Tak banyak yang memahami kebutuhan mualaf (muallaf), padahal sebagai Muslim baru, mereka membutuhkan teman, tempat berlindung, dan juga pembimbing. Orang-orang yang baru saja hijrah ke dalam Islam, membutuhkan teman dan sahabat yang dapat memberi dukungan moril dan perlindungan dari kecaman keluarga maupun saudara, karena perpindahan agama bukanlah perkara sederhana ! Oleh karena itu, pada kesempatan ini, kami menyediakan waktu untuk berbagi bagi calon mualaf ataupun mualaf, hubungi kami atau sahabat mualaf dengan email myfriend at mualaf dot com atau di milist mualafindonesia@yahoogroups.com

See Videos

Who's Online

We have 34 guests online

Ingin belajar Islam dan mengenal Islam atau ingin menyambung tali silaturahmi dengan para Sahabat Muallaf ? silahkan gunakan media chatting dibawah ini :

Yahoo Mesenger kami:
Steven_widjaja@yahoo.com

Atau untuk akhwat (wanita):
misscantyq@yahoo.com

BBM Konsultasi:
2931719A (steven Indra).

khusus wanita.
22627987 (Merlin / ummu Hanna)
26B44C0B (Dina Fitriani)

Google Talk:
Stevenindra@gmail.com

Windows Live Messenger:
stevenindra@hotmail.com

Twitter:
@stevenindraw

sms ke 0817 910 5900 (steven) Indra Wibowo

 

 

Sahabat Muallaf

Donasi untuk Zakat Infaq dan Sedekah (ZIS) @ Muallaf Center Online with Paypal

Paypal Donation & ZIS

Mutiara

"Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan (balasan) pinjaman itu untuknya dan dia akan memperoleh pahala yang banyak". [Al-hadid: 11].

Ignatius Vincsar Hadipraba : Bisa Musik membawa kepada Cahaya Islam

Print PDF

Kisah Mualaf - Kisah Celebritis

Musik membawaku ke IslamSEJAK kecil, saya sudah mengenal Islam. Ketika itu, saya sering melihat pembantu kami sedang melakukan shalat. Meskipun saya dan kedua orang tua saya beragama Kristen Katolik, namun kakek saya adalah seorang muslim. Harus saya akui, saat mendengar gema azan dan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an, hati saya terasa damai. Pernah suatu ketika, seorang teman kuliah berkata kepada saya bahwa Tuhan itu satu, la tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Mendengar itu, saya acuh tak acuh saja. Hati saya belum tergerak untuk mencari kebenaran ajaran Islam

Semasa kuliah di Riau, saya aktif di gereja. Pernah, saya mengajukan permohonan kepada seorang pastur, agar saya bisa menjadi pengiring organ gereja. Tapi, apa yang terjadi? Permohonan saya itu ditolak mentah-mentah, bahkan pastur bertanya kepada saya, apakah saya punya sertifikat dari sekolah musik atau tidak? Tujuannya, untuk membuktikan saya bisa bermain organ dengan baik.

Karena memang tidak punya sertifikat, saya hanya menjawab apa adanya bahwa saya bisa bermain organ secara otodidak. Tapi, lagi-lagi, pastur malah berkata kasar, "Bila tidak punya sertifikat, bisa-bisa permainan musikmu malah bikin kacau dan suasana ibadah di gereja menjadi tidak khusyu" Akibat penolakan itu, saya kecewa berat, sekaligus benci kepada pastur itu. Sampai pada akhirya, saya mencari kegiatan lain di luar gereja.

Pada tahun 1996 saya pindah ke Jakarta. Di kota metropolitan inilah saya mendapat pekerjaan di McDonald. Pada akhir 1998, saya kos di gang H. Sairnin, Ciputat. Di lingkungan kos, saya sering nimbrung dengan teman-teman yang beragama Islam. Seorang pemuda bemama Hans adalah salah satu teman terdekat saya. Biasanya, saat kumpul kami selalu diskusi tentang agama. Selain ngobrol, kami berlatih bermain musik di sebuah garasi. Karena sering berlatih, kami membentuk grup musik yang diberi nama "Garasi".

Suatu hari, kami kedatangan H. Sofwan Muzamil, temannya Bang Hans tadi. Saat itu, saya nimbrung saat mereka berdiskusi tentang ajaran Islam. Entah mengapa, saya tiba-tiba mulai tertarik dengan Islam. Karena tertarik, saya berterus terang kepada Pak Haji (panggilan H. Sofwan) bahwa saya ingin masuk Islam.

Mendengar keterusterangan saya itu, Pak Haji malah mengatakan, "Sebelum masuk Islam, kamu harus mempelajari agama Islam lebih dulu. Lagi pula Islam itu bukan agama paksaan."

