Islam is not the Enemy - Dunia Islam
Sunday, 08 February 2009 07:18
QUENSLAND - Pemerintah lokal wilayah timur laut Australia, negara bagian Quensland akhirnya menyetujui pembangunan gedung untuk sekolah muslim. Kebijakan itu sekaligus mengakhiri pertikaian selama setahun penuh dan melegakan komunitas Muslim di sana.
"Perencana kami menyimpulkan proposal gedung tersebut sejalan dengan Rencana Wilayah," ujar John Wayne, Pimpinan Tim Perencanaan Wilayah Pantai Emas Tenggara, dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan 3 Februari lalu.
Dalam laporan setebal 72 halaman, tim merincikan alasan persetujuan mereka terhadap pembangunan gedung Kampus Islam Internasional Australia di bagian paling selatan Carrara.
Keputusan tersebut--yang bakal distempel oleh dewan negara bagian, Senin Depan--otomatis mengakhiri perdebatan setahun antara warga lokal dan pengelola sekolah.
November tahun lalu, ratusan warga mengerubung kantor dewan dan pemerintah kota untuk menentang pendirian sekolah, yang direncanakan bakal menampung 60 anak dari berbagai latar belakang.
Namun Walikota Ron Clarke bersikeras itu penting untuk mengakomodasi kebutuhan kelompok minoritas, dan menuding beberapa pendemo yang menggunakan alasan terorisme sebagai argumen penolakan.
Kelompok Kristen dan warga lokal mengatakan mereka akan menerim keputusan komita, dan tak melakukan protes lebih jauh. "Dari sudut pandang kami, kami akan melakukan apa yang harus kami lakukan," ujar Rod Gilchrist, seorang pastor dari lingkungan setempat, Dream Centre.
"Kami bukanlah musuh dan kami akan mencoba hidup berdampingan dengan mereka secara harmonis," ujarnya lagi
Muslim yang telah berada di Negeri Kanguru lebih dari 200 tahun lalu kini mencapai rasio 1,5 persen dari populasi total 20 juta orang. Meski minoritas, Islam menjadi agama kedua terbesar setelah Kristen.
Penerimaan
Komunitas Muslim dan pengelola sekolah tentu sangat bergembira dengan keputusan terseut. "Kami selalu yakin jika itu bukanlah keputusan emosional," ujar juru bicara Kampus Islami dan pemimpin Muslim, Keysar Trad seperti yang dikutip oleh Courier Mail, 3 Februari.
"Kami sangat gembira mereka datang dengan keputusan rasional dan logis berdasar panduan perencanaan wilayah, dan bukan karena histeria," imbuh Keysar.
Proposal pendirian gedung sekolah Muslim itu telah menghadapi penentangan keras dalam beberapa bulan terakhir. Kota kecil Camden misal, yang terletak di perbatasan Sidney, pada 2008 memilih untuk memblokade pembangunan sekolah Islam yang akan melayani sekitar 1.200 siswa.
Mau tak mau, paska peristiwa WTC 11 September, Muslim di Australia pun terkena imbas, dicurigai dan nasionalisme mereka dipertanyakan. Dalam sebuah jajak pendapat yang dilakukan Issue Deliberation Australia (IDA), lembaga think-thank ternama di negara itu menemukan jika warga Australia pada dasarnya melihat Islam sebagai ancaman terhadap cara hidup mereka.
Sebuah laporan terkini pemerintah juga mengungkapkan jika Muslim menghadapi tindakan Islamofobia mendalam, dan perlakuan berdasar rasis lebih parah-hal yang tak pernah mereka jumpai sebelumnya./IOL/it
| < Prev | Next > |
|---|






"Setelah seorang keturunan Tionghoa menjadi muslim, maka keadaannya sungguh berlainan. Antara si pribumi (yang umumnya beragama Islam) dan nonpri keturunan Tionghoa yang masuk Islam, terjalin suatu hubungan batin yang luar biasa menakjubkan. Persamaan agama, dalam hal ini Islam, menciptakan hubungan mesra dan mengharukan sebagai saudara seagama. Berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits, arti dan nilai saudara sekandung tidak lebih besar dari saudara seagama. Bahkan, saudara sekandung bisa berbeda agama dengan segala konsekuensinya di akhirat. Sedangkan, saudara seagama sifatnya abadi di dunia maupun di akhirat." Junus Jahja