Islam is not the Enemy - Islamphobia
Friday, 06 October 2006 07:00
''Kami membutuhkan jawaban dari Pemerintah AS atas kebijakan yang mereka lakukan,'' ungkap Nihad Awad, direktur eksekutif Council on American-Islamic Relations (CAIR).
Menurut Awad, sejumlah cendekiawan dan imam yang diundang oleh umat Islam AS tak diberi akses masuk. Namun, hingga kini pemerintah tak memberikan penjelasan atas langkahnya itu. Kasus itu juga menimpa Ismail Mullah.
Mullah yang kelahiran Gujarat, India, kini tinggal di Afrika Selatan. Menurut Awad, dia harus kembali ke negaranya meski telah sampai di Bandara Internasional Dulles. Dengan demikian, Mullah tak jadi memberikan ceramah dan gagal memimpin shalat Tarawih.
''Kami ingin agar semua orang taat hukum. Kami juga ingin menjaga keamanan negara. Namun, pada saat yang sama hal ini mestinya tak dilakukan dengan melanggar hak-hak orang lain. Mestinya AS menjadi negara yang terbuka,'' kata Awad.
Hal lain yang menjadi pertanyaan, kata Awad, adalah pemerintah menunggu dulu para cendekiawan dan imam itu tiba di AS. Namun, kemudian pemerintah menolak atau tidak memberi izin masuk. Bila sebelumnya pemerintah menginformasikan itu maka pihak pengundang dapat segera mencarikan gantinya.
Awad mengakui sejak peristiwa 11 September 2001 Pemerintah AS tak memberikan visa bagi sejumlah cendekiawan Muslim ternama, termasuk dari Arab. Mereka dicurigai memberikan dukungan pada kelompok-kelompok teroris.
Menurut Awad, baru-baru ini cendekiawan Muslim Tariq Ramadhan juga tak diizinkan masuk ke AS. Pemerintah AS menuduh Ramadhan telah memberikan donasi sebesar 600 euro ke sebuah lembaga kemanusiaan resmi di Prancis. Donasi ini sebagai bantuan kemanusiaan untuk Palestina.
Pada 2005 lalu cendekiawan Muslim asal Inggris, Zaki Badawi, juga mengalami hal yang sama. Ia tidak diizinkan masuk ke AS dan tertahan di Bandara John F Kennedy, New York. Dia mestinya memberikan kuliah tentang hukum dan agama di Chautauqua Institution.
Pada akhirnya Pemerintah AS memang meminta maaf dan mencabut larangan masuknya Zaki Badawi ke AS. Zaki kemudian diizinkan datang ke AS kapan pun. Yusuf Islam juga pernah mengalami hal yang sama ketika tak diperbolehkan masuk AS pada September 2004.
Batalnya Ismail Mullah masuk ke AS membuat Islamic Community Center of Nothern Virginia, lembaga pengundang, harus mencari penggantinya. Panitia harus mengubah jadwal dalam jangka waaktu yang sempit. Setelah kebingungan mencari, lembaga ini menggandeng dua remaja lokal yang hafal Alquran.
Dua remaja itu adalah Aman Chhipa (13) dan Uzair Jawed. Chhipa mengatakan setelah ditunjuk sebagai pengganti merasa bingung harus bagaimana mengemban tugas tersebut. ''Saya grogi sebab saya berpikir tak bisa menjalankan tugas itu,'' jelas Jawed seperti dilansir islamonline.com.
Chhipa dan Jawed ini menggantikan tugas Mullah Ismail. Seorang jamaah, Fahad Mirza, mengatakan sangat berbeda tentunya ketika Tarawih dipimpin oleh seorang pemuda dengan cendekiawan ternama. ''Mereka memang hebat, tetapi ini dilakukan karena tak ada pilihan,'' katanya.
Baik Awad maupun Nasir Chhipa yang juga merupakan direktur Islamic Community Center for Nothern Virginia mengakui memang ada hikmah di balik peristiwa ini. ''Dari kejadian ini kita memang harus memiliki cendekiwan yang lahir dari komunitas sendiri,'' ujarnya.
Selain merasa kecewa dengan kebijakan Pemerintah AS, umat Islam di AS juga agak kecewa karena awal Ramadhan tak seragam. Dengan demikian, Idul Fitri juga tak dapat dirayakan pada hari yang sama. Padahal, banyak kalangan Muslim yang ingin hal itu terjadi.
''Saya semula berharap bisa hidup dan melihat pada saat Muslim Amerika mulai menjalankan puasa pada hari yang sama. Kemudian, merayakan Idul Fitri juga pada hari yang sama pula,'' jelas Muhammad Roweida, seorang Muslim yang tinggal di California.
Roweida mengatakan Muslim di AS memang memiliki masalah yang sama setiap Ramadhan tiba. Sejumlah masjid menetapkan hari pertama puasa berbeda dengan sejumlah masjid lainnya. Bahkan, ada yang berbeda dua hari dibandingkan masjid lainnya.
''Saya selalu berharap paling tidak di kota saya tinggal puasa dapat dilakukan pada hari yang sama. Demikian pula dengan perayaan hari raya Idul Fitri,'' kata Roweida.
Sudah lama
Islam sebenarnya telah lama bersentuhan dengan kehidupan AS. Ini terbukti dengan adanya migrasi yang dilakukan orang-orang Syiria Besar, kini yang termasuk di dalamnya adalah Suriah, Yordania, Palestina, dan Libanon. Mereka datang ke AS pada 1875 hingga 1912.
Kemudian, datang gelombang migrasi kedua, yaitu pada akhir Perang Dunia I atau setelah runtuhnya Dinasti Usmaniyah. Gelombang ketiga datang sepanjang 1930-an. Gelombang keempat muncul pada 1947-1960 dalam jumlah besar. Mereka tak hanya dari Timur Tengah, tapi juga dari India, Pakistan, Albania, Yugoslavia, dan Uni Soviet.
Gelombang terakhir terjadi setelah 1965 atau bertepatan setelah AS menghapus sistem kuota bagi pendatang. Mereka datang dari negeri-negeri yang dilanda konflik, termasuk Irak, Afghanistan, dan Bosnia. Meski demikian, umat Islam di AS merupakan minoritas, sekitar enam jutaan jiwa. Secara persentase umat Islam di AS berada pada urutan kedua setelah umat Kristen, menggeser kaum Yahudi.
Adapun komposisi umat Islam di Amerika secara etnis adalah 45 persen Afro-Amerika, 26 persen dari Asia Selatan (India, Pakistan, Bangladesh, Afghanistan), 10 persen Arab, 1,8 persen kulit putih, dua persen Turki, tiga persen Iran, 2,2 persen Asia Tenggara (Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina), enam persen Afrika, dan empat persen dari etnis lain.
| < Prev | Next > |
|---|






"Setelah seorang keturunan Tionghoa menjadi muslim, maka keadaannya sungguh berlainan. Antara si pribumi (yang umumnya beragama Islam) dan nonpri keturunan Tionghoa yang masuk Islam, terjalin suatu hubungan batin yang luar biasa menakjubkan. Persamaan agama, dalam hal ini Islam, menciptakan hubungan mesra dan mengharukan sebagai saudara seagama. Berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits, arti dan nilai saudara sekandung tidak lebih besar dari saudara seagama. Bahkan, saudara sekandung bisa berbeda agama dengan segala konsekuensinya di akhirat. Sedangkan, saudara seagama sifatnya abadi di dunia maupun di akhirat." Junus Jahja