Kisah Mualaf - Kisah Celebritis
Monday, 24 April 2006 09:08
"Mereka heran, bahkan sampai membego-begokan saya, kenapa tidak beraksi dengan perceraian ini. Ujungnya, saya dituduh mempunyai pria idaman lain."
Wanita bernama lengkap Raden Ayu Pujiati ini mengaku ujian terberat yang sekaligus mengubah hidupnya adalah ketika mengetahui puteri pertamanya, Gizca Putri Sahetapy, memiliki keterbatasan pendengaran. Meski mengaku awalnya sangat berat, namun seiring waktu Dewi mengaku ujian ini membuatnya kuat, belajar menerima segala sesuatunya dengan penuh kesabaran, dan senantiasa positive thingking (berpikir positif).
''Sebagai seorang artis yang dikagumi orang dan dihargai karena suara saya, saya bahkan tidak bisa meninabobokan puteri saya sendiri,'' tutur Dewi. Namun kepedihan tidak membuatnya kecewa atau mundur.
Ia justru melihat hal ini sebagai ujian Allah SWT terhadap keimanannya. ''Saya yakin di balik semua ini, Allah pasti memberikan hikmah yang baik bagi saya. Dan sekarang saya merasakan nikmatnya semua itu,''ungkapnya.
Berbeda dengan kebanyakan orang tua yang memilih menyembunyikan anaknya yang memiliki keterbatasan, Dewi justru sebaliknya. Ia bangkit dan bertekad untuk menjadikan puteri semata wayangnya sebagai pribadi yang mandiri dan tidak minder. Caranya, Gizca kerap diajak serta dalam acara-acara yang harus dihadirinya. Berdua bersama mantan suaminya, Ray Sahetapy, keduanya mendidik Gizca menjadi anak yang mandiri serta percaya diri.
Proses panjang dalam mendidik Gizca, diakui wanita yang lahir di Cirebon ini sebagai pembelajaran yang paling berharga dalam hidupnya. ''Saya tidak pernah menganggap keterbatasan Gizca sebagai musibah, melainkan rezeki dan karunia Allah SWT bagi saya,'' ujarnya.
Kini Gizca sudah dewasa dan tengah merentang masa depannya sendiri. Namun ini tidak membuat Dewi berhenti belajar dari sang puteri. ''Sampai kini Gizca masih membuat saya belajar dengan pribadinya,'' ujar Dewi. Satu hal, seluruh proses yang dijalaninya selama ini, diakui Dewi membuatnya belajar bersabar, pasrah, dan juga selalu bersyukur.
Dewi mengaku Gizca lah yang membentuk sosoknya sehingga seperti saat ini. ''Saya belajar dari dia. Gizca lah sumber inspirasi saya dan saya belajar artinya perjuangan hidup darinya,'' tutur wanita yang mengawali karir aktingnya dalam film Gadis. Film ini pula yang mempertemukannya dengan bapak anak-anaknya.
Berkat kesabaran melatih Gizca ini pula, ia tidak terlalu merasakan bebannya terlalu berat ketika ia akhirnya harus bercerai dengan Ray Sahetapy. ''Meski berat, namun perceraian saya dengan Bang Ray tidak seberat saya ketika melatih Gizca,''ujarnya.
Meskipun berat berpisah dengan pasangan, namun dari kasus Gizca pula Dewi menyadari arti kesabaran dan berpasrah diri. ''Gizca menyadarkan saya bahwa kita tidak selalu mendapatkan apa yang kita inginkan, dan bahwa segala sesuatu yang kita miliki di dunia ini bukanlah milik kita,'' tuturnya.
Akibatnya, ia tidak pernah menjadi terlalu terobsesi dengan segala miliknya. ''Saya tahu semua ini kepunyaan Allah SWT, makanya saya ikhlaskan saja. Mungkin memang sampai disini saja jodoh saya (dengan Ray),'' kata Dewi.
Kebesaran Dewi untuk menerima cobaan ini, tak urung berbuah cobaan lagi. Dewi menuturkan sebagai publik figure, banyak yang menyoroti kehidupannya. ''Mereka heran, bahkan sampai membego-begokan saya, kenapa saya tidak bereaksi dengan perceraian ini. Jadinya saya malah dituduh memiliki pria idaman lain,'' tutur wanita kelahiran 10 Mei 1961 ini.
Padahal, Dewi mengaku, awalnya ia sendiri merasa berat menghadapi perceraian ini. Namun ia meyakini bahwa semua yang ada di dunia ini bisa kapanpun diambil Allah SWT sehingga ia menjadi lebih sabar dalam menghadapi semua hal.
Selain belajar dari sang puteri, ibunda Gizca, Rama, Panji, dan Raya ini mengaku momen perubahan hidupnya juga terjadi saat ia memutuskan menyempurnakan pakaiannya dengan berjilbab di tahun 1999. Menurut Dewi, awalnya ia sama sekali tidak berniat menggunakan jilbab. ''Saat itu tidak ada niatan sama sekali, meski secara keimanan, kurvanya tengah meningkat,'' ujarnya.
Dewi mengaku ibadahnya tengah meningkat dengan rajin sholat malam, dhuha, hajat, dan ibadah lainnya. ''Tapi rasanya ada yang kurang, sampai Bang Ray bilang kenapa pada saat dekat dengan Allah SWT, saya kok malah gelisah,'' ujarnya.
Selain merasa gelisah, Dewi juga mengaku selama dua hari bermimpi bertemu ibundanya yang sudah meninggal. ''Saya mimpi diusung-usung,'' ujarnya. Setelah itu, esok harinya, tanpa diniatkan semula, ia memutuskan memakai jilbab dan terus bertahan hingga kini.
Setelah berjilbab, hatinya yang gelisah tiba-tiba merasa tentram. ''Rasanya seperti disiram air dingin, dan saya langsung tersadar, ini to yang buat saya gelisah,''katanya. Dewi mengaku proses berjilbabnya juga tidak luput dari cobaan. ''Saya mendapat tentangan, terutama dari keluarga yang menganggap artis seperti saya jangan memakai jilbab, nanti job-nya berkurang,''ujarnya.
Meski ditentang dan tawaran manggungnya memang berkurang, namun Dewi tetap bersikukuh dengan jilbabnya. ''Saya percaya rezeki datang dari Allah, dan tidak akan pergi kemana,'' ujarnya. Pada akhirnya, semua proses yang mengiringi kehidupannya membuat Dewi menjadi pribadi yang berbeda. Pribadi yang selalu bersyukur dan senantiasa berpikiran positif terhadap hidupnya. ( uli )
| < Prev | Next > |
|---|






"Setelah seorang keturunan Tionghoa menjadi muslim, maka keadaannya sungguh berlainan. Antara si pribumi (yang umumnya beragama Islam) dan nonpri keturunan Tionghoa yang masuk Islam, terjalin suatu hubungan batin yang luar biasa menakjubkan. Persamaan agama, dalam hal ini Islam, menciptakan hubungan mesra dan mengharukan sebagai saudara seagama. Berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits, arti dan nilai saudara sekandung tidak lebih besar dari saudara seagama. Bahkan, saudara sekandung bisa berbeda agama dengan segala konsekuensinya di akhirat. Sedangkan, saudara seagama sifatnya abadi di dunia maupun di akhirat." Junus Jahja