Hikmah & Kajian - Tausiyah Aa Gym
Saturday, 14 July 2007 07:41
Dengki adalah satu dari sekian banyak sifat iblis. Mengapa iblis tidak mau bersujud pada Adam? Sebab iblis dengki kepadanya. Maka, jika kita memiliki sifat dengki, sesungguhnya kita telah memiliki sifat iblis tersebut. Na'udzubillah.
Seorang pendengki memiliki ciri khas, yaitu: Susah melihat orang lain senang, dan senang melihat orang lain susah. Jadi sangat mudah untuk mendeteksi apakah kedengkian ada atau tidak pada diri kita. Apakah kita senang melihat orang lain susah dan susah melihat orang lain senang?
Kemudian, sifat dengki itu biasanya bersesuaian dengan keadaan dan masalah dirinya. Mahasiswa akan dengki kepada mahasiswa lainnya. Pedangan akan dengki dengan pedagang lainnya.
Bagaimana mengatasi penyakit dengki ini?
1. Kita harus tahu ilmunya. Tanpa ilmu kita tidak tahu kerugian dengki dan bagaimana cara mengatasinya.
2. Belajar mengakui bahwa orang lain (khususnya yang kita dengki lebih baik dari kita). Jangan pelit memberi pujian, kalau memang ia layak menerimanya.
3. jangan sibuk melihat kejelekannya. Sibuklah melihat kebaikkannya walaupun sedikit.
4. Tempatkanlah diri kita untuk menjadi bagian kesuksesan orang lain. Makin banyak berbuat baik kepada orang lain, maka akan makin bebas pula hati kita dari dengki.
5. Mendoakan orang yang kita dengki dengan doa yang dapat mengundang kebaikan bagi dirinya. Barangsiapa mendoakan orang lain tanpa sepengetahuan orang yang didoakan, Insya Allah malaikat akan ikut mendoakan.
6. Hindari mengungkit-ungkit kebaikan diri di hadapan orang yang didengki.
Semoga Allah menggolongkan kita menjadi orang yang selalu bahagia melihat orang lain mendapat nikmat. Dan selalu siap mendoakan serta menolong orang yang mendapat musibah. Wallahu'alam.(*) Oleh K.H. Abdullah Gymnastiar, Copyright © CyberMQ.com
| < Prev | Next > |
|---|






"Setelah seorang keturunan Tionghoa menjadi muslim, maka keadaannya sungguh berlainan. Antara si pribumi (yang umumnya beragama Islam) dan nonpri keturunan Tionghoa yang masuk Islam, terjalin suatu hubungan batin yang luar biasa menakjubkan. Persamaan agama, dalam hal ini Islam, menciptakan hubungan mesra dan mengharukan sebagai saudara seagama. Berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits, arti dan nilai saudara sekandung tidak lebih besar dari saudara seagama. Bahkan, saudara sekandung bisa berbeda agama dengan segala konsekuensinya di akhirat. Sedangkan, saudara seagama sifatnya abadi di dunia maupun di akhirat." Junus Jahja