Tak banyak yang memahami kebutuhan mualaf (muallaf), padahal sebagai Muslim baru, mereka membutuhkan teman, tempat berlindung, dan juga pembimbing. Orang-orang yang baru saja hijrah ke dalam Islam, membutuhkan teman dan sahabat yang dapat memberi dukungan moril dan perlindungan dari kecaman keluarga maupun saudara, karena perpindahan agama bukanlah perkara sederhana ! Oleh karena itu, pada kesempatan ini, kami menyediakan waktu untuk berbagi bagi calon mualaf ataupun mualaf, hubungi kami atau sahabat mualaf dengan email myfriend at mualaf dot com atau di milist mualafindonesia@yahoogroups.com

See Videos

Who's Online

We have 36 guests online

Ingin belajar Islam dan mengenal Islam atau ingin menyambung tali silaturahmi dengan para Sahabat Muallaf ? silahkan gunakan media chatting dibawah ini :

Yahoo Mesenger kami:
Steven_widjaja@yahoo.com

Atau untuk akhwat (wanita):
misscantyq@yahoo.com

BBM Konsultasi:
2931719A (steven Indra).

khusus wanita.
22627987 (Merlin / ummu Hanna)
26B44C0B (Dina Fitriani)

Google Talk:
Stevenindra@gmail.com

Windows Live Messenger:
stevenindra@hotmail.com

Twitter:
@stevenindraw

sms ke 0817 910 5900 (steven) Indra Wibowo

 

 

Sahabat Muallaf

Donasi untuk Zakat Infaq dan Sedekah (ZIS) @ Muallaf Center Online with Paypal

Paypal Donation & ZIS

Mutiara

Ketahuilah bahwa sabar, jika dipandang dalam permasalahan seseorang adalah ibarat kepala dari suatu tubuh. Jika kepalanya hilang maka keseluruhan tubuh itu akan membusuk. Sama halnya, jika kesabaran hilang, maka seluruh permasalahan akan rusak. (Khalifah Ali bin Abu Tholib RA.)

Mualaf Tionghoa yang Terbuang dari Keluarga

Print PDF

Kisah Mualaf - Kisah A to Z

Tidak terlintas sedikit pun dalam benak A Meng alias Parlan (28) yang menjadi muslim sejak 2002 akan dikucilkan, bahkan tidak diakui oleh orangtua, sanak keluarga dan oleh lingkungan etnis Tionghoa. Rongrongan demi rongrongan datang dari orang tua dan sanak keluarga ketika dirinya harus memutuskan akan keluar dari kepercayaan sebelumnya. Tetapi dengan keteguhan dan kemantapan yang ia yakini akhirnya dia memutuskan menjadi mualaf.
Meskipun harus "terbuang", terusir dari keluarga besarnya dan lingkungan sekitar yang tidak lagi menganggap A Meng yang dulu lagi, melainkan sosok manusia yang berubah setelah memeluk agama Islam menurut pandangan etnis Tionghoa.

Tetapi hari demi hari ia lewati dengan penuh duka. Berbekal baju "sehelai sepinggang", ia meninggalkan rumah dan sanak keluarga yang berada di Wajok Hilir, Kecamatan Siantan, Kabupaten Pontianak, Kalbar, yang berjarak belasan kilometer dari Ibu Kota Pontianak.

Ketika itu ia masih belum membina rumah tangga, sehingga sempat hidup terlunta-lunta tanpa tahu kemana hendak menjejakkan langkah kakinya untuk menyongsong masa depan.

"Saya waktu itu sempat tidur di sebuah masjid di kawasan Wajok Hilir dalam beberapa minggu, yang terkadang makan satu atau dua kali dalam sehari itu pun atas belas kasihan warga yang prihatin melihat kondisi saya," kata Parlan yang kini sudah mempunyai dua anak buah hati pernikahannya dengan Sumiati (25).

Karena ada warga yang prihatin melihat kondisinya, maka ia ditawarkan bekerja di sebuah perusahaan kayu, PT Liberty, di Wajok Hilir. Setelah mendapat pekerjaan, kondisinya lambat laun mulai membaik.

Hari demi hari ia lalui dengan penuh suka-cita sambil memperdalam agama Islam. Hingga tibalah ujian yang kedua yang ia alami yaitu ketika terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) secara besar-besaran oleh pemilik perusahaan pada tahun 2005.

Ia salah satu dari ratusan karyawan yang terkena PHK, akibatnya Parlan harus banting stir untuk meneruskan hidupnya. Dalam masa sulit itulah ia bertemu dengan Sumiati yang kini menjadi pendamping hidupnya.

"Setelah saya kawin, lantas membuka usaha jual goreng pisang di kawasan Siantan, karena usaha yang ditekuni berjalan lancar, hingga kini saya masih berjualan goreng pisang, dan Alhamdulillah bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari," katanya.

