Tak banyak yang memahami kebutuhan mualaf (muallaf), padahal sebagai Muslim baru, mereka membutuhkan teman, tempat berlindung, dan juga pembimbing. Orang-orang yang baru saja hijrah ke dalam Islam, membutuhkan teman dan sahabat yang dapat memberi dukungan moril dan perlindungan dari kecaman keluarga maupun saudara, karena perpindahan agama bukanlah perkara sederhana ! Oleh karena itu, pada kesempatan ini, kami menyediakan waktu untuk berbagi bagi calon mualaf ataupun mualaf, hubungi kami atau sahabat mualaf dengan email myfriend at mualaf dot com atau di milist mualafindonesia@yahoogroups.com

See Videos

Who's Online

We have 39 guests online

Ingin belajar Islam dan mengenal Islam atau ingin menyambung tali silaturahmi dengan para Sahabat Muallaf ? silahkan gunakan media chatting dibawah ini :

Yahoo Mesenger kami:
Steven_widjaja@yahoo.com

Atau untuk akhwat (wanita):
misscantyq@yahoo.com

BBM Konsultasi:
2931719A (steven Indra).

khusus wanita.
22627987 (Merlin / ummu Hanna)
26B44C0B (Dina Fitriani)

Google Talk:
Stevenindra@gmail.com

Windows Live Messenger:
stevenindra@hotmail.com

Twitter:
@stevenindraw

sms ke 0817 910 5900 (steven) Indra Wibowo

 

 

Sahabat Muallaf

Donasi untuk Zakat Infaq dan Sedekah (ZIS) @ Muallaf Center Online with Paypal

Paypal Donation & ZIS

Mutiara

'Tiga hal yang merupakan sumber segala dosa, hindarilah dan berhati-hatilah terhadap ketiganya. Hati-hati terhadap keangkuhan, karena keangkuhan menjadikan iblis enggan bersujud kepada Adam, dan hati-hatilah terhadap tamak (rakus), karena ketamakan mengantar Adam memakan buah terlarang, dan berhati-hatilah terhadap iri hati, karena kedua anak Adam (Qabil dan Habil) salah seorang di antaranya membunuh saudaranya akibat dorongan iri hati." HR Ibn Asakir melalui Ibn Mas'ud.

Membangun Harga Diri Anak

Print PDF

Hikmah & Kajian - Jendela Keluarga

Jendela Keluarga Kita - Mualaf OnlineDengan muka masam, Ibu itu membersihkan mulut anaknya dengan sangat kasar. "Ceuk urang ge entong milu, jadi weh mabok. Era weh ku batur," kata Ibu tersebut dengan ketusnya. Artinya kira-kira, "Kata saya juga jangan ikut, jadi aja mabuk. Kan malu sama orang lain".

Peristiwa tersebut terjadi saat saya naik sebuah angkot. Persis di depan saya ada seorang anak laki-laki yang ditaksir berusia enam tahunan. Mungkin karena tidak tahan ia (maaf) muntah, dan muntahannya itu mengenai baju beberapa penumpang lain. Saya sangat kasihan sekali melihat anak itu, sudah pusing, dijauhi, malu, dimarahi pula. Di tempat lain saat berjalan-jalan di sebuah toko buku, terlihat seorang anak yang sangat aktif.

Sambil mengoceh, ia "mengacak-acak" buku yang ada hadapannya. Terlihat ibunya dengan sabar berusaha menghentikan aktivitas anaknya tersebut. "Sayang jangan merusak buku-buku itu nanti orang marah, ya," kata ibu muda itu sambil memegang tangan sang anak. "Eggak mau, Ade pengen buku ini," jawab si anak sambil memegang sebuah buku bergambar.

Dengan santun Ibu itu berkata, "Kalau begitu kita ambil tempat bukunya yuk, agar Ade bisa memasukkan bukunya ke keranjang!". "Ade mau," jawab si anak dengan gembira. Ia pun segera mengikuti langkah ibunya mengambil sebuah tas belanja. Kisah di atas memperlihatkan dua sikap berbeda yang diambil orang tua dalam menyikapi prilaku anak-anaknya.

Sikap yang diambil ibu pertama benar-benar tidak tepat. Alih-alih mendidik, ia telah menjatuhkan mental dan harga diri anak di depan umum. Bagaimana pun alasannya kita tidak bisa menyalahkan anak yang mabuk di kendaraan karena hal itu ada di luar keinginannya. Sedangkan ibu yang kedua, berhasil mengendalikan "kekesalannya" pada sang anak dengan memberikan bimbingan yang tepat sehingga aspek pembelajaran bisa berjalan lancar.

Di balik semua itu, memarahi anak, terlebih lebih menjatuhkan mentalnya, bila berulang kali dilakukan orang tua, secara tidak langsung akan membentuk dan menanamkan mental yang buruk bagi anak. Anak yang dibesarkan dalam cemoohan akan cenderung memaknai dirinya seperti apa yang dikatakan lingkungan kepada dirinya.

