Hikmah & Kajian - Jendela Keluarga
Thursday, 02 June 2005 15:00
Suatu hari, Bapak A baru saja pulang kerja. Seperti biasa ia datang dengan raut muka yang sedikit masam, walau ketika itu si istri ada di hadapannya. Beberapa saat berselang, Bapak A sudah nongkrong di depan televisi.
Tiba-tiba sang istri menghampiri dan berkata, "Pak, tolong dong betulin lampu di depan, dari tadi enggak nyala-nyala". Dengan ketus Bapak A menjawab, "Enak aja nyuruh emangnya saya ini tukang listrik," sambil matanya kembali melihat layar TV. Mendengar jawaban suaminya, si istri dengan kesal kembali ke dapur.
Untuk keduakalinya si istri datang lagi menghampiri. Dengan ragu ia berkata, "Bapak bisa minta tolong betulin kran air nggak, dari tadi macet terus". Dengan kesal ia menjawab sambil pergi, "Enak aja nyuruh betulin kran, emangnya saya ini tukang ledeng apa!".
Saat Maghrib menjelang tiba Bapak A pulang ke rumah. Ia merasa kaget karena lampu di depan rumah sudah menyala dan kran air yang macet sudah berfungsi kembali, "Bu, siapa yang ngerjain ini semua, kok sudah pada rapi begini?," tanya si Bapak. "Begini Pak, tadi waktu Bapak pergi ke rumah tetangga, ada mantan pacar saya lewat di depan rumah. Saya panggil ia untuk ngebetulin itu semua. Ia pun mau tapi dengan dua syarat, dibikinin roti atau saya harus tidur dengannya," ujar si istri dengan tenangnya. Si Bapak kaget, "Pasti kau bikinin ia roti kan?," tanyanya. Apa kata si istri? "Enak aja, emangnya saya ini tukang roti apa!." Lemaslah lutut si Bapak mendengar itu.
Cerita di atas hanya fiktif belaka dan mungkin agak keterlaluan. Walaupun demikian, ada satu pelajaran yang bisa kita petik bahwa kebahagiaan rumah tangga sangat ditentukan oleh seberapa jauh suami istri saling memberikan perhatian.Kurangnya perhatian dari salah satu pihak bisa berakibat fatal. Andai kita menganalisis munculnya kasus perselingkuhan, pemicunya banyak disebabkan karena tidak adanya komunikasi efektif antara suami istri, egoisme yang diperturutkan, dan dominasi dari satu pihak terhadap pihak lain. Kenyataan ini diperkuat dengan penemuan Debbie Layton-Tholl tentang penyebab perselingkuhan dan perceraian. Dari sepuluh faktor yang dikemukakan hampir 80 % disebabkan faktor non-materi, atau gagalnya suami istri membangun rasa saling percaya, tidak saling menghargai, yang berakhir pada memudarnya rasa saling setia.
Manusia memiliki kebutuhan dalam kaitannya dengan orang lain seperti diungkapkan Abraham Maslow dalam teori Tingkatan Kebutuhan. Salah satunya adalah kebutuhan untuk dihargai, diperhatikan, dan didengarkan.
Karena itu, sebuah keluarga akan mengalami banyak masalah bila suami atau istri terlalu egois untuk memberikan perhatian pada pasangannya. Jelas, lingkup perhatian di sini bukan hanya dari segi materi dan kebutuhan hidup sehari-hari, di dalamnya tercakup pula perhatian secara kejiwaan baik berupa ungkapan kasih sayang, pujian yang tulus, ataupun saling membantu menyelesaikan suatu pekerjaan.
Rasulullah adalah sosok suami teladan. Walau kesibukannya segudang beliau masih bisa menyempatkan diri bergaul dengan istri-istrinya. Dalam sebuah hadis dikisahkan bahwa Rasulullah pernah mendengarkan cerita Aisyah tentang sebelas wanita yang menceritakan sifat suaminya masing-masing. Aisyah bercerita bahwa ada wanita yang mencela dan ada pula yang memuji suaminya. Sementara Rasulullah terus mendengarkan cerita Aisyah itu sampai ia memuji Ummu Zar'in yang menceritakan suami dan keluarganya. Hingga akhirnya Abu Zar'in bertemu dengan wanita lain lalu menceraikannya. Setelah mendengar cerita tersebut, Rasulullah berkata pada Aisyah, "Sikapku kepadamu seperti sikap Abu Zar'in kepada Ummu Zar'in, kecuali aku tidak menceraikannya".
Yusuf Qardhawi menyebutkan bahwa makna pakaian (libas) dalam ayat; "Mereka adalah pakaian bagimu dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka", sebagai sesuatu yang menutupi, menjaga, dan mempercantik. Pakaian adalah sesuatu yang melekat dan menempel pada tubuh. Maka suami istri pasti dan niscaya saling membutuhkan satu sama lain. Jadi saling memberikan perhatian yang lebih harus menjadi keniscayaan dalam sebuah rumah tangga. Tanpa semua ini kasih sayang yang menjadi sendi dalam rumah tangga (QS. Ar-Rum: 21) tidak akan pernah terwujud
| < Prev | Next > |
|---|






"Setelah seorang keturunan Tionghoa menjadi muslim, maka keadaannya sungguh berlainan. Antara si pribumi (yang umumnya beragama Islam) dan nonpri keturunan Tionghoa yang masuk Islam, terjalin suatu hubungan batin yang luar biasa menakjubkan. Persamaan agama, dalam hal ini Islam, menciptakan hubungan mesra dan mengharukan sebagai saudara seagama. Berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits, arti dan nilai saudara sekandung tidak lebih besar dari saudara seagama. Bahkan, saudara sekandung bisa berbeda agama dengan segala konsekuensinya di akhirat. Sedangkan, saudara seagama sifatnya abadi di dunia maupun di akhirat." Junus Jahja