Islam is not the Enemy - Dunia Islam
Sunday, 30 November 2008 06:40
Angka kunjungan ke masjid di Jerman dalam lima tahun terakhir menunjukkan grafik meningkat. Tingkat penerimaan warga terhadap Islam pun semakin tinggi.Setelah menginspeksi lusinan gedung terkenal, sebuah panel arsitek veteran yang beranggotakan empat orang menyimpulkan, Masjid Penzberg, sebuah masjid yang juga merupakan pusat studi Islam, sebagai karya arsitek terbaik yang dibangun di Bavaria dalam lima tahun.''Anugrah ini sangat penting bagi kita, tak sekedar sebagai arsitek melainkan juga sebagai Muslim,'' ujar Alen Jasarevic, seorang Muslim berdarah Bosnia sebagaimana dilansir IslamOnline.net.
Jasaraveik menambahkan, ''Kita telah membuktikan kaum Muslim dapat memberikan kontribusi kepada mereka. Kita bangga bahwa masjid tersebut, dengan disainnya sesuai aktivitas, telah menjadi pusat perhatian jutaan orang.''Masjid yang berjuluk 'Masjid Forum Islam' ini dibangun tahun 2005. Masjid ini memiliki rancangan indah bergaya kontemporer, dengan bagian dalam yang lega. Jarasevic menyusun ruang sholat, ruang administrasi, dan komunal serta sebuah apartemen di bawah sebuah atap tunggal pada rancangan lahan berbentuk huruf L.
Gedung berwarna pasir ini memiliki sebuah menara dan tampilan muka berkaca dengan dekorasi ungkapan Arab yang menyerukan shalat. Dua pintu kayu tebal dan kuat akan terbuka begitu pengunjung menginjakkan kaki di depannya, di sambut tulisan selamat datang dalam bahasa Arab dan Jerman.
Pada pintu masuk, terdapat dua balok beton tempat dinding berputar mirip gerbang terbuka terpasang, terdapat tulisan mengundang masuk pengunjung dalam bahasa Arab dan Jerman. Bangunan yang dibanjiri cahaya dari lampu-lampu memiliki ruang ibadah khusus, perpustakaan besar, dua aula besar, dan beberapa ruang kelas untuk siswa. Dalam masjid orang akan disambut dengan tangga berdesain klasik terbuka yang disinari cahaya siang. Sementara di sebelah kanan, arah pandangan terbuka menuju ruang sholat.
Bentuk sorot lampu tak biasa di langit-langit dan panel dinding sangat menarik perhatian. Selain itu terdapat motif abstrak yang mengandung 99 asma Allah dalam kaligrafi Arab. Lalu di tengah aula terdapat lantai dua. Tempat ini khusus disediakan bagi kaum wanita, sehingga pria dan wanita tidak dapat saling melihat.
Anugrah ini merupakan suatu kehormatan bagi kota kami, ujar Penzberg Mayor Hans Mummets pada upacara pemberian hadiah hari Jumat, 17 Oktober.Ketua Forum Islam, Benjamin Idriz, menggambarkan anugrah tersebut diperoleh tanpa suatu 'preseden'. ''Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah Jerman, sebuah masjid diberi sebuah anugrah,'' ungkapnya penuh syukur seraya menambahkan.
Dan memang tak berlebihan, kenyatannya lebih dari 15 ribu orang Jerman baik Muslim maupun non-Muslim telah mengunjungi masjid tersebut semenjak peresmiannya pada 2005. ''Saya terkesan dengan atmosfer spiritual di dalam masjid,'' tulis seorang Jerman non-Muslim di dalam buku tamu.Dan yang lainnya menuliskan pesan singkat di buku tamu tersebut, ''Kunjungan kami ke masjid ini memberi kami sebuah persepsi baru tentang Islam dan Muslim.''
Agama terbesar kedua
Mengapa masjid itu menjadi salah satu kebanggaan Muslim Jerman? Pertama, sejak tragedi 11 September, umat Islam di negara itu seperti halnya beberapa negara Eropa lainnya dan Amerika Serikat selalu dicurigai. Padahal, Muslim Jerman sebenarnya bukan anak bawang di negara itu. Diperkirakan tiga juta Muslim mayoritas etnis Turki berumah di negara itu. Islam juga merupakan agama kedua terbesar di Jerman setelah Kristen.
Islam hadir di Jerman sejak berabad lalu, tepatnya sejak Dinasti Usmaniyah berjaya di Eropa. Saat itu jumlahnya hanya ratusan saja dan sebagaian besar berasal dari Turki. Gelombang kedua kedatangan Muslim di negara itu adalah pasca Perang Dunia II. Rekonstruksi yang sedang dijalankan Jerman selepas perang yang membutuhkan banyak tenaga kerja yang murah. Suplai tenaga kerja pada masa tersebut sebagiannya datang dari Turki.
Tragedi 11 September yang menyulut genderang perang terhadap terorisme diterjemahkan sebagai Muslim oleh banyak orang di Eropa tidak selamanya berefek negatif. Memang, fobia Islam terjadi di mana-mana di seantero Jerman. Namun imbas positifnya adalah: mereka yang berpikir kritis umumnya kaum terpelajar justru tertarik untuk belajar tentang Islam.
Di balik tindakan rasialisme dan diskriminatif yang dilakukan sebagian pejabat dan partai ekstrem Jerman, masyarakat justru semakin banyak yang tertarik kepada ajaran Islam. Sebuah polling yang diadakan di negara itu, mayoritas rakyat Jerman menganggap jilbab yang ditentang oleh Prancis sebagai fenomena biasa. Bahkan, polling yang diadakan Konrad Adenauer, menghasilkan dua pertiga peserta polling percaya bahwa umat Islam harus diberikan kebebasan untuk melaksanakan ajaran agama mereka.
Bukti empiriknya ada: dalam lima tahun terakhir, angka kunjungan ke masjid-masjid meningkat. Selain keluarga Muslim yang ingin beribadah secara lebih khusyuk, mereka adalah juga warga setempat yang ingin mengenal Islam. Surat kabar Figaro terbitan Perancis mencatat, Kehadiran umat Islam Jerman ke masjid-masjid nampak sangat mencolok dan sulit berharap umat Kristiani mendatangi gereja-gereja dengan antusiasme yang sama seperti umat Muslim di Jerman. dam/islamonline
| < Prev | Next > |
|---|






"Setelah seorang keturunan Tionghoa menjadi muslim, maka keadaannya sungguh berlainan. Antara si pribumi (yang umumnya beragama Islam) dan nonpri keturunan Tionghoa yang masuk Islam, terjalin suatu hubungan batin yang luar biasa menakjubkan. Persamaan agama, dalam hal ini Islam, menciptakan hubungan mesra dan mengharukan sebagai saudara seagama. Berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits, arti dan nilai saudara sekandung tidak lebih besar dari saudara seagama. Bahkan, saudara sekandung bisa berbeda agama dengan segala konsekuensinya di akhirat. Sedangkan, saudara seagama sifatnya abadi di dunia maupun di akhirat." Junus Jahja