Menimbang-nimbang Sekolah Islam
Hikmah & Kajian -
Jendela Keluarga
Wednesday, 27 April 2005 14:40
Yang harus dihindari, jangan menggunakan surga-neraka sebagai 'senjata' dalam mengajarkan disiplin pada anak. Masih tiga bulan lagi tahun pembelajaran 2005-2006 berlangsung. Namun, sejak dua bulan lalu, banyak orang tua mulai berburu sekolah. Berbagai informasi dan penawaran masuk sekolah, sudah beredar sejak akhir bulan lalu.
Bila rajin mengamati, hampir tiap hari iklan penarawan sekolah, terutama untuk tingkat pra sekolah dan dasar, dimuat di berbagai media massa. Belum lagi spanduk-panduk dan baliho di jalan-jalan raya, dengan segenap kelebihan-kelebihannya.
Ervan, karyawan sebuah perusahaan di kawasan Pancoran Jakarta Selatan, mengaku sempat 'goyah' dengan aneka promosi itu. Ia memang harus pandai-pandai memilih lembaga pendidian bagi kedua putranya Muhammad Kamal Hidayatullah (10) dan Ahmad Nur Altaf (3). Salah memilih sekolah, sama dengan mempertaruhkan kelangsungan masa depan buah hatinya.
Namun belakangan, ia tidak begitu tertarik dengan aneka ragam keistimewaan yang ditawarkan sejumlah lembaga pendidikan. Baginya, yang penting bagaimana sekolah memberikan bimbingan agama yang sebaik-baiknya terhadap anak-anaknya. ''Bagi kami, yang paling utama adalah pendidikan agamanya. Itu yang paling utama, jadi tidak semata-mata sarana dan fasilitas yang dimiliki,'' tandas Ervan kepada Republika, Selasa (1/3/05).
Bagi pria yang tinggal di kawasan Cibubur Jakarta Timur ini, pendidikan agama yang ditanamkan sekolah merupakan hal yang paling mendasar bagi kedua anaknya, terutama pada usia dini. Karena itulah, sejak pendidikan Taman Kanak-Kanak hingga Sekolah Lanjutan Pertama (SLTP) paling tidak, sambung Ervan, kedua anaknya harus mendapatkan pendidikan agama yang memadai.
Alasan senada diungkapkan Jurubicara Kepresidenan DR A Andi Mallarangeng kepada Republika. Andi memilih lembaga pendidikan Islam Al Azhar Pejaten untuk putra pertamanya Gilang dan Al Azhar Pasar Minggu bagi putra kedua Titang. ''Saya ingin, karena anak-anak ini masih kecil sedang dalam masa pembentukan mereka membutuhkan nilai-nilai Islami. Karena itu saya pilihkan anak-anak di sekolah yang berbasis Islam,'' ujarnya.
'Wajib' bersekolah di sekolah Islam, bagi Andi, hanya berlaku saat anak-anaknya duduk di bangku SD dan SMP. ''Kalau sudah SMA terserah mereka mau ke negeri atau sekolah ke mana,'' tambahnya.
Memasuki SMA, anak dianggap sudah cukup matang untuk memilah-milah mana yang baik dan tidak untuk dirinya. ''Anak saya yang pertama Gilang, dia sekarang sekolah di SMA 28 Jakarta, tapi SMP-nya di Al-Azhar Pejaten.'' Mengapa sekolah Islam? Bagi Andi, kedua anaknya harus dibekali pendidikan agama yang memadai sejak dini. Di sisi lain, ''Sekarang ini sekolah-sekolah Islam pun tidak kalah kualitasnya.''
Kecenderungan yang positif
Sekolah Islam memang menggeliat belakangan ini. Lembaga pendidikan ini tidak lagi dipandang sebelah mata, sebagai lembaga yang kolot dan 'puritan'. Maraknya para orang tua menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah Islam belakangan ini, menurut pakar pendidikan yang juga mantan Sekretaris Jenderal Departemen Pendidikan Nasional Prof DR Hidayat Syarif merupakan fenomena yang sangat positif. ''Ini fenomena yang bagus. Dulu, sekolah sekolah ini tidak mampu bersaing,'' jelas Hidayat.
Menurut mantan Deputi Sumber Daya Manusia (SDM) Bappenas ini, sekolah-sekolah Islam selain mengutamakan mata pelajaran umum yang sesuai dengan kurikulum Diknas, juga ditambah dengan mata pelajaran agama. Lebih khusus lagi, kata Hidayat, adalah pada penanaman moral, pendidikan akhlak. ''Bukan sekadar pengetahuan agama, tapi lebih kepada penanaman budi pekerti,'' tambah Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) ini menjelaskan.
