Monday, 27 October 2008 09:06
Di balik rasionalitas yang dijunjung tinggi, ternyata Andi termasuk orang yang sangat percaya akan hikmah shalat dan doa. Baginya, shalat dan doa merupakan forum untuk merintih sekaligus meminta pertolongan Allah SWT agar dijaga dari berbagai kemungkinan yang berada di luar kontrolnya. "Mobil saya itu pernah muter-muter di jalanan bersalju di AS, tapi saya selamat dan tidak ditabrak mobil lain, baik dari depan maupun belakang. Ini benar-benar pertolongan Allah," kisahnya.Semasa di perantauan selama delapan tahun di negeri Paman Sam, Andi mengaku banyak memperoleh pengalaman kehidupan yang membuatnya kian dekat dengan Allah SWT. Selama berbulan-bulan, Andi mengaku nyaris kehilangan motivasi untuk menuntaskan desertasi. Semangat belajarnya benar-benar redup sehingga membuatnya kehilangan ide-ide segar. Semua itu sangat berpengaruh terhadap proses penyelesaian desertasi yang seharusnya segera rampung.
Di tengah-tengah kegalauannya merampungkan desertasi, istrinya juga seringkali merengek untuk meminta pulang ke Tanah Air. Semua itu membuatnya kian galau dan pikirannya pun rada-rada kacau. Dalam kondisi yang tak menentu itulah, Andi mengaku makin giat berdoa dan menunaikan shalat. Setiap kali usai shalat, katanya, hatinya merasa tentram dan seolah-olah problema kehidupan yang sebelumnya terasa menumpuk di pundak itu tiba-tiba hilang.
"Saya benar-benar merasakan bahwa pertolongan Allah itu amat diperlukan untuk hal-hal yang di luar kontrol kita. Coba bayangkan, kalau seandainya Anda naik mobil dan sudah jalan pada ruas yang benar, belum tentu tidak terkena musibah. Bisa saja, tiba-tiba ada orang mabuk atau orang gila yang nyelonong begitu saja. Nah, di sinilah saya memohon pertolongan agar dihindarkan dari hal-hal yang di luar kontrol saya," ujarnya.
Sebab, katanya, dalam hidup ini ada hal-hal yang bisa dikontrol dengan sempurna oleh diri, ada juga masalah yang benar-benar berada di luar kontrol kita. Dari konsep itulah, Andi seringkali berdoa agar dirinya diselamatkan dari persoalan-persoalan yang berada di luar kontrol dirinya. Terus terang, katanya, persoalan yang berada di luar kontrol diri itu banyak sekali dan sulit sekali dihitung secara matematis. Oleh karena itu memerlukan campur tangan Allah SWT untuk mengontrolnya.
Mengenai keberhasilannya menemukan hikmah di balik shalat dan doa tersebut, juru bicara istana yang pernah tinggal di Yogyakarta sejak SMU hingga tamat kuliah di UGM itu mengaku telah berproses sejak SMP. Dulu, kenangnya, setiap kali usai menunaikan shalat, hatinya merasa tentram dan tenang. Dari situlah, Andi kian rajin menunaikan shalat, apalagi didukung oleh lingkungan rekan-rekan kuliah yang tergolong taat beragama. Termasuk beberapa rekannya yang nyantri di Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta.mms ( http://republika.co.id/launcher/view/mid/19/news_id/9611 )






"Setelah seorang keturunan Tionghoa menjadi muslim, maka keadaannya sungguh berlainan. Antara si pribumi (yang umumnya beragama Islam) dan nonpri keturunan Tionghoa yang masuk Islam, terjalin suatu hubungan batin yang luar biasa menakjubkan. Persamaan agama, dalam hal ini Islam, menciptakan hubungan mesra dan mengharukan sebagai saudara seagama. Berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits, arti dan nilai saudara sekandung tidak lebih besar dari saudara seagama. Bahkan, saudara sekandung bisa berbeda agama dengan segala konsekuensinya di akhirat. Sedangkan, saudara seagama sifatnya abadi di dunia maupun di akhirat." Junus Jahja