Sebagai contoh bila lingkungan sering mengatakan ia bodoh, maka anak akan mengidentifikasikan dirinya sebagai orang bodoh yang tidak layak menang. Hal ini akhirnya akan mempengaruhi mental dia saat menghadapi kehidupan pada masa yang akan datang. Harapan untuk sukses berasal dari pengalaman yang dipelajari, terutama dari orang tua.

Bila orang tua memberi kepercayaan pada anak sehingga memungkinkan anak belajar meningkatkan kemampuan dirinya, setiap inisiatifnya dihargai, dan dia sebagai anak tidak banyak dikecam oleh orang tua dan lingkungan terdekatnya yang berpengaruh, ia akan belajar menemukan harga diri (self-esteem). Kepercayaan orang tua mempengaruhi pertumbuhan mental dan kepribadian anak. Banyak keunggulan-keunggulan intelektual maupun sosial yang sangat dipengaruhi oleh kepercayaan yang diterima anak.

Berkat kepercayaan orang tua kepadanya, anak memenuhi kebutuhannya yang paling mendasar pada saat ia masih kecil, yakni basic trust (kepercayaan dasar). Kepercayaan dasar yang kuat akan membuat anak merasa aman dan nyaman, sehingga ia berani mencoba, belajar menghargai dirinya, sehingga jika dikelola dengan baik akan membuahkan kekuatan self-reward--keadaan dimana anak tidak perlu mendapat dukungan dari luar sudah menemukan kebahagiaan manakala ia menuai keberhasilan.

Kepercayaan dasar juga membuat anak merasa dirinya berharga dan merasa terlindungi. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan Albert Bandura dalam bukunya Health Psychology Reader (2002), sebagaimana dikutip M. Fauzil Adhim bahwa kompetensi seseorang tidak hanya ditentukan oleh keterampilan yang ia miliki, tapi juga oleh kepercayaan terhadap efikasi diri, yakni harapan atau keyakinan untuk sukses.

Maka benarlah apa yang dikatakan Rasulullah pada seorang ibu yang berusaha merenggut anaknya dari pangkuan beliau, saat bayi itu pipis. "Pakaian yang kotor ini dapat dengan mudah dibersihkan oleh air. Tetapi apakah yang sanggup menghilangkan kekeruhan jiwa anak ini akibat renggutanmu yang kasar?"

Google
"Setelah seorang keturunan Tionghoa menjadi muslim, maka keadaannya sungguh berlainan. Antara si pribumi (yang umumnya beragama Islam) dan nonpri keturunan Tionghoa yang masuk Islam, terjalin suatu hubungan batin yang luar biasa menakjubkan. Persamaan agama, dalam hal ini Islam, menciptakan hubungan mesra dan mengharukan sebagai saudara seagama. Berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits, arti dan nilai saudara sekandung tidak lebih besar dari saudara seagama. Bahkan, saudara sekandung bisa berbeda agama dengan segala konsekuensinya di akhirat. Sedangkan, saudara seagama sifatnya abadi di dunia maupun di akhirat." Junus Jahja
Konsultasi Muallaf juga bisa dengan mendatangi langsung ke  :
  • Masjid Raya Mekar Indah Jl. Puspita II No. 1, Sektor Mekar Indah, Perumahan Cikarang Baru, Kota Jababeka, Cikarang, Bekasi 17550, Telp.021 8983 2007 (telp masjid) Tp yang mengangkat nanti takmir masjid dan  minta dihubungi/disambungkan ke Masruri Mohammad Asy'ari atau via FB ybs.
  • Mr. Gene Netto via blognya di http://genenetto.blogspot.com/ untuk janjiannya
  • Masjid Agung Sunda Kelapa setiap hari, jadwal dapat dilihat di sini
  • untuk wilayah tangerang bisa menghubungi Masjid Al-Karim, Bintaro dengan bapak Johansyah Reza di 0811 99 44 22
  • untuk wilayah bandung dan sekitarnya dapat menghubungi mualaf center Daarut Tauhid dengan Ibu Ummu Hanna di 0815 73 6666 59
  • untuk wilayah Kota Semarang dan sekitarnya dapat menghubungi Masjid Asy-Syifa di Jalan Pemuda, Rumah Sakit dr. Karyadi, Semarang dengan Ibu Sisian Indraswari di 0813 2500 8364
  • untuk wilayah Surabaya, sampai Gresik dapat menghubungi Bapak Harris di 0813 3031 4137
  • Masjid Al-Hidayah, Gandaria City Lantai. 4, untuk kontak silahkan ke Em Riza 0856 800 8400 atau ke Aisiyah Eiyin 083 8860 6606
Untuk wilayah kota lainnya dapat menghubungi  Steven Indra di 0817 910 5 900