Islam is not the Enemy - Islamphobia
Friday, 21 April 2006 18:47
Kenyataan ini harus dihadapi komunitas Muslim Yunani. Dengan jumlah penganut yang mencapai 370 ribu jiwa atau 3,5 persen dari total populasi, hingga kini mereka kesulitan untuk memiliki tempat ibadah yang layak digunakan. Sampai saat ini, pemerintah Yunani belum mengizinkan umat Islam memiliki tempat ibadah mereka sendiri.
Belum jelas alasan pemerintah Yunani tidak mengabulkan harapan masyarakatnya yang beragama Islam untuk memiliki masjid yang layak digunakan. Sejauh ini pemerintah di negara yang memiliki luas 81,935 meter persegi ini belum memberikan pernyataan. Mereka menyatakan hingga kini belum ada keputusan resmi terhadap persoalan ini.
Awal Maret lalu, perdebatan ini mencuat lagi ke permukaan hanya satu hari sebelum Dewan Eropa memberikan laporannya. Pasalnya, dalam laporan tersebut, Ketua Dewan Komisi Hak Asasi Manusia Eropa, Alvaro Robles Gil menyatakan hingga saat ini, komunitas Muslim Yunani yang berjumlah 370 ribu jiwa -- di luar Muslim Thrace -- belum memiliki tempat ibadah yang layak. Akibatnya, Muslim Yunani terpaksa melakukan ibadah mereka di tempat-tempat tersembunyi yang bahkan tidak layak di jadikan tempat ibadah.
Alvaro juga menyoroti janji pemerintah Yunani yang menyatakan akan mendirikan masjid di distrik Peania, Athena, sebelum penyelenggaraan olimpiade Athena tahun 2004 lalu. Namun hingga kini, pemerintah Yunani belum menepati janji itu.
Asal tahu saja, satu-satunya masjid layak yang dimiliki umat islam Yunani adalah sebuah masjid di kota Thrace. Kota ini terletak di barat laut Yunani dan berbatasan dengan Turki. Thrace menjadi rumah bagi 120 ribu Muslim taat yang berasal dari Turki.
Sebuah bangunan di distrik Monastiraki, Athena, dialihfungsikan sebagai masjid. Namun belakangan, bangunan ini digunakan sebagai museum seni mengingat distrik ini merupakan salah satu daerah tujuan pariwisata Yunani.
Rencana yang menuai pro kontra
Laporan Dewan Komisi Hak Asasi Manusia Eropa itu lumayan bertaring. Awal Maret lalu, anggota legislatif Yunani membicarakan topik apakah mereka akan mengembalikan kembali fungsi masjid di distrik ini.
Menurut surat kabar pro-oposisi, Ta Nea, daripada membangun masjid baru yang membutuhkan waktu dua sampai tiga tahun, lebih baik menggunakan gedung di Monastiraki yang sudah siap digunakan.
Dari parlemen, perdebatan ini kemudian meluas hingga ke masyarakat, terutama setelah diangkat media massa Yunani. Mereka terbagi antara kelompok yang pro dan kontra. Menurut mereka yang pro, pengembalian fungsi masjid, langkah ini akan menjadi wujud toleransi. ''Mengembalikan fungsi masjid yang terletak di Acropolis dan berdekatan dengan gereja, akan menjadi bukti tingginya toleransi di antara kita,'' ujar Marios Begzos, seorang profesor filsafat agama di Universitas Athena.
''Saya tidak memiliki keberatan sedikitpun dengan keberadaan masjid di distrik Monastiraki selama mereka (Muslim) memberikan kunci Haghia Sophia kepada Dewan Gereja Ortodoks,'' ujar MP Stelios Papathemelis yang mewakili pihak konservatif. Pernyataan Papathemelis ini dilontarkan mengacu pada keberadaan gereja di kota Byzantine yang kemudian diubah menjadi masjid pada masa pemerintahan Turki di kota ini pada tahun 1453.
Sementara itu, pihak Gereja Kristen Ortodoks Yunani yang paling berpengaruh di negara itupun enggan membuat pernyataan resmi terhadap persoalan ini. Mereka belum memberikan komentas meski pada Desember lalu, pemimpin gereja tersebut, Arcbishop Christodoulos menyatakan dukungannya terhadap pendiriaan masjid di kawasan Athena. Namun sejauh ini belum ada tindak lanjut untuk merespons dukungan ini.
Mimpi yang sulit terwujud
Namun agaknya impian umat Islam Yunani masih sulit terwujud. Pasalnya, media massa Yunani menyatakan ketidaksetujuannya dengan rencana tersebut. Untuk memperkuat klaimnya, mereka menayangkan wawancara dengan sejumlah pemilik toko di distrik Monastiraki yang menyatakan ketidaksetujuannya. Mereka mengkhawatirkan keberadaan masjid di lokasi tujuan turis bisa merusak karakter distrik tersebut.