Alasan serupa dikemukakan psikolog dan pemerhati pendidikan anak, Seto Mulyadi. Menurut Kak Seto, begitu ia akrab disapa, belakangan ini banyak lembaga pendidikan Islam yang telah meningkatkan kualitasnya dengan mengadopsi beberapa model atau kurikulum dari luar negara-negara maju seperti Australia, Jepang, Amerika Serikat dan lainnya. ''Semua baik, tapi yang penting harus dilakukan dengan prinsip for the best interest of the child (demi kepentingan terbaik bagi anak), bukan bagi orang tua, guru, yayasan, dan sebagainya,'' jelasnya.
Menurut Kak Seto, sumber informasi terpenting adalah dari sisi anak. ''Sekolah yang baik adalah baik menurut anak bukan baik menurut iklan. Pertanyaan mendasar adalah coba anak boleh melihat, mencoba, pada saat pendaftaran itu ada suasana untuk percobaan dan sebagainya lalu tanyakan kepada anak. Menurut dia bagaimana, enak nggak di sekolah itu?'' tambahnya.
Tentang sekolah Islam, Kak Seto membuat sedikit catatan. ''Jangan terlalu mengajarkan ajaran-ajaran Islam ini dalam arti tidak hanya sekadar dari sudut pandang orang tua. Misalnya orang tua nanti kalau berbuat ini dosa, kalau mengerjakan ini nanti masuk sorga. Jadi, akhirnya anak jadi objek untuk ambisi orang tua.''
Ia mengakui, anak harus dibekali dengan pendidikan agama. Hanya saja, ujar Kak Seto, harus melihat metode yang dipakai. ''Pengajarannya bagaimana? Jangan lembaga Islam metode pembelajarannya dengan kekerasan sehingga membuat anak malah takut dengan agama. Mereka bisa anti produktif, tapi kalau Islam diajarkan dengan bernyanyi, dongeng, boneka, kegiatan bermain di taman yang menyenangkan, gurunya ramah, itu Islam akan sangat muncul dengan efektif pada diri anak.''
Bagi Kak Seto, metode pembelajaran merupakan kunci utama berhasilnya sebuah pendidikan. ''Ada sekolah Islam yang metodenya menyenangkan tapi tidak sedikit sekolah Islam yang metodenya kurang menyenangkan. Ini yang sangat disayangkan, akan memberikan gambaran yang keliru terhadap Islam.''
Anak pra sekolah, misalnya, belum saatnya dia ditakut-takuti kalau bolos, atau malas nanti masuk neraka. Anak-anak usia begini seharusnya dikenalkan bahwa Islam itu indah, sabar, kasih sayang, dan diberikan contoh konkret,'' ujarnya.
Yang tak kalah pentingnya, papar Kak Seto lebih lanjut, peran orang tua dalam membimbing anak. Apalagi, seorang anak justru akan lebih lama bersama orang tuanya ketimbang guru. ''Orang tua harus menyadari bahwa pendidik yang paling utama adalah orang tuanya sendiri. Jadi, orang tua harus memainkan peranan penting terhadap pendidikan anak. Dimulai dengan keteladanan atau contoh, jangan menyuruh anak shalat tapi anak tidak shalat. Jangan menyuruh kepada anak kalau dari orang tuanya tidak ada keteladanan yang konkrit dari orang tuanya.''
Yang penting, kata Kak Seto, penekanannya bukan sekadar hablumminallah tapi hablum minannaas. ''Kita memberikan kepada mereka bahwa ajaran Islam itu baik hati,'' ujarnya.
Di rumah, hal itu bisa ditunjukkan oleh orang tua kepada anak. Ketika setelah shalat, misalnya, orang tua mendongeng bagi anak, bukan mengomel. ''Dari situ ada asosiasi antara perilaku shalat dan kasih sayang ataupun suasana kehangatan emosional ibunya yang dirasakan sekali terhadap anak,'' ujarnya.
Sementara itu, dalam pandangan pakar pendidikan DR Arif Rachman MEd, sekolah Islam kini sudah sejajar mutunya dengan sekolah unggulan lain. ''Artinya bukan hanya sekadar fasilitas tapi kualitasnya juga baik. Sudah ada beberapa sekolah Islam yang sangat baik, unggulan, mengikuti metode baru, fasilitasnya sangat baik,'' ujarnya.
Hanya sayangnya, jumlahnya masih sangat sedikit. ''Kita harus perbanyak,'' tandasnya. Kelebihan utama lembaga-lembaga pendidikan Islam, ungkap Arif, karena pendidikan agama Islam mendapatkan penekanan yang banyak. ''Dan ini baik untuk teman-teman yang beragama Islam yang ingin mengembangkan ilmu keislamannya. Apalagi kalau dimulai dari TK, itu jadi sangat mengakar sekali,'' jelasnya.
Ia juga menilai, SDM terutama para guru pada sekolah Islam unggulan kualitasnya memang bagus. ''Tetapi pada umumnya yang ibtidaiyah, tsanawiyah, aliyah, saya kira mesti terus diperbaiki,'' tambahnya.