Islam is not the Enemy - Dunia Islam
Friday, 26 December 2008 20:50
Siapakah Nabi Muhammad SAW? Bila pertanyaan itu diajukan pada anak sekolah dasar di Indonesia, jawabannya jelas: utusan Allah SWT. Namun anak-anak di Tajikistan beda lagi jawabannya.Dalam buku Sejarah Islam yang menjadi mata pelajaran resmi di sekolah, banyak fakta yang diselewengkan. Misalnya saja, Rasulullah SAW tidak disebut sebagai rasul atau utusan Allah, tapi sebagai kreator agama Islam. Hal lain adalah tidak mengakui Makkah sebagai salah kota suci dan haji sebagai rukum Islam kelima.
“Penulis buku itu benar-benar orang yang sangat tidak profesional, irasional, dan tidak memahami Islam berikut nilai-nilainya,” ujar Hoji Akbar Turajonzoda, aktivis Muslim Tajikistan.
Itu sebabnya, ia memutuskan untuk menuliskan surat terbuka untuk menteri pendidikan Tajikistan. Menurut dia, ada upaya terstruktur untuk mengaburkan pengetahuan keislaman para murid sekolah dasar hingga menengah tentang Islam.
Ia mencontohkan buku Sejarah Abad Pertengahan yang menjadi mata pelajaran anak kelas enam SD. Dalam satu bagian buku itu mengupas tentang adanya deal politik antara Muhammad SAW dengan para penguasa Makkah.
Para tokoh Muslim Tajikistan mengamini ucapan Turajonzoda. “Bahkan saat era Soviet masih bercokol di negeri ini, di mana mereka disebut-sebut sangat atheis, buku-buku teks tidak mengaburkan fakta-fakta sejarah seperti saat ini,” ujar salah seorang dari mereka, seperti seperti dituturkan Radio Free Europe, awal pekan ini. Mereka juga telah menandatangi petisi bersama yang juga disampaikan ke menteri pendidikan.
Bagaimana reaksi kementerian pendidikan? Menurut juru bicara lembaga itu, mereka belum menerima surat itu. Namun dalam sebuah kesempatan, Menteri Pendidikan Abdujabbor Rahmonov menyatakan pihaknya berencana untuk menulis ulang buku-buku teks itu. “Kami memang akan melakukan revisi, tetapi tidak sekarang, karena kami memiliki prioritas lain saat ini. Pada waktu yang tepat, semua akan diperbaiki,” ujarnya.
Ia tak sependapat dengan pernyataan yang menyebut ada upaya terstruktur untuk mengaburkan pengetahuan keislaman bagi siswa sekolah di negara itu. “Saya berpikir tidak ada upaya-upaya semacam itu, apalagi merupakan inisiatif presiden sendiri,” ujarnya.
Asal tahu saja, keran keterbukaan dibuka lebar begitu Tajikistan lepas dari cengkeraman Uni Soviet. Islam menjadi agama yang kembali dianut oleh banyak orang di sana. Kaum Muslim banyak yang duduk dalam pemerintahan.
Namun apa yang terjadi kemudian banyak mengecewakan mereka. Otoritas Tajik menutup lusinan masjid di negara itu dalam dua tahun ini. Awal pekan ini, sebuah masjid di ibu kota Dushanbe ditutup dengan alasan tidak mengantongi izin resmi dari instansi terkait. Tak hanya itu, beberapa mushala di tempat-tempat umum seperti hall, pemandian umum, dan salon kecantikan juga ditutup.
Yang menyedihkan lagi, terutama bagi kaum Muslimah, pemakaian jilbab kini dilarang di sekolah negeri dan instansi pemerintah. “Ini sungguh menjadi kiamat kecil bagi kami,” ujar seorang Muslimah berjilbab yang harus keluar dari tempatnya bekerja.
Tajikistan adalah satu dari lima negara di Asia Tengah yang memisahkan diri dari Uni Soviet tahun 1991. Modernisasi tengah gencar dilakukan negara itu sejak perang sipil antara para Islamis melawan Presiden Imomali Rakhmonov yang didukung Moskow. N tri/RFE
Islam masuk ke Asia Tengah pada abad ke-7. Para saudagar Arab membawa masuk ke Tajik dan warga setempat yang kemudian memeluk Islam memadukan nilai-nilai Islam dengan budaya mereka. Berabad-abad kemudian, Islam menjadi agama yang dominan di Tajik, sampai kemudian negara itu takluk di bawah kekuasaan Uni Soviet tahun 1920-an.
Di bawah Uni Soviet, Islam menjadi agama yang mati suri. Aktivitas keagamaan dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan di lingkup yang terbatas.
Selama tujuh dekade, Tajikistan di bawah rezim yang sungguh menekan Islam. Apalagi saat dilancarkan kampanye anti Islam antara tahun 1920-1930, ribuan kaum Muslim menjadi syahid karena mempertahankan agamanya.
Setelah Jerman menyerang Uni Soviet tahun 1941, kebijakan anti Islam diperlonggar. Organisasi Islam pertama, Muslim Board of Central Asia, diperbolehkan untuk beraktivitas. Namun, bersama tiga organisasi sejenis yang lahir kemudian, mereka di bawah kontrol Kremlin yang ketat.
Sejarah berulang di tahun 1960 saat rezim Khrushchev melancarkan propaganda anti Islam. Antara tahun 1970-1980 mereka bahkan memperluas aksinya dengan istilah 'perang melawan agama', yang notabene adalah menjauhkan pendidik dari agama apapun. Sejak itu, aksi kekerasan dari negara atas nama gerakan anti agama adalah hal yang lumrah dan menjadi santapan sehari-hari warga Tajik. Kondisinya menjadi agak sejuk ketika Soviet dipimpin Michael Gorbachev, dan berlanjut hingga mereka memerdekakan diri.
| < Prev | Next > |
|---|






"Setelah seorang keturunan Tionghoa menjadi muslim, maka keadaannya sungguh berlainan. Antara si pribumi (yang umumnya beragama Islam) dan nonpri keturunan Tionghoa yang masuk Islam, terjalin suatu hubungan batin yang luar biasa menakjubkan. Persamaan agama, dalam hal ini Islam, menciptakan hubungan mesra dan mengharukan sebagai saudara seagama. Berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits, arti dan nilai saudara sekandung tidak lebih besar dari saudara seagama. Bahkan, saudara sekandung bisa berbeda agama dengan segala konsekuensinya di akhirat. Sedangkan, saudara seagama sifatnya abadi di dunia maupun di akhirat." Junus Jahja