Hikmah & Kajian - Hikmah dan Kajian
Saturday, 20 March 2010 22:29
assalaamu’alaikum wr. wb. Kehidupan selebriti memang sungguh menarik. Hari ini pacaran, besok ketahuan selingkuh. Bulan lalu menikah, bulan depan pisah ranjang. Sekarang mesra-mesraan, tidak lama lagi saling cela di depan kamera. Benar-benar asyik!
Saking asyiknya, masalah kawin-cerai tidak lagi menarik. Berita pernikahan mereka terdengar sama wajarnya dengan berita perceraiannya. Orang sudah berhenti terkejut mendengar cerita-cerita seperti ini.
Tinggallah penonton bermain tebak-tebakan. Apa penyebab perceraian mereka? Kalau tidak selingkuh, ya karena beda prinsip. Entah prinsip yang mana, pokoknya prinsip!
Menariknya, sudah banyak selebriti yang menikah dengan pasangan yang beda agama. Bagi mereka, beda agama bukan penghalang untuk menikah. Agama yang satu mengatakan bahwa ‘Isa as. adalah anak Tuhan, yang satunya lagi mencela ajaran demikian. Agama suami memuji Nabi Luth as., agama istrinya malah menyebutnya sebagai ayah bejat yang menyetubuhi dua anak perempuannya sendiri. Yang satu menyembah Allah Yang Maha Tunggal, yang satu menyembah tuhan yang bermanifestasi dalam banyak bentuk. Menurut doktrin pluralisme, semua itu benar. Kalaupun salah, harus dibenarkan juga.
Saya 100% ragu bahwa para selebriti itu memahami teori-teori pluralisme, apalagi diskursus di seputar tema itu. Yang terlihat jelas adalah pengabaiannya terhadap ajaran-ajaran agama, minimnya pengetahuan dan sikap mau gampangnya saja. Dengan agama sendiri pun tak peduli, apalagi dengan agama pasangannya. Yang penting semua keinginan duniawinya bisa terpenuhi. Kalau ada nilai-nilai luhur di balik pernikahan mereka, tentu takkan secepat itu mereka bercerai.
Antara beda agama dan beda prinsip ini memang sangat menarik untuk kita cermati. Para pesohor ini tidak mempermasalahkan pernikahan dengan orang yang beda agama, namun mereka tak ragu bercerai kalau beda prinsip dengan pasangannya. Artinya, agama bukanlah sesuatu yang prinsip bagi mereka. Kalau agama merupakan hak yang prinsip, tentu mereka takkan menikah dengan orang yang beda agamanya.
Pemikiran ini membawa kita kembali pada kesimpulan setengah matang tadi; mereka memang tidak serius dengan agamanya sendiri. Agama memang bukan prinsip. Kalau sedang ada keperluan, barulah atribut-atribut agama itu dikenakan. Kalau sedang sidang perceraian, yang perempuan berpenampilan sopan, lengkap dengan kerudung. Ada juga artis lelaki yang mengenakan baju koko dan peci ketika mencalonkan diri dalam Pilkada, tapi kembali dengan pakaian (dan kelakuan) tidak keruannya setelah dinyatakan kalah. Bicaranya penuh dengan kalimat-kalimat takbir, tahmid, “insya Allah”, dan semacamnya, tapi ketika main film selalu ada saja adegan ranjangnya. Kadang bicaranya sudah seperti ustadz, tapi di depan kamera ia remas bokong lawan mainnya.
Bagi mereka-mereka ini, agama memang bukan prinsip. Bisa dijual kapan saja, ditinggalkan manakala tidak dibutuhkan, dan sewaktu-waktu bisa dimanfaatkan kalau kondisi mendesak. Yang penting imej terjaga dengan baik. Agama urusan nanti.
Jadi, apa yang sebenarnya dianggap sebagai hal-hal prinsip bagi mereka? Entahlah. Bisa jadi ini pun dibuat-buat. Mengaku beda prinsip, padahal memang sudah ingin ganti pasangan saja. Tapi mungkin ini pun tak lebih dari sekedar pemikiran sarkastik dari orang yang tidak habis pikir; kalau agama bukan prinsip, apa lagi? Menyelami pikiran orang memang bukan pekerjaan mudah.
“Uda, ayo coba makan ketan pakai saus kacang!”
“Nggak mau, ketan enaknya pakai gula!”
“Uuuh, beda prinsip!”
“Biarin! Weeee...!”
Sekarang ini, setiap ada perbedaan di antara saya dan istri, kami menyebutnya “beda prinsip”. Ya, begitulah cara kami menertawakan para selebriti. Alhamdulillaah, kami bukan mereka. wassalaamu’alaikum wr. wb.
seperti yg ditulis oleh akmal di http://akmal.multiply.com/journal/item/762/Beda_Prinsip_
| < Prev | Next > |
|---|






"Setelah seorang keturunan Tionghoa menjadi muslim, maka keadaannya sungguh berlainan. Antara si pribumi (yang umumnya beragama Islam) dan nonpri keturunan Tionghoa yang masuk Islam, terjalin suatu hubungan batin yang luar biasa menakjubkan. Persamaan agama, dalam hal ini Islam, menciptakan hubungan mesra dan mengharukan sebagai saudara seagama. Berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits, arti dan nilai saudara sekandung tidak lebih besar dari saudara seagama. Bahkan, saudara sekandung bisa berbeda agama dengan segala konsekuensinya di akhirat. Sedangkan, saudara seagama sifatnya abadi di dunia maupun di akhirat." Junus Jahja