Menurut dia, kisah etnis Tionghoa mualaf seperti yang ia alami, hampir terjadi di kebanyakan warga Tionghoa yang menjadi muslim. Karena itu, pengalaman pahitnya, hendaknya tidak dialami oleh orang lain yang memutuskan akan memeluk agama Islam.


Bagai berlian Kecil Tapi Berharga

Sementara menurut Chau Joe Him alias Amin Andika (43), mualaf Tionghoa hendaknya bisa menjadi berlian. "Walau pun kecil namun berharga di mata kaum muslim dan kalangan Tionghoa non-muslim.

Amin adalah sosok mualaf yang sangat berperan aktif dalam memberikan motivasi kepada para mualaf lain yang hidup dalam kesusahan akibat terbuang dari keluarga dan lingkungan karena berpindah keyakinan.

"Kami mualaf dari Tionghoa minoritas dari minoritas. Tetapi dari jumlah yang sedikit itu saya berharap bisa seperti berlian, biar kecil tetapi berharga di mata kaum muslim itu sendiri serta di kalangan Tionghoa yang non-muslim," kata Amin Andika, yang juga Ketua Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Kalimantan Barat.

Ia menjelaskan, para mualaf Tionghoa harus bisa membuktikan bahwa dengan berpindah keyakinan, bukan berarti putus segalanya. Melainkan lebih mempererat tali silaturahmi antarkeluarga yang tidak mungkin bisa dipisahkan.

Amin Andika lantas mempertanyakan, mengapa jika pindah agama selain Islam, bisa diterima di kalangan keluarga? Tetapi ketika berpindah ke agama Islam, ditolak keras oleh keluarga dan lingkungan. "Bahkan tidak sedikit dari kami yang tidak diakui sebagai anak oleh orangtuanya," kata pria berkulit putih tersebut.

Atas pertimbangan adanya penolakan dari keluarga dan sahabat itulah, PITI dibentuk sejak tahun 1986 di Kalbar. Misinya, tak lain adalah menggalang keutuhan beragama di kalangan mualaf dari Tionghoa yang memang sangat membutuhkan pertolongan dari kaumnya.

"Apalagi 95 persen dari sekitar 14 ribu mualaf dari Tionghoa adalah kalangan kelas sosial masyarakat menengah ke bawah. Ekonomi lemah atau miskin, karena kebanyakan yang masuk Islam diusir dari keluarga tanpa membawa harta benda," katanya.

Menurut pria yang memiliki kegemaran memelihara ikan hias itu, peranan PITI sangat dibutuhkan untuk membimbing para mualaf yang kehidupannya di bawah garis kemiskinan, sehingga mereka bisa memegang teguh pilihan yang telah mereka tentukan untuk masa depannya.

"Kondisi mualaf Tionghoa saat ini masih banyak yang hidup memprihatinkan, kita berharap mereka tidak dikucilkan dari keluarga hanya karena perbedaan aqidah," katanya pria dengan tiga putra itu.

Amin menyatakan, anggota PITI Kalbar saat ini sudah berjumlah 14 ribu umat. Sementara etnis Tionghoa berjumlah sekitar 12 persen dari total penduduk Kalbar yang mencapai 5 juta jiwa.

Ketua PITI yang juga seorang pengusaha ikan hias kelahiran Pontianak, 1964 silam, itu menaruh harapan besar agar teman-temannya, sesama Tonghoa muslim, kini mendapat tempat yang layak di lingkungan keluarga mereka.

Demi meningkatkan taraf kehidupan mualaf Tionghoa, Amin kini juga mempunyai berbagai usaha yang diperuntukkan bagi mualaf Tionghoa yang tergolong tidak mampu.

Bersama seorang istri, Sri Lianti (38) yang setia mendampingi, di usia yang memasuki setengah abad, Amin Andika, menyebarkan agama Islam di kalangan Tionghoa dan keluarga. Bersama tiga buah hatinya, Rihat Andika (17), Malsul Vernanta Andika (15), dan Insarel Andika (12), mereka tinggal di Jl Parit Haji Husin II, Kecamatan Pontianak Selatan.

Ia menceritakan, bagaimana pengalamannya ketika akan berpindah agama, yaitu dengan melakukan pendekatan kepada keluarga dan memberikan pengertian, dengan kepindahannya tidak akan merusak hubungan keluarga yang selama ini sudah terbina

"Saya berharap mualaf Tionghoa bisa diterima di kalangan etnis Tionghoa, sehingga tidak ada perbedaan di antara kita," katanya penuh harap.

Tidak Berbeda

Menanggapi ungkapan para mualaf Tionghoa itu, Ketua Majelis Adat Budaya Tionghoa (MABT) Kalbar, Erick S. Martio mengatakan, perbedaan kepercayaan merupakan kekayaan yang tidak ternilai harganya. Jangan sampai masyarakat memandang perbedaan kepercayaan dalam satu rumah tangga menjadi perpecahan, tetapi jadikanlah sebagai anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa.

