Monday, 30 August 2010 07:52
Assalamu'alaikum wr.wb., Ada teman yang kirim email ke saya yang menjelaskan hukum menggunakan tasbih. Dalam artikel itu, dijelaskan bahwa mayoritas dari ulama membolehkan kita untuk menggunakan tasbih untuk berdzikir. Tetapi ada juga pendapat minoritas yang melarang, dengan penjelasan tidak ada contoh dari Nabi SAW. Berikut ini adalah komentar saya.
Insya Allah ini suatu perkara yang sederhana: orang yang suka pegang tasbih akan berdzikir lebih banyak atau lebih sedikit kalau tasbihnya tidak ada? Artinya, kalau dia hanya menggunakan jari (atau baca di dalam hati saja tanpa gerakkan jari) apakah dia lebih banyak berdzikir atau lebih sedikit?
Saya selalu membawa tasbih kecil saat pergi dari rumah. Sekarang kalau saya keluar dari rumah tanpa bawa tasbih, rasanya saya “telanjang”. Dan kalau kelupaan (hampir tidak pernah) maka saya pasti mau kembali ke rumah kalau masih dekat untuk mengambilnya.
Alasan saya memakai tasbih sederhana. Dulu saya coba berdzikir dengan jari saja saat berada di taksi. Saya berdzikir sambil lihat2 di jalan, atau sambil diskusi dengan teman. Tetapi karena ada telfon atau sms masuk, atau ada komentar dari sopir taksi, atau melihat sesuatu yang membuat saya berfikir tentang perkara lain, maka hasilnya adalah saya lupa bahwa tadinya saya berdzikir karena pikiran saya terbawa oleh suasana yang berbeda (diskusi, sms, telfon, pandangan, dll.).
Setelah belasan minit, atau mungkin setelah saya sampai tujuan saya, baru teringat bahwa tadinya saya sudah mulai berdzikir tetapi berhenti di tengah jalan. Jadi dzikiran saya sedikit sekali (karena lupa saat konsentrasi saya dialihkan oleh perkara yang lain).
Tetapi dengan memegang tasbih kecil, justru saya bisa ingat terus karena setelah konsentrasi saya “terganggu” oleh hal yang lain, saya selalu kembali pada dzikiran dengan cepat. Karena ada tasbih di tangan, walaupun saya mungkin saja lupa untuk sekian minit dan putarkan bijinya tanpa berdzikir karena sedang diskusi dengan sopir taksi, cepat atau lama (biasanya cepat) saya kembali sadar bahwa masih ada tasbih di tangan dan tadinya saya berdzikir (sebelum diganggu). Hasilnya, saya cepat kembali berdizikir karena tasbih kecil di tangan mengingatkan saya terus untuk mulai lagi.
Sampai di tujuan saya, hasilnya adalah saya telah berdzikir selama 20-60 minit, kurang beberapa minit saja di mana saya terganggu atau lupa untuk sementara.
Sekarang, memegang tasbih sudah menjadi begitu terbiasa sehingga saya memegangnya terus. Kalau nonton Dvd di kamar, berdzikir dengan tasbih. Kalau nonton di bioskop (walaupun jarang) saya juga berdzikir dengan tasbih. Kalau naik taksi atau mobil teman, berdzikir dengan tasbih. Duduk di kafe dan ngopi sama teman, berdzikir dengan tasbih. Dan seterusnya.
Jadi tasbih itu tidak lebih dari “sebuah alat” yang membantu saya ingat kembali. Kalau tidak dipegang, sangat mudah untuk lupa dan fokuskan pikiran pada hal-hal yang lain.
Kalau seandainya setiap orang yang merokok di Indonesia menggantikan rokoknya dengan tasbih (secara bertahap, biar produsen rokok tidak langsung bangkrut dalam sekejap), kira-kira apa yang akan terjadi di bangsa ini? Bayangkan kalau setiap hari, puluhan juta orang tinggalkan rokok, dan memegang tasbih di tangannya, dan gunakan berkali-kali setiap hari (seperti halnya merokok) untuk berdzikir kepada Allah SWT.
96. Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, PASTILAH Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.
(QS. Al Araf 7.96)
Tetapi daripada pegang tasbih dan berdzikir berkali2 setiap hari, banyak sekali orang malah “mengisi tangannya” dengan batang rokok, uang haram, makanan yang tidak halal, tangan pacarnya, minuman beralkohol, dan sebagainya. Tasbih dan dzikiran sangat jauh dari pikirannya.
Semoga orang yang tidak setuju dengan penggunaan tasbih bisa melihat manfaatnya yang besar, apalagi bila membantu orang berhenti rokok. (Cara berhenti rokok dengan tasbih: Setiap kali mau merokok, ambil tasbih saja dan berdzikir. Baca “Alhamdulillah” terus, untuk mensyukuri semua nikmat yang Allah berikan, termasuk kemudahan untuk berhenti merokok. Insya Allah dalam waktu cepat, niat untuk merokok bisa hilang.)
Tasbih yang digunakan dengan tujuan yang baik dan mulia bisa sangat bermanfaat bagi seorang hamba dan malah bisa menjadi lebih utama di dalam hati daripada barang2 mewah lain yang dia dimiliki. Dan itu sudah saya rasakan sendiri sekarang.
Sebagai contoh, beberapa bulan yang lalu, HP saya jatuh di jalan di depan sebuah ATM karena klip di sarungnya patah (tanpa sepengetahun saya selama beberapa minit). Waktu sudah berangkat lagi naik taksi dan saya menjadi sadar bahwa HP tidak ada di sabuk pinggang, saya tidak panik, walaupun harganya HP saya 4 juta. Saya kembali lagi ke ATM dan alhamdulillah ketemunya dengan mudah dan tidak ada kerusakan (dan dalam perjalanan ke ATM saya juga berdzikir). Sebaliknya, pernah ada suatu hari di mana saya mau berangkat dari rumah dan tasbih tidak ada di lemari. Saya malah merasa panik dan carinya di mana-mana seakan-akan sedang mencari kalung emas atau berlian yang hilang. Setelah bongkar kamar dan tumpukan baju selama 30 minit, akhirnya tasbih kecil saya ditemukan di dalam kantong celana yang dipakai pagi itu, yang sudah ditaruh di ember untuk dicuci.
Harga tasbih, sekitar Rp 15.000. Harga HP Rp 4 juta. Tetapi karena sudah menjadi “teman perjalanan” setiap hari, tasbih lebih disayangi daripada HP yang mahal.
Semoga bermanfaat. Wassalamu'alaikum wr.wb., Gene Netto http://genenetto.blogspot.com/2009/12/menggunakan-tasbih.html
| Next > |
|---|






"Setelah seorang keturunan Tionghoa menjadi muslim, maka keadaannya sungguh berlainan. Antara si pribumi (yang umumnya beragama Islam) dan nonpri keturunan Tionghoa yang masuk Islam, terjalin suatu hubungan batin yang luar biasa menakjubkan. Persamaan agama, dalam hal ini Islam, menciptakan hubungan mesra dan mengharukan sebagai saudara seagama. Berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits, arti dan nilai saudara sekandung tidak lebih besar dari saudara seagama. Bahkan, saudara sekandung bisa berbeda agama dengan segala konsekuensinya di akhirat. Sedangkan, saudara seagama sifatnya abadi di dunia maupun di akhirat." Junus Jahja