekitar 600-an. Tapi sebenarnya jauh lebih banyak dari itu. Hal ini disebabkan selama 30 tahun etnis Tionghoa jarang berorganisasi sehingga menjadi lemah dalam berorganisasi,” ujar Willy, yang juga merangkap sebagai sekretaris DPW PITI Jatim ini.

ITI sendiri sebagai sebuah organisasi, bisa dikatakan masih berjalan tertatih-tatih. Sejak berdiri pada 1961 hingga sekarang, PITI baru menyelenggarakan muktamar sebanyak tiga kali. Pada Muktamar Nasional III yang dilangsungkan di Surabaya, Desember 2005 yang lalu, HM Trisnoadi Tantiono terpilih sebagai Ketua DPP PITI. Sedang H. Mohammad Gozali menjadi Ketua DPW PITI Jatim. Dalam muktamar yang diselengarakan untuk ketiga kalinya itu, PITI menekankan pada pemantapan konsolidasi organisasi yang solid. Semua itu menjadi penting untuk lebih meningkatkan amal ibadah dengan ikut berperan serta aktif mengisi kemerdekaan Indonesia.

rogram utama PITI diarahkan untuk menyampaikan dakwah Islam, khususnya kepada masyarakat Tionghoa. Caranya dengan melakukan pembinaan dalam bentuk bimbingan menjalankan syariat Islam di lingkungan keluarga yang masih non-Muslim. Kemudian persiapan berbaur dengan umat Islam di lingkungan tempat tinggal dan pekerjaan serta pembelaan dan perlindungan bagi mereka yang karena masuk Islam, namun bermasalah dengan keluarga dan lingkungannya.

ITI juga mengadakan pengajian rutin untuk membina para muallaf. Masih dalam rangka pembinaan, PITI menerbitkan Juz ‘Amma berbahasa Mandarin dan buku tuntunan berjudul “Tuntunan bagi Saudara Baru” yang berisi tata cara shalat dan surat-surat pendek al-Qur’an (Juz ‘Amma). Semuanya ditulis dalam tiga bahasa: Arab, Mandarin dan Indonesia. Buku ini dimaksudkan untuk memberi inspirasi warga etnis Tionghoa agar masuk Islam. Penerbitnya adalah Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo (YHMCH), sebuah yayasan yang didirikan oleh PITI.

ayasan ini berfungsi memayungi aktivitas PITI. YHMCH juga menerbitkan majalah KOMUNITAS serta buku lainnya. Salah satunya adalah buku yang berjudul Prasasti Masjid Laksamana Cheng Hoo yang berisi sejarah hidup Laksamana Muhammad Cheng Hoo. Semua itu menjadi sarana komunikasi dan informasi serta sosialisasi PITI kepada sesama warga Tionghoa. Upaya sosialisasi PITI tersebut setidaknya membuahkan hasil yang cukup memuaskan. Setiap hari Jumat minimal ada satu orang dari etnis Tionghoa yang mengikrarkan dua kalimat syahadat di Masjid Cheng Hoo.

PITI Jatim bertekad membangun jembatan komunikasi dengan warga sekitar yang terlihat dalam ragam kegiatannya. Setiap Jumat PITI Jatim membagikan buku serta alat tulis kepada anak-anak kecil yang berada di sekitar sekretariat PITI. Warga sekitar juga dilibatkan dalam kegiatan sosial lainnya seperti pembagian sembako murah, perayaan Nuzulul Qur’an, perayaan ulang tahun Masjid Cheng Hoo, Gema Ramadhan PITI, donor darah serta pengobatan tradisional akupunktur Tiongkok.

usat aktivitas PITI, selain dilakukan di gedung sekretariat PITI yang beralamat di Jalan Gading No. 2 Surabaya, juga dipusatkan di Masjid Cheng Hoo. Masjid berarsitektur Tiongkok ini mulai dibangun pada 10 Maret 2002 dan selesai 13 Oktober tahun 2002 dengan biaya sebesar Rp 700 juta. Muhammad Cheng Hoo dipilih untuk nama masjid sebagai bentuk penghormatan kepada Laksamana Haji Zheng Hee (Cheng Hoo) atau dikenal dengan nama Ma Zheng He.