Beberapa hari kemudian, saya memutuskan untuk bertemu lagi dengan Pak Haji untuk berdiskusi soal Islam. Sebelum berdiskusi, saya memang sudah mempersiapkan diri. Melalui buku-buku agama Islam yang saya baca, ditambah dengan seringnya saya berdiskusi dengan Pak Haji, membuat keinginan saya masuk Islam begitu kuat.

Masuk Islam


Menjelang Lebaran, tepatnya pada 17 Januari 1999, di sebuah mushala di Ciputat, dengan dibimbing oleh H. Sofwan Muzamil, saya mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat. Tanpa sepengatahuan keluarga, saya masuk Islam secara resmi. Nama baptis saya yang semula Ignatius diganti menjadi Ikhsan Nur Ramadhan.

Resmi menjadi muslim, saya menghadapi cobaan yang luar biasa. Saya ditolak habis-habisan oleh keluarga saya. Terutama sekali oleh ibu dan kakak. Ceritanya, begitu kakak saya melihat nama baptis di KIP saya sudah tidak ada lagi, karena telah saya ganti menjadi Ikhsan Nur Ramadhan, ia betul-betul terkejut.

Karena kaget, kakak menginterogasi saya secara kasar. "Mengapa namamu kau ganti?" hardiknya ketus. Dengan tenang saya hanya menjawab ringkas bahwa saya sudah masuk Islam. Sejak itulah, oleh kakak, diri saya dianggap tidak menghargai orang tua lagi. Padahal, tak sedikit pun saya bermaksud untuk menyakiti ibu.

Meski akidah kami kini berbeda, namun saya tetap menaruh hormat kepada mereka. Bukankah ajaran Islam mengajarkan demikian? Apa pun yang terjadi, saya pasrah Saya tetap dengan keislaman saya. Saya pun yakin, Allah akan menolong hamba-Nya. Saya senantiasa berdoa agar Allah meneguhkan pendirian dan kesabaran kepada saya. Setelah masuk Islam, saya bergabung dengan tim nasyid Snada yang namanya lumayan populer bagi pecinta nasyid. (Adhes/Albaz)

(dari Buku "Saya memilih Islam" Penyusun Abdul Baqir Zein, Penerbit Gema Insani Press website : http://www.gemainsani.co.id/) oleh Mualaf Online Center http://www.mualaf.com

Google
"Setelah seorang keturunan Tionghoa menjadi muslim, maka keadaannya sungguh berlainan. Antara si pribumi (yang umumnya beragama Islam) dan nonpri keturunan Tionghoa yang masuk Islam, terjalin suatu hubungan batin yang luar biasa menakjubkan. Persamaan agama, dalam hal ini Islam, menciptakan hubungan mesra dan mengharukan sebagai saudara seagama. Berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits, arti dan nilai saudara sekandung tidak lebih besar dari saudara seagama. Bahkan, saudara sekandung bisa berbeda agama dengan segala konsekuensinya di akhirat. Sedangkan, saudara seagama sifatnya abadi di dunia maupun di akhirat." Junus Jahja
Konsultasi Muallaf juga bisa dengan mendatangi langsung ke  :
  • Masjid Raya Mekar Indah Jl. Puspita II No. 1, Sektor Mekar Indah, Perumahan Cikarang Baru, Kota Jababeka, Cikarang, Bekasi 17550, Telp.021 8983 2007 (telp masjid) Tp yang mengangkat nanti takmir masjid dan  minta dihubungi/disambungkan ke Masruri Mohammad Asy'ari atau via FB ybs.
  • Mr. Gene Netto via blognya di http://genenetto.blogspot.com/ untuk janjiannya
  • Masjid Agung Sunda Kelapa setiap hari, jadwal dapat dilihat di sini
  • untuk wilayah tangerang bisa menghubungi Masjid Al-Karim, Bintaro dengan bapak Johansyah Reza di 0811 99 44 22
  • untuk wilayah bandung dan sekitarnya dapat menghubungi mualaf center Daarut Tauhid dengan Ibu Ummu Hanna di 0815 73 6666 59
  • untuk wilayah Kota Semarang dan sekitarnya dapat menghubungi Masjid Asy-Syifa di Jalan Pemuda, Rumah Sakit dr. Karyadi, Semarang dengan Ibu Sisian Indraswari di 0813 2500 8364
  • untuk wilayah Surabaya, sampai Gresik dapat menghubungi Bapak Harris di 0813 3031 4137
  • Masjid Al-Hidayah, Gandaria City Lantai. 4, untuk kontak silahkan ke Em Riza 0856 800 8400 atau ke Aisiyah Eiyin 083 8860 6606
Untuk wilayah kota lainnya dapat menghubungi  Steven Indra di 0817 910 5 900