Tak banyak yang memahami kebutuhan mualaf (muallaf), padahal sebagai Muslim baru, mereka membutuhkan teman, tempat berlindung, dan juga pembimbing. Orang-orang yang baru saja hijrah ke dalam Islam, membutuhkan teman dan sahabat yang dapat memberi dukungan moril dan perlindungan dari kecaman keluarga maupun saudara, karena perpindahan agama bukanlah perkara sederhana ! Oleh karena itu, pada kesempatan ini, kami menyediakan waktu untuk berbagi bagi calon mualaf ataupun mualaf, hubungi kami atau sahabat mualaf dengan email myfriend at mualaf dot com atau di milist mualafindonesia@yahoogroups.com

See Videos

Who's Online

We have 34 guests online

Ingin belajar Islam dan mengenal Islam atau ingin menyambung tali silaturahmi dengan para Sahabat Muallaf ? silahkan gunakan media chatting dibawah ini :

Yahoo Mesenger kami:
Steven_widjaja@yahoo.com

Atau untuk akhwat (wanita):
misscantyq@yahoo.com

BBM Konsultasi:
2931719A (steven Indra).

khusus wanita.
22627987 (Merlin / ummu Hanna)
26B44C0B (Dina Fitriani)

Google Talk:
Stevenindra@gmail.com

Windows Live Messenger:
stevenindra@hotmail.com

Twitter:
@stevenindraw

sms ke 0817 910 5900 (steven) Indra Wibowo

 

 

Sahabat Muallaf

Donasi untuk Zakat Infaq dan Sedekah (ZIS) @ Muallaf Center Online with Paypal

Paypal Donation & ZIS

Mutiara

Ketahuilah bahwa sabar, jika dipandang dalam permasalahan seseorang adalah ibarat kepala dari suatu tubuh. Jika kepalanya hilang maka keseluruhan tubuh itu akan membusuk. Sama halnya, jika kesabaran hilang, maka seluruh permasalahan akan rusak. (Khalifah Ali bin Abu Tholib RA.)

Bambang Budi Rindra Mandala, S.H. : Islam Agama yang Toleran

Print PDF

Kisah Mualaf - Kisah A to Z

Nama saya Bambang Budi Rindra Mandala. Saya lahir dari pasangan RA. Budiono dan RA.P Parindrayana, 10 April 1962. Nama saya itu merupakan perpaduan dani nama kedua orang tua says yang berasal dari Jawa Tengah. Menurut silsilah yang ada, keluarga saya termasuk dalam silsilah keturunan Kerajaan Surakarta (Solo), dari garis silsilah Raden Fatah. Menurut orang tua saya, keluarga kami ini memiliki hubungan sangat erat dengan keluarga Kerajaan Surakarta itu. Walaupun demikian, keluarga saya adalah penganut agama Kristen Katolik, terutama kakek dan nenek.

Karena berasal dari kalangan keluarga Kristen Katolik, saya secara otomatis sejak kecil dididik agama tersebut. Mereka secara ketat menanamkan ajaran-ajaran Katolik kepada saya. Walaupun begitu, mereka tidak keberatan dengan pergaulan saya, mereka membebaskan saya berteman dan bergaul dengan masyarakat lainnya.

Kebetulan, saya tinggal di kawasan dan lingkungan masyarakat Betawi, tepatnya di Kebon Sirih, Kel. Kampung Bali, Kec. Tanah Abang, Jakarta Pusat. Sejak usia kanak-kanak, saya berteman dengan anak-anak Betawi yang beragama Islam. Dalam pergaulan itu, saya sangat terkesan dengan mereka. Karena mereka adalah penganut agama Islam yang taat.

Sebagai teman, mereka tidak pernah memaksa saya untuk mengikuti agama mereka. Mereka toleran dan baik, karena sikap mereka itu, saya merasa lebih dekat dengan masjid daripada gereja. Karena, masjid merupakan tempat kami bermain dan berkumpul. Selain tempat kumpul, masjid juga sebagai tempat mengaji.

Dari pergaulan ini pula, saya terkadang ikut dalam kegiatan keagamaan mereka. Misalnya, bila saat datang bulan suci Ramadhan, saya ikut pula menjalankan ibadah puasa, seperti orang-orang Islam layaknya, walaupun tidak seutuhnya. Saya senang mengikuti tata cara ibadah mereka.

Sesungguhnya, keinginan untuk masuk ke dalam agama Islam, sudah pernah terlintas dalam benak saya saat itu. Tetapi, karena masih kanak-kanak, niat itu saya urungkan. Alasannya, karena masih belum dewasa dan belum bisa memberikan jawaban yang tepat kepada orang tua. Singkatnya, saya belum siap.

Usai menyelesaikan pendidikan menengah atas (SMU/ SMA), saya melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Tahun 1983, saya kuliah di Fakultas Hukum Universitas Kristen Indonesia (UKI). Di kampus ini, saya wajib mengikuti kebaktian. Itu merupakan keharusan bagi mahasiswa Kristen.


Ikuti Latihan beladiri

Di luar kampus, saya juga aktif mengikuti kegiatan seni bela diri. Saya bergabung dalam sebuah perguruan silat dekat rumah saya. Dalam menekuni ilmu silat ini, saya diajari doa-doa dan bacaan-bacaan sebelum melakukan latihan. Bacaan doa-doa ini memang sudah saya kenal sejak kecil, karena pergaulan saya dengan orang-orang Islam waktu kecil. Jadi, saya tidak kaget lagi.

