Islam is not the Enemy - Dunia Islam
Wednesday, 21 October 2009 19:11
Seperti dilaporkan situs Gulf News, alasan mereka memilih masuk Islam itu sangat beragam. Sebagian masuk Islam karena menikah dengan orang Islam, dan sebagian lainnya jadi mualaf setelah membaca buku-buku Islam, dan pergaulan.
Seorang ekspatriat asal Rusia, Aisha, (51 tahun) mengungkapkan, dirinya masuk Islam setelah membaca buku-buku tentang Islam di Qatar. Sebelumnya, dia menjadi pemeluk agama Kristen. Sedangkan Sally, warga Lebanon, mengaku masuk Islam karena pernikahan. Sedangkan Goerge yang kini berubah nama menjadi Abdullah, mengaku memeluk Islam setelah mendapat penjelasan dari rekan kerjanya.
Pusat Kebudayaan Islam Qatar memang memiliki program yang dijalankan secara intensif untuk mengenalkan Islam kepada semua kalangan. Sebagian program di antaranya beruba kursus bahasa Arab, kursus kaligrafi dan seni Islam, serta kajian megenai hukum-hukum Islam. Program ini terbuka untuk kalangan Muslim maupun non-Muslim dari berbagai bangsa.
Perkembangan Islam yang menggembirakan juga terjadi di Malaysia. Menurut laporan Departemen Pengembangan Islam Malaysia, hingga September tahun ini, lembaga tersebut sudah membantu 759 orang yang masuk Islam. Angka ini lebih besar dibanding tahun lalu yang hanya 597 orang masuk Islam dalam setahun.
Wakil Kepala Departemen Pengembangan Islam Malaysia, Zainal Abidin Jaafar, mengaku yakin, hingga akhir tahun ini, lembaganya bisa membantu sampai 1.000 orang yang hendak berpindah agama ke Islam. Sebagain bantuan, pihaknya juga memberikan insetif kepada para muala yang baru mengucap syahadap. "Selama ini, hanya dua persen mualaf yang kemudian kembali ke agama asalnya setelah masuk Islam," kata dia, seperti dikuti kantor berita Bernama. irf
| < Prev | Next > |
|---|






"Setelah seorang keturunan Tionghoa menjadi muslim, maka keadaannya sungguh berlainan. Antara si pribumi (yang umumnya beragama Islam) dan nonpri keturunan Tionghoa yang masuk Islam, terjalin suatu hubungan batin yang luar biasa menakjubkan. Persamaan agama, dalam hal ini Islam, menciptakan hubungan mesra dan mengharukan sebagai saudara seagama. Berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits, arti dan nilai saudara sekandung tidak lebih besar dari saudara seagama. Bahkan, saudara sekandung bisa berbeda agama dengan segala konsekuensinya di akhirat. Sedangkan, saudara seagama sifatnya abadi di dunia maupun di akhirat." Junus Jahja