Islam is not the Enemy - Islamphobia
Tuesday, 19 September 2006 09:00
Dalam peringatan 5 tahun tragedi WTC, terdengar pidato yang sungguh menyakitkan buat kalangan Muslim. Saat berpidato di Distrik Shasta County, Sacramento, AS, seorang anggota militer AS, Mayor Ken Murray, menyerang Muslim Syiah secara sangat vulgar. Dia katakan bahwa Muslim Syiah ditugasi oleh agamanya untuk berbohong, curang, mencuri, dan membunuh mereka yang tidak beribadah kepada Allah SWT.
Situs berita berbasis di Turki, Zaman, mengungkapkan pencitraan buruk terhadap Islam berkembang sangat pesat setelah peristiwa WTC. Bahkan, saat ini sudah sampai pada tingkat yang membahayakan. Perusahaan riset, Gallup, pernah membuat jajak pendapat yang hasilnya menunjukkan bahwa 39 persen warga AS berharap agar Muslim di negara tersebut wajib mengenakan identitas khusus.
Situs tersebut juga menceritakan setelah peristiwa WTC, seorang warga AS bernama Ahmad Faruk, diusir dari pesawat karena dia ketahuan berdoa secara Islam, menjelang perjalanannya. Dalam kesempatan lain, dua penumpang pesawat maskapai Monarch Airlines yang berpenampilan Timur Tengah tidak diizinkan boarding saat hendak terbang dari Spanyol ke Inggris. Penampilan tersebut membuat penumpang yang lain menganggap mereka teroris, dan berbahaya untuk terbang bersama mereka.
Investigasi yang pernah dijalankan Washington Post pada Maret 2006 menunjukkan bahwa hampir 50 persen warga AS mencitrakan Islam dan Muslim secara negatif. Direktur Institute on Religion and Public Policy, Joseph Grieboski, risau dengan fenomena tersebut. Dia mengungkapkan sebenarnya umat Islam di AS telah menunjukkan dengan baik perjuangan mereka melawan tindak kriminal yang berbau kebencian terhadap Islam. "Sayang, media tidak sedikit pun membantu untuk membangkitkan nilai positif Islam di Amerika," ujarnya.
Islam tetaplah dicitrakan sebagai agama yang menakutkan. Survei yang dibuat YouGov yang dimuat harian Inggris, The Daily Telegraph, menunjukkan hasil yang memprihatinkan. Sebanyak 53 persen warga Inggris percaya Islam merupakan ancaman bagi dunia Barat. Karena itu, mereka setuju agar polisi lebih fokus memerhatikan komunitas Muslim dalam upaya mencegah aksi terorisme.
Laporan European Monitoring Centre on Racism and Xenophobia yang dikutip Zaman mengungkapkan setelah peristiwa WTC, angka pengangguran kalangan imigran Muslim di Eropa naik dua kali lipat. Kebanyakan mereka, berdasar laporan lembaga tersebut, juga dipersulit saat hendak menyewa rumah. Kondisi lingkungan yang punya persepsi keliru juga membuat pelajar yang berasal dari kalangan imigran Muslim, dipersulit masuk sekolah.
Saat ini, sekitar 11 juta Muslim tinggal di Eropa. Sebagian mereka terus menjadi korban penghinaan yang dipicu pencitraan buruk terhadap Islam. Media Barat memiliki peran yang sangat penting dalam membuat pencitraan buruk ini. Mereka sama sekali tidak ragu untuk menggunakan istilah-istilah semisal 'teroris Islam, gerilyawan Muslim', dan 'kelompok radikal Islam'.
Menyadari adanya ancaman Barat bagi citra Islam, Sekjen Organisasi Konferensi Islam (OKI), Ekmeleddin Ihsanoglu, dalam konferensi di Jeddah pun menyeru para konglomerat Muslim untuk berinvestasi di bisnis media. Konferensi ketujuh tingkat menteri informasi ini dihadiri lebih dari 40 menteri penerangan negara-negara anggota OKI. Seperti dilaporkan kantor berita Malaysia, Bernama, dia sebutkan dunia Islam terus-terusan menjadi 'target' pencitraan media-media Barat.
"Umumnya media di dunia menggunakan kemajuan, pengaruh, dan perkembangan komunikasi untuk memburamkan Islam dan Muslimin," ungkap dia. Ihsanoglu mengatakan bahwa kampanye berkelanjutan media Barat mengandung kecurigaan dan melabeli Muslim dengan istilah teroris, fasis, doktrin kebencian, dan sebagainya.
Beberapa pusat kegiatan Muslim di AS juga terus mengubah diri supaya lebih terbuka bagi kalangan yang memiliki citra buruk terhadap Islam. Imam di pusat Islam New York, Syamsi Ali, mengungkapkan bahwa setelah peristiwa WTC, para aktivis Muslim di AS menjadi lebih friendly dibanding sebelumnya.
"Sebelum peristiwa WTC, sangatlah sulit untuk mengundang pemimpin agama lain datang ke masjid," ungkap dia. Namun setelah peristiwa tersebut, situasinya berubah. Umat Islam di AS telah beberapa kali mengundang pemimpin agama lain untuk berdiskusi, seminar, dan semacamnya. Bahkan, seperti dilaporkan situs BBC umat Islam di New York secara reguler menggelar pertemuan lintas agama. Akankah langkah-langkah tersebut mampu mengungguli kampanye pencitraan negatif terhadap Islam yang diagendakan media Barat? (Republika)
| < Prev | Next > |
|---|






"Setelah seorang keturunan Tionghoa menjadi muslim, maka keadaannya sungguh berlainan. Antara si pribumi (yang umumnya beragama Islam) dan nonpri keturunan Tionghoa yang masuk Islam, terjalin suatu hubungan batin yang luar biasa menakjubkan. Persamaan agama, dalam hal ini Islam, menciptakan hubungan mesra dan mengharukan sebagai saudara seagama. Berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits, arti dan nilai saudara sekandung tidak lebih besar dari saudara seagama. Bahkan, saudara sekandung bisa berbeda agama dengan segala konsekuensinya di akhirat. Sedangkan, saudara seagama sifatnya abadi di dunia maupun di akhirat." Junus Jahja