Muhibah
Thursday, 14 April 2011 00:00
REPUBLIKA.CO.ID, TANGSEL—Jika saja teguran itu tidak datang. Mungkin, masa depan pembinaan mualaf bisa jadi terus saja mengambang. Selama ini, sebagian umat Islam yang berada di Jakarta, atau mungkin seluruh Indonesia sangat terbatas mengetahui lokasi pembinaan mualaf terpadu. Kebanyakan Umat Islam mungkin lebih mengenal Masjid Istiqlal atau Masjid Agung Sunda Kelapa yang memiliki program pembinaan mualaf. Namun, saat ditanya apakah umat Islam tahu ada pesantren yang khusus membina para mualaf. Bisa jadi, jawaban miris akan terdengar ditelinga. Itulah fakta yang terjadi.






"Setelah seorang keturunan Tionghoa menjadi muslim, maka keadaannya sungguh berlainan. Antara si pribumi (yang umumnya beragama Islam) dan nonpri keturunan Tionghoa yang masuk Islam, terjalin suatu hubungan batin yang luar biasa menakjubkan. Persamaan agama, dalam hal ini Islam, menciptakan hubungan mesra dan mengharukan sebagai saudara seagama. Berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits, arti dan nilai saudara sekandung tidak lebih besar dari saudara seagama. Bahkan, saudara sekandung bisa berbeda agama dengan segala konsekuensinya di akhirat. Sedangkan, saudara seagama sifatnya abadi di dunia maupun di akhirat." Junus Jahja