Thursday, 21 April 2005 06:14
Sebagai Tempat Penampungan WNI Keturunan yang Terusir. SIAPA sangka jika Masjid Bela Ar Rachmat di Kelurahan Karangklesem Purwokerto Selatan Purwokerto Jawa Tengah merupakan tempat penting untuk penggodokan mental para mualaf baru yang terusir dan dikucilkan dari lingkungan keluarganya. Mualaf baru yang ditampung di bangunan masjid sederhana itu adalah WNI keturunan yang punya tekad besar untuk memeluk Islam.
Mungkin warga di Purwokerto sendiri tidak mengetahui ada masjid yang dibangun oleh warga Tionghoa pemeluk Islam. Mereka itu tergabung dalam organisasi Pembinaan Imam Tauhid Islam (PITI) Cabang Banyumas. Sebab masjid yang dibangun pada tahun 1993 letaknya agak terpencil, di belakang pemakaman umum kelurahan setempat.
Meski sangat sederhana, tapi masjid yang dibangun di atas tanah 800 meter persegi itu merupakan tempat bersejarah bagi umat Islam umumnya dan khususnya warga PITI. Masjid itu ternyata punya banyak fungsi sosial lain, yakni sebagai tempat penampungan sekaligus "kawah candradimuka" atau tempat penggemblengan untuk membentuk mental islami bagi para mualaf Tionghoa yang terbuang.
"Kerap terjadi warga keturunan tidak rela jika salah satu anggota keluarganya harus berpindah agama. Mereka diusir serta dijauhkan dari lingkungannya. Di masjid inilah mereka meminta perlindungan. Mereka itu bukan hanya warga setempat, tidak sedikit yang datang dari luar daerah," ujar Wakil Ketua PITI Cabang Banyumas R. Yusuf Gunawan Santoso.
Di rumah Allah tersebut, mereka belajar tantang Islam, mulai dari belajar salat, membaca Alquran, mengaji, serta berdiskusi tentang persoalan agama yang diturunkan melalui Nabi Muhammad saw.
PEMBINAAN yang dilakukan PITI tidak tanggung-tanggung. Selain merangkul menjadi anggota organisasi yang dulu di dikenal sebagai Persatuan Islam Tionghoa Indonesia, para mualaf setelah 2-3 bulan digembleng, serta dicarikan pekerjaan agar masa depannya jelas .
"Kan tidak mungkin biaya hidup mereka ditanggung terus oleh PITI. Pekerjaan itu perlu, apalagi bagi pemeluk Islam baru yang terbuang dari lingkungan keluarganya. Harapan kami agar iman mereka tidak mudah goyah. Dengan ekonomi yang kuat, maka akan memperkokoh iman seseorang," kata Gunawan.
Mengapa PITI membangun masjid di tempat tidak lazim, dekat pemakaman di atas jurang?
Menurut pemilik nama asli Khu Ting Ay, tanah wakaf dari Rachmat Suheri yang Ketua PITI seluas 800 meter persegi itu punya sejarah yang panjang. Sekira abad 17 atau 18, tempat tersebut diyakini pernah disinggahi dan tempat salat beberapa Wali Songo ketika melakukan syiar Islam di tanah Jawa. Kenapa tempat itu yang dituju? Karena para wali membutuhkan mata air untuk berwudu. Direncanakan, di tanah sekitar bangunan masjid terdapat tiga mata air yang tak pernah kering.
Menyinggung tentang anggota PITI, Gunawan mengatakan, jumlah anggota PITI cabang Banyumas sekira 500 orang dan diyakini jumlahnya lebih dari itu. Persoalannya, ketika kantor urusan agama (KUA) menikahkan seorang mualaf, hal itu tidak dilaporkan ke PITI sehingga data yang masuk seolah stagnan.
"Padahal laporan dari KUI bagi PITI punya arti yang sangat penting, terkait dengan masalah pembinaan. Sebab mualaf baru wajib dibina. Jika tidak, mereka tidak tahu apa itu agama Islam. Tanpa adanya pembinaan, besar kemungkinan mereka hanya sekedar masuk Islam. Setelah itu selesai," ujar pengusaha mi tersebut.
Padahal PITI sudah berkali- kali menyurati Depag, namun realisasi kerja sama itu tidak penah terwujud. Baru KUA Wangon dan Sumpiuh saja yang menyambut kerja sama PITI dan hal itu patut dihargai, terutama untuk kepentingan umat Islam ke depan. (Eviyanti/"PR" Nov 2004).
| < Prev | Next > |
|---|






"Setelah seorang keturunan Tionghoa menjadi muslim, maka keadaannya sungguh berlainan. Antara si pribumi (yang umumnya beragama Islam) dan nonpri keturunan Tionghoa yang masuk Islam, terjalin suatu hubungan batin yang luar biasa menakjubkan. Persamaan agama, dalam hal ini Islam, menciptakan hubungan mesra dan mengharukan sebagai saudara seagama. Berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits, arti dan nilai saudara sekandung tidak lebih besar dari saudara seagama. Bahkan, saudara sekandung bisa berbeda agama dengan segala konsekuensinya di akhirat. Sedangkan, saudara seagama sifatnya abadi di dunia maupun di akhirat." Junus Jahja