Dari kegiatan bela diri ini, saya semakin mantap untuk mendalami agama Islam. Sebab dalam pencak silat itu terkandung ajaran-ajaran Islam. Karena terus berlatih, saya semakin paham dan dekat dengan agama Islam. Saya semakin tahu apa arti Islam itu sesungguhnya.

Semakin mendalami apa itu agama Islam, saya semakin terdorong untuk memeluk Islam. Keinginan itu semakin kuat. Namun, saya sadar bahwa untuk mewujudkan itu, pasti banyak hambatannya, terutama dari pihak orang tua. Orang tua saya pasti akan mempermasalahkannya. Karen saya adalah cucu pertama dari keluarga besar kami yang sangat fanatik dalam memeluk agama Kristen Katolik.

Akhirnya, keinginan untuk memeluk agama Islam terwujud juga. Tepat pada hari jumat tahun 1983, saya putuskan untuk menjadi pengikut Nabi Muhammad SAW. Pada hari itu, saya mendaftarkan diri pada Remaja Islam Sunda Kelapa (RISKA) untuk segera di Islamkan. Menjelang berbuka puasa, saya mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat.

Di bulan Ramadhan 1983 itu, resmilah saya menjadi seorang muslim, sebagaimana cita-cita saya sejak kecil. Oleh para pengurus Masjid Sunda Kelapa, saya diberi nama Islam, Muhammad Bambang Budi. Tahun itu pula, untuk pertama kalinya, saya merasakan nikmatnya menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan, shalat bersama saudara-saudara seiman di Hari Raya Idul Fitri.

Keislaman saya ini ditentang keras oleh seluruh keluarga. Saya dikucilkan selama satu tahun. Uang kuliah pun ditangguhkan. Semua ini, bagi saya merupakan sebuah cobaan. Dengan itu pula, saya semakin mantap beragama Islam. Saya begitu yakin dengan keputusan saya itu.

Alhamdulillah, dari ketabahan saya itu, hampir seluruh keluarga saya, akhimya mengikuti jejak saya, masuk ke dalam agama Islam, kecuali adik saya yang bungsu. Saya begitu bersyukur kepada Allah SWT atas petunjuk-Nya, keluarga saya mendapat taufik dan hidayah Nya.

Dalam kehidupan ini, saya berusaha menciptakan keluarga kami menjadi keluarga yang sakinah. Saya ingin mengajak keluarga saya menjadi penganut Islam yang taat. Saya ingin menerapkan dan menjalankan kehidupan keluarga berdasarkan tuntunan moral agama. Iman dan Islam saya jadikan landasan utama untuk membina rumah tangga. Alhamdulillah, saya berhasil mendidik anak kami, Dhea Ananda menjadi seorang penyanyi yang kerap membawakan lagu-lagu bernuansa islami.
Google
"Setelah seorang keturunan Tionghoa menjadi muslim, maka keadaannya sungguh berlainan. Antara si pribumi (yang umumnya beragama Islam) dan nonpri keturunan Tionghoa yang masuk Islam, terjalin suatu hubungan batin yang luar biasa menakjubkan. Persamaan agama, dalam hal ini Islam, menciptakan hubungan mesra dan mengharukan sebagai saudara seagama. Berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits, arti dan nilai saudara sekandung tidak lebih besar dari saudara seagama. Bahkan, saudara sekandung bisa berbeda agama dengan segala konsekuensinya di akhirat. Sedangkan, saudara seagama sifatnya abadi di dunia maupun di akhirat." Junus Jahja
Konsultasi Muallaf juga bisa dengan mendatangi langsung ke  :
  • Masjid Raya Mekar Indah Jl. Puspita II No. 1, Sektor Mekar Indah, Perumahan Cikarang Baru, Kota Jababeka, Cikarang, Bekasi 17550, Telp.021 8983 2007 (telp masjid) Tp yang mengangkat nanti takmir masjid dan  minta dihubungi/disambungkan ke Masruri Mohammad Asy'ari atau via FB ybs.
  • Mr. Gene Netto via blognya di http://genenetto.blogspot.com/ untuk janjiannya
  • Masjid Agung Sunda Kelapa setiap hari, jadwal dapat dilihat di sini
  • untuk wilayah tangerang bisa menghubungi Masjid Al-Karim, Bintaro dengan bapak Johansyah Reza di 0811 99 44 22
  • untuk wilayah bandung dan sekitarnya dapat menghubungi mualaf center Daarut Tauhid dengan Ibu Ummu Hanna di 0815 73 6666 59
  • untuk wilayah Kota Semarang dan sekitarnya dapat menghubungi Masjid Asy-Syifa di Jalan Pemuda, Rumah Sakit dr. Karyadi, Semarang dengan Ibu Sisian Indraswari di 0813 2500 8364
  • untuk wilayah Surabaya, sampai Gresik dapat menghubungi Bapak Harris di 0813 3031 4137
  • Masjid Al-Hidayah, Gandaria City Lantai. 4, untuk kontak silahkan ke Em Riza 0856 800 8400 atau ke Aisiyah Eiyin 083 8860 6606
Untuk wilayah kota lainnya dapat menghubungi  Steven Indra di 0817 910 5 900