agi masyarakat Indonesia, terutama masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia, nama Laksamana Haji Zheng Hee atau Muhammad Cheng Hoo sudah cukup dikenal, sekalipun lebih popular dengan sebutan Sam Poo Kong. Bahkan masyarakat Jawa mengenalnya dengan sebutan Dampo Awang. Ekspedisi Laksamana Muhammad Cheng Hoo (1405-1433 M) yang berkeliling dunia untuk membuka “Jalur Sutera dan Keramik'’, selalu melintasi Indonesia (Nusantara).

asjid ini bernaung di bawah Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo. Sekalipun tidak terlalu luas bahkan relatif sedang untuk ukuran sebuah masjid, daya tarik utama Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia seluas 200 meter persegi dengan kapasitas 200 jamaah ini, terletak pada arsitekturnya. Arsiteknya adalah Ir. Aziz dari Bojonegoro, kemudian dikembangkan oleh Tim Pengawasan dan Pembangunan masjid dari PITI dan Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia. Ustadz Drs. H. Burnadi dipilih menjadi Ketua Takmir Masjid Cheng Hoo.

asjid ini memang dibangun warga keturunan Tionghoa. Tetapi sebagai rumah Allah, masjid ini seperti masjid lainnya terbuka untuk masyarakat secara luas tanpa melihat warna kulit, maupun golongan.  Karena, Islam adalah agama fitrah yang cocok untuk semua. Kartika Pemilia (Surabaya) / Sabili.Co.Id / milist mualafindonesia.

Google
"Setelah seorang keturunan Tionghoa menjadi muslim, maka keadaannya sungguh berlainan. Antara si pribumi (yang umumnya beragama Islam) dan nonpri keturunan Tionghoa yang masuk Islam, terjalin suatu hubungan batin yang luar biasa menakjubkan. Persamaan agama, dalam hal ini Islam, menciptakan hubungan mesra dan mengharukan sebagai saudara seagama. Berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits, arti dan nilai saudara sekandung tidak lebih besar dari saudara seagama. Bahkan, saudara sekandung bisa berbeda agama dengan segala konsekuensinya di akhirat. Sedangkan, saudara seagama sifatnya abadi di dunia maupun di akhirat." Junus Jahja
Konsultasi Muallaf juga bisa dengan mendatangi langsung ke  :
  • Masjid Raya Mekar Indah Jl. Puspita II No. 1, Sektor Mekar Indah, Perumahan Cikarang Baru, Kota Jababeka, Cikarang, Bekasi 17550, Telp.021 8983 2007 (telp masjid) Tp yang mengangkat nanti takmir masjid dan  minta dihubungi/disambungkan ke Masruri Mohammad Asy'ari atau via FB ybs.
  • Mr. Gene Netto via blognya di http://genenetto.blogspot.com/ untuk janjiannya
  • Masjid Agung Sunda Kelapa setiap hari, jadwal dapat dilihat di sini
  • untuk wilayah tangerang bisa menghubungi Masjid Al-Karim, Bintaro dengan bapak Johansyah Reza di 0811 99 44 22
  • untuk wilayah bandung dan sekitarnya dapat menghubungi mualaf center Daarut Tauhid dengan Ibu Ummu Hanna di 0815 73 6666 59
  • untuk wilayah Kota Semarang dan sekitarnya dapat menghubungi Masjid Asy-Syifa di Jalan Pemuda, Rumah Sakit dr. Karyadi, Semarang dengan Ibu Sisian Indraswari di 0813 2500 8364
  • untuk wilayah Surabaya, sampai Gresik dapat menghubungi Bapak Harris di 0813 3031 4137
  • Masjid Al-Hidayah, Gandaria City Lantai. 4, untuk kontak silahkan ke Em Riza 0856 800 8400 atau ke Aisiyah Eiyin 083 8860 6606
Untuk wilayah kota lainnya dapat menghubungi  Steven Indra di 0817 910 5 900