Terlepas dari pro-kontra itu, agaknya pemerintah Yunani masih dibayangi kekhawatiran dengan keberadaan masjid di negara mereka. Hal ini terlihat dari pernyataan Wakil Menteri Pendidikan Yunani, George Kalos. ''Adalah keinginan kami untuk membangun masjid, namun kami mengharapkan hal ini jangan sampai menimbulkan pertentangan atau fanastisme berlebihan,'' ujarnya di hadapan parlemen.
Hal ini kemudian memicu protes dari banyak pihak, termasuk dari kelompok liberal independen Yunani. Deputi kelompok ini, Stefano Manos, melontarkan protes atas sikap pemerintah Yunani yang tidak segera mengambil keputusan. Ia menyayangkan sikap pemerintah yang hanya mendengarkan pandangan dari pihak gereja orthodoks tanpa menanyakan komentar komunitas Muslim negerinya.
''Sejauh ini, tidak ada siapapun yang bertanya kepada kami,''ujar Imam komunitas Muslim Sudan, Monir Abdeltrassou. Namun Monir menyatakan pengembalian fungsi masjid di distrik Monastiraki tidak akan menyelesaikan masalah. Ia menilai hal tersebut hanya menjadi solusi sementara mengingat daya tampung bangunan ini yang kecil.
Menurutnya, seharusnya niatan ini ditujukan untuk mewujudkan perdamaian. Seperti yang dilakukan Arab Saudi yang telah bertahun-tahun melobi pemerintah Yunani agar bersedia mendirikan masjid di negara tersebut.( uli/middleeastonline )
Muslim Thrace, Muslim Pribumi Yunani
Yunani merupakan salah satu negara Eropa yang didominasi umat Kristen Ortodoks Yunani. Angka pemeluk agama ini mencapai angka 97 persen dari total penduduk 1,9 juta jiwa. Komunitas terbesar kedua setelah pemeluk agama ini adalah komunitas Muslim yang berjumlah 370 ribu jiwa atau 3,5 persen dari seluruh poplasi. Komunitas Muslim Yunani, sebagian besar merupakan pendatang asal berbagai negara di seluruh dunia, utamanya kawasan Balkan. Meski begitu, ada pula komunitas Muslim pribumi Yunani yang menetap di kota Thrace yang berbatasan dengan Turki, yang jumlahnya diperkirakan mencapai 120 ribu jiwa.
Meski merupakan komunitas pribumi, namun Muslim Yunani tidak berasal dari rumpun yang sama. Tetap saja, komunitas ini terdiri atas kelompok etnis dengan bahasa dan latar belakang sosial yang berbeda yang seringkali tumpang tindih. Namun berdasarkan Traktat Lausanne 1923, keseluruhan kelompok yang heterogen ini dianggap menjadi satu dalam sebutan kelompok minoritas muslim Yunani.
Hampir sebagian besar Muslim pribumi Yunani menyatakan diri mereka sebagai bagian etnis Turki. Hal ini terkait dengan zaman kekekuasan Dinasti Ottoman. Sebagian dari masyarakat di dinasti ini, khususnya yang Muslim, kemudian menetap di kawasan barat Thrace.
Selain komunitas Muslim pribumi, komunitas Muslim Yunani juga banyak didominasi kaum imigran. Imigran Muslim pertama kali datang ke Yunani pada tahun 1970. Mereka adalah kelompok Muslim asal Timur Tengah, khususnya Palestina. Mereka terkonsentrasi di dua kota, yaitu Athena dan Thessalonika.
Namun sejak awal tahun 1990, jumlah imigran Muslim semakin banyak saja, terutama setelah Yunani dijadikan salah satu negara tujuan kaum imigran dunia. Pada periode tersebut, imigran Muslim Yunani bertambah pesat, yang 50 persennya didominasi Muslim asal Balkan, khususnya dari Albania. Imigran lain datang dari kawasan Timur Tengah seperti Pakistan, India, Irak, Mesir, Palestina, dan Bangladesh. Diperkirakan, komunitas jumlah imigran Muslim di Yunani mencapai angka 150 ribu jiwa dari total 700 ribu imigran. ( ahm/berbagai sumber )
| < Prev | Next > |
|---|






"Setelah seorang keturunan Tionghoa menjadi muslim, maka keadaannya sungguh berlainan. Antara si pribumi (yang umumnya beragama Islam) dan nonpri keturunan Tionghoa yang masuk Islam, terjalin suatu hubungan batin yang luar biasa menakjubkan. Persamaan agama, dalam hal ini Islam, menciptakan hubungan mesra dan mengharukan sebagai saudara seagama. Berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits, arti dan nilai saudara sekandung tidak lebih besar dari saudara seagama. Bahkan, saudara sekandung bisa berbeda agama dengan segala konsekuensinya di akhirat. Sedangkan, saudara seagama sifatnya abadi di dunia maupun di akhirat." Junus Jahja