Hikmah & Kajian - Jendela Keluarga
Friday, 20 May 2005 14:57
Sekali waktu ibu pernah memarahiku karena aku tak mau membantunya menimba air. Aku sedang malas dan barulah pertama kali itu aku tidak melakukannya. Di depan pintu dapur, ia hanya mengucapkan: "Nanti kalau besar mau jadi apa, kalau malas...". Aku pun pernah marah kepadanya. Karena ia telah memakan kue pisang kesukaanku yang diberi oleh tetangga. Dengan peluhnya sehabis membuat sapu lidi, ia langsung mengambil kue itu dan berkata: "Kamu gak mau kan...". Ibu tak memperhatikan jawabanku selain langsung memakannya, padahal aku sangat ingin.
Lain waktu setelah pulang dari sekolah, perutku lapar. Namun, aku tak menemukan nasi di meja makan dekat tungku api. Aku menemuinya, berharap ia menyimpan makanan itu di suatu tempat yang tak kuketahui. Tapi tebakanku salah. Dengan ringannya ia berkata: "Kamu panjat kelapa dan mencabut singkong di belakang rumah, lalu ibu yang memasaknya. Setelah itu kita makan bareng ya...".
Ibuku memang tak pernah marah ketika aku melakukan kesalahan, asalkan aku memberikan alasan yang bisa dimakluminya. Ia memberikan kesempatan dan waktu terus menerus untukku menyempurnakannya. Ia juga sangat menyukaiku bila aku mau disiplin dan tidak malas dalam melakukan sesuatu. Sedangkan, dulu yang kuanggap kesalahan ibu, justru ia mendidikku untuk belajar berempati dan menghargai jerih payah orang lain. Sewaktu kami kekurangan bahan makanan, ia mengajakku bekerja sama menjemput rezeki yang halal dan baik.
Ibuku lulusan sekolah rakyat dan tak mengenyam pendidikan tinggi. Ia adalah wanita yang dicintai dan disegani anak-anaknya. Satu hal saja yang menempatkan ibu pada posisi sangat dihargai oleh anak-anaknya. Yaitu soal calon pendamping hidup. Tak satu pun pasangan hidup anaknya, baik laki atau perempuan yang tak melalui "tes ujian menantu". Satu hal saja, yang akan selalu ia tanyakan, "Apakah kamu sanggup dalam kemiskinan dan kekurangan anakku?".
| < Prev | Next > |
|---|






"Setelah seorang keturunan Tionghoa menjadi muslim, maka keadaannya sungguh berlainan. Antara si pribumi (yang umumnya beragama Islam) dan nonpri keturunan Tionghoa yang masuk Islam, terjalin suatu hubungan batin yang luar biasa menakjubkan. Persamaan agama, dalam hal ini Islam, menciptakan hubungan mesra dan mengharukan sebagai saudara seagama. Berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits, arti dan nilai saudara sekandung tidak lebih besar dari saudara seagama. Bahkan, saudara sekandung bisa berbeda agama dengan segala konsekuensinya di akhirat. Sedangkan, saudara seagama sifatnya abadi di dunia maupun di akhirat." Junus Jahja