Hikmah & Kajian - Jendela Keluarga
Monday, 30 May 2005 15:00
Dengan muka masam, Ibu itu membersihkan mulut anaknya dengan sangat kasar. "Ceuk urang ge entong milu, jadi weh mabok. Era weh ku batur," kata Ibu tersebut dengan ketusnya. Artinya kira-kira, "Kata saya juga jangan ikut, jadi aja mabuk. Kan malu sama orang lain".
Sambil mengoceh, ia "mengacak-acak" buku yang ada hadapannya. Terlihat ibunya dengan sabar berusaha menghentikan aktivitas anaknya tersebut. "Sayang jangan merusak buku-buku itu nanti orang marah, ya," kata ibu muda itu sambil memegang tangan sang anak. "Eggak mau, Ade pengen buku ini," jawab si anak sambil memegang sebuah buku bergambar.
Sikap yang diambil ibu pertama benar-benar tidak tepat. Alih-alih mendidik, ia telah menjatuhkan mental dan harga diri anak di depan umum. Bagaimana pun alasannya kita tidak bisa menyalahkan anak yang mabuk di kendaraan karena hal itu ada di luar keinginannya. Sedangkan ibu yang kedua, berhasil mengendalikan "kekesalannya" pada sang anak dengan memberikan bimbingan yang tepat sehingga aspek pembelajaran bisa berjalan lancar.
Sebagai contoh bila lingkungan sering mengatakan ia bodoh, maka anak akan mengidentifikasikan dirinya sebagai orang bodoh yang tidak layak menang. Hal ini akhirnya akan mempengaruhi mental dia saat menghadapi kehidupan pada masa yang akan datang. Harapan untuk sukses berasal dari pengalaman yang dipelajari, terutama dari orang tua.
Bila orang tua memberi kepercayaan pada anak sehingga memungkinkan anak belajar meningkatkan kemampuan dirinya, setiap inisiatifnya dihargai, dan dia sebagai anak tidak banyak dikecam oleh orang tua dan lingkungan terdekatnya yang berpengaruh, ia akan belajar menemukan harga diri (self-esteem). Kepercayaan orang tua mempengaruhi pertumbuhan mental dan kepribadian anak. Banyak keunggulan-keunggulan intelektual maupun sosial yang sangat dipengaruhi oleh kepercayaan yang diterima anak.
Berkat kepercayaan orang tua kepadanya, anak memenuhi kebutuhannya yang paling mendasar pada saat ia masih kecil, yakni basic trust (kepercayaan dasar). Kepercayaan dasar yang kuat akan membuat anak merasa aman dan nyaman, sehingga ia berani mencoba, belajar menghargai dirinya, sehingga jika dikelola dengan baik akan membuahkan kekuatan self-reward--keadaan dimana anak tidak perlu mendapat dukungan dari luar sudah menemukan kebahagiaan manakala ia menuai keberhasilan.
Kepercayaan dasar juga membuat anak merasa dirinya berharga dan merasa terlindungi. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan Albert Bandura dalam bukunya Health Psychology Reader (2002), sebagaimana dikutip M. Fauzil Adhim bahwa kompetensi seseorang tidak hanya ditentukan oleh keterampilan yang ia miliki, tapi juga oleh kepercayaan terhadap efikasi diri, yakni harapan atau keyakinan untuk sukses.
Maka benarlah apa yang dikatakan Rasulullah pada seorang ibu yang berusaha merenggut anaknya dari pangkuan beliau, saat bayi itu pipis. "Pakaian yang kotor ini dapat dengan mudah dibersihkan oleh air. Tetapi apakah yang sanggup menghilangkan kekeruhan jiwa anak ini akibat renggutanmu yang kasar?"
| < Prev | Next > |
|---|






"Setelah seorang keturunan Tionghoa menjadi muslim, maka keadaannya sungguh berlainan. Antara si pribumi (yang umumnya beragama Islam) dan nonpri keturunan Tionghoa yang masuk Islam, terjalin suatu hubungan batin yang luar biasa menakjubkan. Persamaan agama, dalam hal ini Islam, menciptakan hubungan mesra dan mengharukan sebagai saudara seagama. Berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits, arti dan nilai saudara sekandung tidak lebih besar dari saudara seagama. Bahkan, saudara sekandung bisa berbeda agama dengan segala konsekuensinya di akhirat. Sedangkan, saudara seagama sifatnya abadi di dunia maupun di akhirat." Junus Jahja