Hikmah & Kajian - Jendela Keluarga
Thursday, 11 October 2007 19:38
''Dulu ketika ayah masih ada, baju Lebaranku empat. Aku mendapat banyak uang baru. Sepatuku baru. Sandalku juga. Dulu ketika ayahku ada, banyak kue di meja tamu. Dulu ketika ayahku ada ...'' (Suara Maesarah tercekat. Ia tersenyum, tapi air mata meluncur di pipinya yang sawo matang).
Lebaran sebentar lagi. Mungkin sudah sejak beberapa hari lalu Anda berburu pakaian baru untuk buah hati tercinta. Atau, bahkan sudah dilakukan sejak awal Ramadhan. Tapi, pernahkah terbayang bagaimana Maesarah, penghuni sebuah yayasan yatim piatu di Ciputat, Tangerang, itu merayakan Lebaran? Padahal, Islam menganjurkan umatnya untuk memuliakan anak yatim. Orang yang menghardik anak yatim dinilai sebagai orang yang mendustakan agama (QS Al Maa'un [107]: 1-2). Anak yatim juga tidak boleh diberlakukan sewenang-wenang atau disia-siakan (QS Adh Dhuhaa [93]: 9).
Rasulullah SAW sendiri merupakan sosok yang sangat menyayangi anak yatim. Dalam hadisnya, Rasulullah SAW menyatakan, ''Bahwa saya dan orang yang memelihara anak yatim dengan baik akan berada di surga, bagaikan dekatnya jari telunjuk dengan jari tengah.'' (HR Muslim).
Bila kita mengaku cinta Rasulullah, mari kita mencintai anak yatim. Mumpung Idul Fitri masih beberapa hari lagi, mumpung masih ada waktu untuk membuat mereka tersenyum di hari kemenangan nanti. Adalah kewajiban kita untuk berbagi kebahagiaan bersama mereka.
| < Prev | Next > |
|---|






"Setelah seorang keturunan Tionghoa menjadi muslim, maka keadaannya sungguh berlainan. Antara si pribumi (yang umumnya beragama Islam) dan nonpri keturunan Tionghoa yang masuk Islam, terjalin suatu hubungan batin yang luar biasa menakjubkan. Persamaan agama, dalam hal ini Islam, menciptakan hubungan mesra dan mengharukan sebagai saudara seagama. Berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits, arti dan nilai saudara sekandung tidak lebih besar dari saudara seagama. Bahkan, saudara sekandung bisa berbeda agama dengan segala konsekuensinya di akhirat. Sedangkan, saudara seagama sifatnya abadi di dunia maupun di akhirat." Junus Jahja