Wednesday, 27 September 2006 06:18
Di keluarga saya tidak ada paksaan untuk memilih agama tertentu, karena orang tua saya memberikan kebebasan kepada anak-anaknya untuk memeluk agama yang kami yakini kebenarannya.
Sebelum masuk Islam, saya telah malang-melintang di dunia hitam. Berbagai macam jenis judi pernah saya coba dan jalani. Saat itu, sekali pun saya tidak mengetahui secara mendalam kemudaratan judi.
Namun saya bisa merasakan bahwa pada permainan judi yang ada hanyalah kecurangan, penipuan, dan permusuhan. Sekalipun dalam permainan judi itu ada empat orang yang duduk berhadap-hadapan, yang seolah-olah terjalin dalam suatu persahabatan dan kebersamaan, namun sebenarya dalam hati mereka masing-masing terdapat permusuhan yang mendalam untuk saling menjatuhkan kawan lainnya dan meraup keuntungan sebanyak-banyaknya demikesenangan pribadi sematamata.
Harus saya akui, ketika saya masih beragama Kristen saya tak pernah memperoleh ketenangan jiwa yang selama ini sangat saya dambakan. Sekalipun menang di meja perjudian, namun harta hasil judi itu tidak mampu memuaskan jiwa saya yang gersang. Beranjak dah hal itu, saya pun mulai mencari sesuatu yang bisa menenteramkan hati saya yang sudah mulai berkarat.
Masuk Islam
Sebenarya keinginan untuk masuk Islam sudah ada sejak lama. Bahkan, ketika saya masih duduk di bangku SMP. Namun, saya tak berani mengungkapkannya kepada orang tua. Mungkin penyebabnya karena saya belum dewasa untuk hal-hal semacam itu.
Namun, lambat laun saya merasa sudah waktunya untuk mengutarakan hal itu pada orang tua. Alhamdulillah, mereka tidak keberaran jika saya pindah agama. Hanya saja mereka menanyakan, apakah nanti saya sanggup menjalani aturan yang telah digariskan dalam Islam.
Dengan kesungguhan hati saya pun menyatakan kesanggupan saya. Maka, pada bulan Ramadhan 1417 H (1997) di masjid Hidayatussalam Bancah Laweh, Padang Panjang, dengan disaksikan beberapa jamaah masjid, saya pun mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat. Sejak itu saya pun resmi menjadi seorang muslim.
Ada beberapa hal yang membuat saya tertarik untuk niasuk Islam. Di antaranva, ketika saya mendengar panggilan azan, bulu roma terasa merinding dan seluruh tubuh saya gemetar. Rasanya ada suatu getaran kuat dalam jiwa saya untuk memenuhi panggilan itu.
Saya pun berpikir, mungkinkah getaran seperti itu juga dirasakan oleh seluruh kaum muslimin? Kalau memang benar, alangkah bahagianya orang-orang yang telah hidup dalam ketenangan dan kedamaian yang hanya ada dalam Islam.
Hal lain yang membuat saya tertarik pada Islam adalah silaturahmi. Mereka saling berjabat tangan dan mengucapkan salam ketika bertemu, sehingga tampak sekali persaudaraan yang erat di antara mereka. Islam juga sangat toleran, di Padang Panjang hanya beberapa persen saja yang beragama Kristen. Namun, mereka tidak pernah merasa terganggu.
Ketika saya duduk di bangku SMP, dalam kelas itu mungkin hanya saya sendiri yang beragama Kristen. Kendati demikian, tidak ada sikap diskriminasi yang saga terima. Islam adalah agama yang tidak membeda-bedakan status sosial, agama yang tak berkasta. Semua orang sama di sisi Tuhan. Yang membedakan hanyalah tingkat ketakwaannya.
Di samping itu, keterbukaan sikap dalam Islam juga sangat menarik hati saya. Kiai-kiai, alim ulama, dan para mubalig bersikap objektif. Mereka tidak menganggap diri paling benar. Mereka masih mau menerima kebenaran dari orang lain. Saya berharap, semoga jiwa saya tetap istiqamah dalam Dinul Islam sampai akhir hayat nanti.
oleh Yendri J./Albaz - dari Buku "Saya memilih Islam" Penyusun Abdul Baqir Zein, Penerbit Gema Insani Press website : http://www.gemainsani.co.id/) oleh Mualaf Online Center http://www.mualaf.com
| < Prev | Next > |
|---|






"Setelah seorang keturunan Tionghoa menjadi muslim, maka keadaannya sungguh berlainan. Antara si pribumi (yang umumnya beragama Islam) dan nonpri keturunan Tionghoa yang masuk Islam, terjalin suatu hubungan batin yang luar biasa menakjubkan. Persamaan agama, dalam hal ini Islam, menciptakan hubungan mesra dan mengharukan sebagai saudara seagama. Berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits, arti dan nilai saudara sekandung tidak lebih besar dari saudara seagama. Bahkan, saudara sekandung bisa berbeda agama dengan segala konsekuensinya di akhirat. Sedangkan, saudara seagama sifatnya abadi di dunia maupun di akhirat." Junus Jahja