Tak banyak yang memahami kebutuhan mualaf (muallaf), padahal sebagai Muslim baru, mereka membutuhkan teman, tempat berlindung, dan juga pembimbing. Orang-orang yang baru saja hijrah ke dalam Islam, membutuhkan teman dan sahabat yang dapat memberi dukungan moril dan perlindungan dari kecaman keluarga maupun saudara, karena perpindahan agama bukanlah perkara sederhana ! Oleh karena itu, pada kesempatan ini, kami menyediakan waktu untuk berbagi bagi calon mualaf ataupun mualaf, hubungi kami atau sahabat mualaf dengan email myfriend at mualaf dot com atau di milist mualafindonesia@yahoogroups.com

See Videos

Who's Online

We have 34 guests online

Ingin belajar Islam dan mengenal Islam atau ingin menyambung tali silaturahmi dengan para Sahabat Muallaf ? silahkan gunakan media chatting dibawah ini :

Yahoo Mesenger kami:
Steven_widjaja@yahoo.com

Atau untuk akhwat (wanita):
misscantyq@yahoo.com

BBM Konsultasi:
2931719A (steven Indra).

khusus wanita.
22627987 (Merlin / ummu Hanna)
26B44C0B (Dina Fitriani)

Google Talk:
Stevenindra@gmail.com

Windows Live Messenger:
stevenindra@hotmail.com

Twitter:
@stevenindraw

sms ke 0817 910 5900 (steven) Indra Wibowo

 

 

Sahabat Muallaf

Donasi untuk Zakat Infaq dan Sedekah (ZIS) @ Muallaf Center Online with Paypal

Paypal Donation & ZIS

Mutiara

Ketahuilah bahwa sabar, jika dipandang dalam permasalahan seseorang adalah ibarat kepala dari suatu tubuh. Jika kepalanya hilang maka keseluruhan tubuh itu akan membusuk. Sama halnya, jika kesabaran hilang, maka seluruh permasalahan akan rusak. (Khalifah Ali bin Abu Tholib RA.)

Tjia Liang Goan : Selamat Tinggal Kegelapan

Print PDF

Kisah Mualaf - Kisah A to Z

Saya anak ketiga dari lima bersaudara, lahir tanggal 27 Juni 1970 di Padang Panjang, Sumatra Barat. Orang tua saya WNI keturunan Tionghoa, namun karni sudah lama menetap di kota ini. Karena saya dilahirkan di Padang Panjang, saya tidak mengerti sama sekali bahasa nenek moyang saya. Sewaktu kecil saya diberi nama Tjia Liang Goan, namun kemudian saya ganti menjadi Irwan Suciadi.
Orang tua saya bekerja sebagai pengusaha rumah makan. Jiwa dagang itu turun dan mengalir dalam diri saya, sehingga sampai sekarang saya mengelola rumah makan "Sinar Jaya" di Padang Panjang. Keluarga kami cukup rukun, sekali pun di dalamnya menganut tiga agama. Orang tua saya beragama Budha Konghucu, saudara-saudara says beragama Kristen, sedangkan saya sendiri beragama Islam.

Di keluarga saya tidak ada paksaan untuk memilih agama tertentu, karena orang tua saya memberikan kebebasan kepada anak-anaknya untuk memeluk agama yang kami yakini kebenarannya.

Sebelum masuk Islam, saya telah malang-melintang di dunia hitam. Berbagai macam jenis judi pernah saya coba dan jalani. Saat itu, sekali pun saya tidak mengetahui secara mendalam kemudaratan judi.

Namun saya bisa merasakan bahwa pada permainan judi yang ada hanyalah kecurangan, penipuan, dan permusuhan. Sekalipun dalam permainan judi itu ada empat orang yang duduk berhadap-hadapan, yang seolah-olah terjalin dalam suatu persahabatan dan kebersamaan, namun sebenarya dalam hati mereka masing-masing terdapat permusuhan yang mendalam untuk saling menjatuhkan kawan lainnya dan meraup keuntungan sebanyak-banyaknya demikesenangan pribadi sematamata.

Harus saya akui, ketika saya masih beragama Kristen saya tak pernah memperoleh ketenangan jiwa yang selama ini sangat saya dambakan. Sekalipun menang di meja perjudian, namun harta hasil judi itu tidak mampu memuaskan jiwa saya yang gersang. Beranjak dah hal itu, saya pun mulai mencari sesuatu yang bisa menenteramkan hati saya yang sudah mulai berkarat.

Masuk Islam

Sebenarya keinginan untuk masuk Islam sudah ada sejak lama. Bahkan, ketika saya masih duduk di bangku SMP. Namun, saya tak berani mengungkapkannya kepada orang tua. Mungkin penyebabnya karena saya belum dewasa untuk hal-hal semacam itu.

