Hikmah & Kajian - Tausiyah Aa Gym
Friday, 13 July 2007 06:00
Allah SWT berfirman, ''Sesungguhnya Alquran ini memberikan petunjuk kepada yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar. (QS Al Isra [17]: 9).
Rasulullah juga disebut hidayah karena mampu mengantarkan pada jalan yang benar. Allah SWT berfirman, ''.... Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) memberi petunjuk ke jalan yang lurus.'' (QS As Syura [42]: 52). Allah SWT memberi hidayah kepada siapa saja yang dikehendaki. Namun, hal ini bukan berarti Allah SWT memberi hidayah kepada siapa saja tanpa syarat. Karena, Allah hanya memberi petunjuk kepada mereka yang siap dan lapang dalam menyambut kedatangannya.
Allah SWT tidak akan memberi hidayah kepada orang yang berpaling, menutup diri, dan kontinu dalam kemaksiatan. Sehingga, Allah SWT tidak akan memberi petunjuk kepada orang kafir, zalim, dan fasik, sebagaimana firman-Nya dalam surat Al Baqarah ayat 264, Al Maidah ayat 51 dan 108. Di sisi penerima hidayah, dia harus bisa mengambil keputusan secara tepat.
Berpikir secara sungguh-sunguh dan ikhlas menjadi keniscayaan agar tidak tergelincir kepada jurang kesesatan. Allah SWT berfirman, ''Dan kami telah memberi petunjuk kepadanya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada yang kufur. Sesungguhnya kami yang menyediakan bagi orang-orang kafir rantai belenggu, dan api neraka yang menyala-nyala. Sesungguhnya orang yang berbuat kebaikan minum dari gelas yang berisi minuman kafur (dari mata air syurga yang lezat).'' (QS Al Insan [76]: 3-5). Raihlah hidayah, dan tetapkan hati untuk meraih damai bersama-Nya. (AS Rumawan Hidayat )
| < Prev | Next > |
|---|






"Setelah seorang keturunan Tionghoa menjadi muslim, maka keadaannya sungguh berlainan. Antara si pribumi (yang umumnya beragama Islam) dan nonpri keturunan Tionghoa yang masuk Islam, terjalin suatu hubungan batin yang luar biasa menakjubkan. Persamaan agama, dalam hal ini Islam, menciptakan hubungan mesra dan mengharukan sebagai saudara seagama. Berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits, arti dan nilai saudara sekandung tidak lebih besar dari saudara seagama. Bahkan, saudara sekandung bisa berbeda agama dengan segala konsekuensinya di akhirat. Sedangkan, saudara seagama sifatnya abadi di dunia maupun di akhirat." Junus Jahja