Ia mengatakan, pandangan bahwa Tionghoa yang memutuskan memeluk agama Islam harus dikucilkan, suatu pandangan yang salah besar, karena tidak sedikit dijumpai saat ini, Tionghoa yang memeluk agama Islam.

"Bahkan tidak sedikit pengurus MABT yang beragama Islam. Semua agama sama yang penting bagaimana seseorang membawa dan mengamalkannya sehingga berguna bagi diri sendiri dan orang lain," kata Erick.

Sejak MABT didirikan tahun 2004, keanggotaannya memang dari kalangan Tionghoa, tetapi tidak ada batasan agama, siapa saja boleh masuk anggota asal dia dari etnis Tionghoa. "Kita tidak membedakan agama, bahkan MABT membantu salah satu kegiatan sosial PITI dalam memberikan bantuan sembilan bahan pokok bagi masyarakat tidak mampu," katanya.

Ia menyatakan, adalah penilaian yang salah besar kalau banyak orang memandang mualaf dari Tionghoa harus dikucilkan, bahkan agama Islam pertama kali dibawa ke Indonesia oleh Tionghoa.

Sebagai contoh bentuk kepedulian itu, ia wujudkan dengan ikut sertanya dalam kegiatan buka puasa bersama. "Saya tidak terusik dengan bulan Ramadan bagi umat muslim. Malah saya sering mengikuti buka bersama yang diselenggarakan oleh teman-teman mualaf," katanya.

Cerminan toleransi beragama juga sangat terasa di Pontianak saat ini. Sejumlah tokoh Tionghoa membuat acara khusus mengundang rekan, kolega, dan relasi untuk berbuka puasa bersama. Suasana sejumlah tempat makan di Kota Pontianak juga mewujudkan toleransi itu dengan memasang tabir penutup, sehingga tidak menyinggung warga yang sedang berpuasa.

Erick mengajak adanya warna-warni perbedaan itu sebagai kekayaan. Dan jangan melihatnya sebagai perbedaan yang pada akhirnya menjadi perpecahan. "Jadikanlah perbedaan sebagai wujud kebersamaan untuk membangun Kalbar di masa mendatang," katanya. (*) oleh Andilala/antara
Google
"Setelah seorang keturunan Tionghoa menjadi muslim, maka keadaannya sungguh berlainan. Antara si pribumi (yang umumnya beragama Islam) dan nonpri keturunan Tionghoa yang masuk Islam, terjalin suatu hubungan batin yang luar biasa menakjubkan. Persamaan agama, dalam hal ini Islam, menciptakan hubungan mesra dan mengharukan sebagai saudara seagama. Berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits, arti dan nilai saudara sekandung tidak lebih besar dari saudara seagama. Bahkan, saudara sekandung bisa berbeda agama dengan segala konsekuensinya di akhirat. Sedangkan, saudara seagama sifatnya abadi di dunia maupun di akhirat." Junus Jahja
Konsultasi Muallaf juga bisa dengan mendatangi langsung ke  :
  • Masjid Raya Mekar Indah Jl. Puspita II No. 1, Sektor Mekar Indah, Perumahan Cikarang Baru, Kota Jababeka, Cikarang, Bekasi 17550, Telp.021 8983 2007 (telp masjid) Tp yang mengangkat nanti takmir masjid dan  minta dihubungi/disambungkan ke Masruri Mohammad Asy'ari atau via FB ybs.
  • Mr. Gene Netto via blognya di http://genenetto.blogspot.com/ untuk janjiannya
  • Masjid Agung Sunda Kelapa setiap hari, jadwal dapat dilihat di sini
  • untuk wilayah tangerang bisa menghubungi Masjid Al-Karim, Bintaro dengan bapak Johansyah Reza di 0811 99 44 22
  • untuk wilayah bandung dan sekitarnya dapat menghubungi mualaf center Daarut Tauhid dengan Ibu Ummu Hanna di 0815 73 6666 59
  • untuk wilayah Kota Semarang dan sekitarnya dapat menghubungi Masjid Asy-Syifa di Jalan Pemuda, Rumah Sakit dr. Karyadi, Semarang dengan Ibu Sisian Indraswari di 0813 2500 8364
  • untuk wilayah Surabaya, sampai Gresik dapat menghubungi Bapak Harris di 0813 3031 4137
  • Masjid Al-Hidayah, Gandaria City Lantai. 4, untuk kontak silahkan ke Em Riza 0856 800 8400 atau ke Aisiyah Eiyin 083 8860 6606
Untuk wilayah kota lainnya dapat menghubungi  Steven Indra di 0817 910 5 900