Tak banyak yang memahami kebutuhan mualaf (muallaf), padahal sebagai Muslim baru, mereka membutuhkan teman, tempat berlindung, dan juga pembimbing. Orang-orang yang baru saja hijrah ke dalam Islam, membutuhkan teman dan sahabat yang dapat memberi dukungan moril dan perlindungan dari kecaman keluarga maupun saudara, karena perpindahan agama bukanlah perkara sederhana ! Oleh karena itu, pada kesempatan ini, kami menyediakan waktu untuk berbagi bagi calon mualaf ataupun mualaf, hubungi kami atau sahabat mualaf dengan email myfriend at mualaf dot com atau di milist mualafindonesia@yahoogroups.com

See Videos

Who's Online

We have 36 guests online

Ingin belajar Islam dan mengenal Islam atau ingin menyambung tali silaturahmi dengan para Sahabat Muallaf ? silahkan gunakan media chatting dibawah ini :

Yahoo Mesenger kami:
Steven_widjaja@yahoo.com

Atau untuk akhwat (wanita):
misscantyq@yahoo.com

BBM Konsultasi:
2931719A (steven Indra).

khusus wanita.
22627987 (Merlin / ummu Hanna)
26B44C0B (Dina Fitriani)

Google Talk:
Stevenindra@gmail.com

Windows Live Messenger:
stevenindra@hotmail.com

Twitter:
@stevenindraw

sms ke 0817 910 5900 (steven) Indra Wibowo

 

 

Sahabat Muallaf

Donasi untuk Zakat Infaq dan Sedekah (ZIS) @ Muallaf Center Online with Paypal

Paypal Donation & ZIS

Mutiara

Tidak ada yang pasti terjadi di dunia kecuali kematian. Dan tidak ada yang lebih dekat dari kita kecuali kematian

Kisah Mualaf Timor-Timur yang Berhijrah

Print PDF

Kisah Mualaf - Kisah A to Z

''Islam bagi saya adalah seni hidup,'' kata seorang lelaki asal Timor Timur, Roberto Freitar (32 tahun). Sejak masuk Islam, dia telah mengganti namanya menjadi Hasan Basri, seperti nama mantan ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Saat konflik di bekas provinsi ke-27 itu pecah tahun 1992 lalu, Hasan dan sejumlah rekannya memilih tetap menjadi warga negara Indonesia (WNI). Dia dan 11 rekannya pun hijrah ke Jawa. Di Timor Timur, tanah kelahirannya itu, suasananya tak nyaman lagi. Keputusannya meninggalkan Timor Timur, diibaratkannya seperti hijrahnya Nabi dan para sahabatnya dari Makkah ke Madinah sekitar 1.400 tahun silam. ''Dulu, kami adalah minoritas yang hidup di komunitas Nasrani yang besar,'' katanya.

Hasan bersama warga eks Timor Timur lainnya, kini menempati Kampung Babakan, Desa Gunungmanik, Tanjungsari, Sumedang, Jawa Barat. Di sana, Hasan mendirikan Yayasan Le Morai yang menampung 63 anak yatim piatu dan sembilan kepala keluarga (KK). Saat Republika berkunjung ke 'kampung Timtim' itu, pekan lalu, adzan Dzuhur sedang berkumandang. ''Saya mengambil sikap tidak akan kembali ke Timor Timur selamanya,'' ujar Hasan yang ditemui menjelang shalat Dzuhur.

Sebelum meninggalkan Timor Timur, Hasan mengatakan para kerabatnya mengancam, ''Jangan kau macam-macam. Keluarga kau itu fanatik (Nasrani) semua.'' Tapi, Hasan menegaskan menjadi WNI bukanlah keterpaksaan, melainkan pilihan untuk hidup lebih baik.

Mengenal Islam

Hasan mengenal Islam dari bapak angkatnya yang merupakan seorang tentara yang bertugas di Timor Timur. ''Saya selalu heran dengan bapak angkat saya, kenapa tiap kali saya mengisi air di baknya, air itu selalu cepat habis,'' katanya.

Rupanya, air itu selalu dipakai bapak angkatnya untuk membasuh bagian-bagian tubuhnya. Proses yang kemudian dia kenal sebagai wudlu. Sang bapak angkat, cerita Hasan, adalah seorang Muslim yang taat. Ketertarikannya kepada Islam semakin bertambah ketika dia ikut guru-guru inpres yang berasal dari Gorontalo. Tak lama kemudian, hatinya terketuk untuk memeluk Islam.

Sekitar tahun 1980-an, Hasan dan delapan kawannya memberanikan diri menyeberang ke Makassar. Bukan untuk jalan-jalan, tapi untuk menimba ilmu Islam di sana. Pada 1990, saat konflik memanas, Cabang MUI Timor Timur memintanya kembali ke Dili. Pada 1992, ketika konflik kembali pecah, Hasan dan 12 orang lainnya bertolak lagi dari Timor Timur, menuju tanah Jawa. Sampai dengan 1997, dia masih sering mengunjungi wilayah bekas jajahan Portugis itu. Tapi, setelah itu dia berjanji tak akan kembali lagi.

Tapi, Hasan tak ditakdirkan sendiri. Pada 1998, istri dan sejumlah sanak keluarganya menyusulnya meninggalkan Timor Timur. Jumlah totalnya 270 jiwa. Ada yang ke tempat Hasan, ada yang ke Madura, ada pula yang menjadi transmigran di Palembang.

