Kisah Mualaf - Kisah Celebritis
Tuesday, 20 December 2005 05:14
SEJAK kecil, saya sudah mengenal Islam. Ketika itu, saya sering melihat pembantu kami sedang melakukan shalat. Meskipun saya dan kedua orang tua saya beragama Kristen Katolik, namun kakek saya adalah seorang muslim. Harus saya akui, saat mendengar gema azan dan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an, hati saya terasa damai. Pernah suatu ketika, seorang teman kuliah berkata kepada saya bahwa Tuhan itu satu, la tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Mendengar itu, saya acuh tak acuh saja. Hati saya belum tergerak untuk mencari kebenaran ajaran Islam
Karena memang tidak punya sertifikat, saya hanya menjawab apa adanya bahwa saya bisa bermain organ secara otodidak. Tapi, lagi-lagi, pastur malah berkata kasar, "Bila tidak punya sertifikat, bisa-bisa permainan musikmu malah bikin kacau dan suasana ibadah di gereja menjadi tidak khusyu" Akibat penolakan itu, saya kecewa berat, sekaligus benci kepada pastur itu. Sampai pada akhirya, saya mencari kegiatan lain di luar gereja.
Pada tahun 1996 saya pindah ke Jakarta. Di kota metropolitan inilah saya mendapat pekerjaan di McDonald. Pada akhir 1998, saya kos di gang H. Sairnin, Ciputat. Di lingkungan kos, saya sering nimbrung dengan teman-teman yang beragama Islam. Seorang pemuda bemama Hans adalah salah satu teman terdekat saya. Biasanya, saat kumpul kami selalu diskusi tentang agama. Selain ngobrol, kami berlatih bermain musik di sebuah garasi. Karena sering berlatih, kami membentuk grup musik yang diberi nama "Garasi".
Suatu hari, kami kedatangan H. Sofwan Muzamil, temannya Bang Hans tadi. Saat itu, saya nimbrung saat mereka berdiskusi tentang ajaran Islam. Entah mengapa, saya tiba-tiba mulai tertarik dengan Islam. Karena tertarik, saya berterus terang kepada Pak Haji (panggilan H. Sofwan) bahwa saya ingin masuk Islam.
Mendengar keterusterangan saya itu, Pak Haji malah mengatakan, "Sebelum masuk Islam, kamu harus mempelajari agama Islam lebih dulu. Lagi pula Islam itu bukan agama paksaan."
Beberapa hari kemudian, saya memutuskan untuk bertemu lagi dengan Pak Haji untuk berdiskusi soal Islam. Sebelum berdiskusi, saya memang sudah mempersiapkan diri. Melalui buku-buku agama Islam yang saya baca, ditambah dengan seringnya saya berdiskusi dengan Pak Haji, membuat keinginan saya masuk Islam begitu kuat.
Masuk Islam
Menjelang Lebaran, tepatnya pada 17 Januari 1999, di sebuah mushala di Ciputat, dengan dibimbing oleh H. Sofwan Muzamil, saya mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat. Tanpa sepengatahuan keluarga, saya masuk Islam secara resmi. Nama baptis saya yang semula Ignatius diganti menjadi Ikhsan Nur Ramadhan.
Resmi menjadi muslim, saya menghadapi cobaan yang luar biasa. Saya ditolak habis-habisan oleh keluarga saya. Terutama sekali oleh ibu dan kakak. Ceritanya, begitu kakak saya melihat nama baptis di KIP saya sudah tidak ada lagi, karena telah saya ganti menjadi Ikhsan Nur Ramadhan, ia betul-betul terkejut.Karena kaget, kakak menginterogasi saya secara kasar. "Mengapa namamu kau ganti?" hardiknya ketus. Dengan tenang saya hanya menjawab ringkas bahwa saya sudah masuk Islam. Sejak itulah, oleh kakak, diri saya dianggap tidak menghargai orang tua lagi. Padahal, tak sedikit pun saya bermaksud untuk menyakiti ibu.
Meski akidah kami kini berbeda, namun saya tetap menaruh hormat kepada mereka. Bukankah ajaran Islam mengajarkan demikian? Apa pun yang terjadi, saya pasrah Saya tetap dengan keislaman saya. Saya pun yakin, Allah akan menolong hamba-Nya. Saya senantiasa berdoa agar Allah meneguhkan pendirian dan kesabaran kepada saya. Setelah masuk Islam, saya bergabung dengan tim nasyid Snada yang namanya lumayan populer bagi pecinta nasyid. (Adhes/Albaz)
(dari Buku "Saya memilih Islam" Penyusun Abdul Baqir Zein, Penerbit Gema Insani Press website : http://www.gemainsani.co.id/) oleh Mualaf Online Center http://www.mualaf.com
| < Prev |
|---|






"Setelah seorang keturunan Tionghoa menjadi muslim, maka keadaannya sungguh berlainan. Antara si pribumi (yang umumnya beragama Islam) dan nonpri keturunan Tionghoa yang masuk Islam, terjalin suatu hubungan batin yang luar biasa menakjubkan. Persamaan agama, dalam hal ini Islam, menciptakan hubungan mesra dan mengharukan sebagai saudara seagama. Berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits, arti dan nilai saudara sekandung tidak lebih besar dari saudara seagama. Bahkan, saudara sekandung bisa berbeda agama dengan segala konsekuensinya di akhirat. Sedangkan, saudara seagama sifatnya abadi di dunia maupun di akhirat." Junus Jahja