Namun, lambat laun saya merasa sudah waktunya untuk mengutarakan hal itu pada orang tua. Alhamdulillah, mereka tidak keberaran jika saya pindah agama. Hanya saja mereka menanyakan, apakah nanti saya sanggup menjalani aturan yang telah digariskan dalam Islam.

Dengan kesungguhan hati saya pun menyatakan kesanggupan saya. Maka, pada bulan Ramadhan 1417 H (1997) di masjid Hidayatussalam Bancah Laweh, Padang Panjang, dengan disaksikan beberapa jamaah masjid, saya pun mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat. Sejak itu saya pun resmi menjadi seorang muslim.

Ada beberapa hal yang membuat saya tertarik untuk niasuk Islam. Di antaranva, ketika saya mendengar panggilan azan, bulu roma terasa merinding dan seluruh tubuh saya gemetar. Rasanya ada suatu getaran kuat dalam jiwa saya untuk memenuhi panggilan itu.

Saya pun berpikir, mungkinkah getaran seperti itu juga dirasakan oleh seluruh kaum muslimin? Kalau memang benar, alangkah bahagianya orang-orang yang telah hidup dalam ketenangan dan kedamaian yang hanya ada dalam Islam.

Hal lain yang membuat saya tertarik pada Islam adalah silaturahmi. Mereka saling berjabat tangan dan mengucapkan salam ketika bertemu, sehingga tampak sekali persaudaraan yang erat di antara mereka. Islam juga sangat toleran, di Padang Panjang hanya beberapa persen saja yang beragama Kristen. Namun, mereka tidak pernah merasa terganggu.

Ketika saya duduk di bangku SMP, dalam kelas itu mungkin hanya saya sendiri yang beragama Kristen. Kendati demikian, tidak ada sikap diskriminasi yang saga terima. Islam adalah agama yang tidak membeda-bedakan status sosial, agama yang tak berkasta. Semua orang sama di sisi Tuhan. Yang membedakan hanyalah tingkat ketakwaannya.

Di samping itu, keterbukaan sikap dalam Islam juga sangat menarik hati saya. Kiai-kiai, alim ulama, dan para mubalig bersikap objektif. Mereka tidak menganggap diri paling benar. Mereka masih mau menerima kebenaran dari orang lain. Saya berharap, semoga jiwa saya tetap istiqamah dalam Dinul Islam sampai akhir hayat nanti.

oleh Yendri J./Albaz - dari Buku "Saya memilih Islam" Penyusun Abdul Baqir Zein, Penerbit Gema Insani Press website : http://www.gemainsani.co.id/) oleh Mualaf Online Center http://www.mualaf.com
Google
"Setelah seorang keturunan Tionghoa menjadi muslim, maka keadaannya sungguh berlainan. Antara si pribumi (yang umumnya beragama Islam) dan nonpri keturunan Tionghoa yang masuk Islam, terjalin suatu hubungan batin yang luar biasa menakjubkan. Persamaan agama, dalam hal ini Islam, menciptakan hubungan mesra dan mengharukan sebagai saudara seagama. Berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits, arti dan nilai saudara sekandung tidak lebih besar dari saudara seagama. Bahkan, saudara sekandung bisa berbeda agama dengan segala konsekuensinya di akhirat. Sedangkan, saudara seagama sifatnya abadi di dunia maupun di akhirat." Junus Jahja
Konsultasi Muallaf juga bisa dengan mendatangi langsung ke  :
  • Masjid Raya Mekar Indah Jl. Puspita II No. 1, Sektor Mekar Indah, Perumahan Cikarang Baru, Kota Jababeka, Cikarang, Bekasi 17550, Telp.021 8983 2007 (telp masjid) Tp yang mengangkat nanti takmir masjid dan  minta dihubungi/disambungkan ke Masruri Mohammad Asy'ari atau via FB ybs.
  • Mr. Gene Netto via blognya di http://genenetto.blogspot.com/ untuk janjiannya
  • Masjid Agung Sunda Kelapa setiap hari, jadwal dapat dilihat di sini
  • untuk wilayah tangerang bisa menghubungi Masjid Al-Karim, Bintaro dengan bapak Johansyah Reza di 0811 99 44 22
  • untuk wilayah bandung dan sekitarnya dapat menghubungi mualaf center Daarut Tauhid dengan Ibu Ummu Hanna di 0815 73 6666 59
  • untuk wilayah Kota Semarang dan sekitarnya dapat menghubungi Masjid Asy-Syifa di Jalan Pemuda, Rumah Sakit dr. Karyadi, Semarang dengan Ibu Sisian Indraswari di 0813 2500 8364
  • untuk wilayah Surabaya, sampai Gresik dapat menghubungi Bapak Harris di 0813 3031 4137
  • Masjid Al-Hidayah, Gandaria City Lantai. 4, untuk kontak silahkan ke Em Riza 0856 800 8400 atau ke Aisiyah Eiyin 083 8860 6606
Untuk wilayah kota lainnya dapat menghubungi  Steven Indra di 0817 910 5 900