Mendirikan masjid

Dalam pengembaraannya di tanah Jawa, Hasan membeli sebidang tanah di Sumedang. Bangunan pertama yang dia dirikan di atasnya adalah sebuah masjid. Namanya Masjid Latiful Muhtadin. Arti bebasnya, orang-orang yang mendapat petunjuk yang lembut.

Selain Latiful Muhtadin, Hasan dan para mualaf yang berhijrah itu, juga membangun Masjid Al Hasan. Kini Latiful Muhtadin diperuntukkan bagi akhwat (wanita), sedangkan Al Hasan untuk ikhwan (pria). Masjid-masjid itu digunakan untuk beribadah warga setempat. Doktrin Islam yang mempersaudarakan Muslim dari manapun asal dan rasnya, membuat Hasan dan warga eks-Timor Timur itu cepat membaur dengan warga setempat. ''Alhamdulillah, saat ini semua warga telah hidup berdampingan dengan kami,'' kata Hasan.

Mulanya, keberadaan Hasan dan warga eks Timor Timur sempat dicurigai warga setempat. Tapi, setelah pada 2002/2003 lalu dilakukan pendataan warga eks-Timtim dan nyata bahwa mereka memang WNI, persoalan pun menjadi terang benderang. Warga asli Kampung Babakan, Cece, mengungkapkan sejak 2002, warga setempat menerima Hasan dan warga eks-Timor Timur itu dengan tangan terbuka. Bahkan, kata Cece, Yayasan Le Morai menjadi tempat warga setempat meminta saran dan pendapat.

Saat peringatan Maulid beberapa waktu lalu, warga asli dan pendatang itu juga bahu-membahu menggelar tabligh akbar. ''Ini adalah bentuk syiar Islam yang kami jalankan,'' kata Cece. Selain masjid, Hasan dan para sahabatnya juga mengembangkan pendidikan Islam di Babakan. ''Konsep yang saya kembangkan di sini adalah persatuan, kebersamaan, dan pembentukan pribadi Muslim yang baik,'' kata Hasan.

Ilmu Islam yang pernah ia pelajari selama lima tahun enam bulan di Pesantren Darul Istiqomah, Macupa, Maros, Sulawesi Selatan, kini dia tularkan melalui yayasan yang dipimpinnya. Ada lima pengajar di sana. Yayasan yang mengandalkan 'dana insidental' tersebut, bahkan menjadi tempat membina preman setempat. Mereka tak hanya diajari mengaji, tapi juga bahasa Arab, Inggris, dan konsep surat-menyurat.

Hasan memang bercita-cita mendirikan sebuah pesantren, SMA, dan majelis taklim. Kerja sama telah dia jalin dengan berbagai instansi di Sumedang dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Tinggal menunggu harapan itu terwujud. (riol)
Google
"Setelah seorang keturunan Tionghoa menjadi muslim, maka keadaannya sungguh berlainan. Antara si pribumi (yang umumnya beragama Islam) dan nonpri keturunan Tionghoa yang masuk Islam, terjalin suatu hubungan batin yang luar biasa menakjubkan. Persamaan agama, dalam hal ini Islam, menciptakan hubungan mesra dan mengharukan sebagai saudara seagama. Berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits, arti dan nilai saudara sekandung tidak lebih besar dari saudara seagama. Bahkan, saudara sekandung bisa berbeda agama dengan segala konsekuensinya di akhirat. Sedangkan, saudara seagama sifatnya abadi di dunia maupun di akhirat." Junus Jahja
Konsultasi Muallaf juga bisa dengan mendatangi langsung ke  :
  • Masjid Raya Mekar Indah Jl. Puspita II No. 1, Sektor Mekar Indah, Perumahan Cikarang Baru, Kota Jababeka, Cikarang, Bekasi 17550, Telp.021 8983 2007 (telp masjid) Tp yang mengangkat nanti takmir masjid dan  minta dihubungi/disambungkan ke Masruri Mohammad Asy'ari atau via FB ybs.
  • Mr. Gene Netto via blognya di http://genenetto.blogspot.com/ untuk janjiannya
  • Masjid Agung Sunda Kelapa setiap hari, jadwal dapat dilihat di sini
  • untuk wilayah tangerang bisa menghubungi Masjid Al-Karim, Bintaro dengan bapak Johansyah Reza di 0811 99 44 22
  • untuk wilayah bandung dan sekitarnya dapat menghubungi mualaf center Daarut Tauhid dengan Ibu Ummu Hanna di 0815 73 6666 59
  • untuk wilayah Kota Semarang dan sekitarnya dapat menghubungi Masjid Asy-Syifa di Jalan Pemuda, Rumah Sakit dr. Karyadi, Semarang dengan Ibu Sisian Indraswari di 0813 2500 8364
  • untuk wilayah Surabaya, sampai Gresik dapat menghubungi Bapak Harris di 0813 3031 4137
  • Masjid Al-Hidayah, Gandaria City Lantai. 4, untuk kontak silahkan ke Em Riza 0856 800 8400 atau ke Aisiyah Eiyin 083 8860 6606
Untuk wilayah kota lainnya dapat menghubungi  Steven Indra di 0817 910 5 900