Ragam & Muhibah -
Muhibah
Saturday, 23 April 2005 07:00
Cermin Perjuangan dan Kebenaran, Kerasnya derap kaki kuda seolah mewakili kecamuk yang ada di hati penunggangnya. Dengan memanggul sebilah pedang besar yang dihiasi cincin di ruasnya, menambah penampilannya semakin seram. Terlebih suara gemerincing ikut membuncah suasana.
Kala itu di medan laga, beberapa abad silam, tampil sesosok prajurit andal. Laksamana Ceng Hoo, demikian nama prajurit tersebut. Kiprahnya dalam peperangan sempat membuat penguasa kekaisaran (Dinasti) yang berkuasa saat itu mengerutkan dahi untuk menghadapi Laksamana yang konon sudah menjadi seorang Muslim sejak lama.
Kisah yang disadur dari penuturan pengurus yayasan Masjid Muhammad Ceng Hoo Indonesia tersebut seakan memberikan gambaran bahwa Islam merupakan rahmat bagi seluruh alam, terutama manusia. Dan ini terwujud dalam bentuk Masjid Haji Muhammad Ceng Hoo.
'c2~
Masjid yang terletak di Jl Gading, Surabaya, ini tergolong belum lama didirikan, yaitu pada bulan Oktober 2001. Namun, niat yang mengendap pada masing-masing personelnya (masyarakat Muslim Tionghoa--red) sudah cukup lama.
'c2~
Di awal pendiriannya, mereka kemudian memaksimalkan keberadaan Persatuan Islam Tionghoa Indonesia atau yang kerap disebut Persatuan Iman Tauhid Islam (PITI). Menurut Ketua Yayasan Masjid Muhammad Ceng Hoo, HMY Bambang Sujanto, nama masjid yang mengambil sosok pejuang dari Tiongkok itu memang sengaja dilakukan untuk memberikan spirit kepada masyarakat Muslim Tionghoa yang ada di Indonesia, terutama di Surabaya.
'c2~
Dengan berdirinya masjid tersebut, kata Bambang, membuktikan bahwa Islam tidak membeda-bedakan siapapun untuk berlomba melakukan ibadah kepada Sang Khalik. Cerita di atas kemudian dijabarkan olehnya, bahwa nilai yang tertanam dari Laksamana Ceng Hoo adalah masalah perjuangan dan kebersamaan.
'c2~
Dia memandang, meski dalam cerita sering dikisahkan bahawa Ceng Hoo kerap menghadapi ratusan bahkan ribuan tentara musuh, namun tak pernah sekalipun terdengar kabar beliau menyerah. ''Inilah yang kami pegang sebagai dasar, sebab, untuk menegakkan syariat tidak ada kata menyerah. Lebih-lebih masyarakat Muslim Tionghoa merupakan minoritas di Indonesia, untuk itu perlu dibangkitkan dengan kisah-kisah perjuangan semacam itu, dan PITI siap mengakomodir mereka,'' tuturnya.
'c2~
Namun demikian, dalam pemanfaatannya, masjid yang bersebelahan dengan kantor PITI Jawa Timur itu tetap diperuntukkan bagi siapa saja, terutama kaum Muslim. ''Ini memang kebanggan bagi kami, namun kami juga menyadari ini adalah salah satu warna bagi dunia Islam. Untuk itu siapa saja (kaum Muslim) bisa memanfaatkan masjid ini,'' tegas Bambang bangga dengan gaya artistik Tionghoa yang ditonjolkan pada masjid itu.
'c2~
Wajar bila dia bangga dengan keberadaan masjid tersebut, sebab, Bambang memang warga negara keturunan dan dipandang cukup mewakili perasaan segenap masyarakat Muslim Tionghoa di Indonesia. Namun, kebanggan itu muncul pula dari Paguyuban Masyarakat Tionghoa Surabaya. Setidaknya, Ketua Paguyuban, Liem Ou Yen, pernah mengungkapkan hal itu. Kala itu, bulan-bulan terakhir menjelang Ramadhan, Liem beserta segenap masyarakat Tionghoa bertemu dengan KH Abdullah Gymnastiar.
'c2~
Kebetulan Aa Gym, demikian dai kondang ini kerap disapa, sedang melakukan tur safari Ramadhan 1424 H dan bertempat di Masjid Muhammad Ceng Hoo. Dalam penuturannya, Liem menyampaikan rasa bangga kepada masyarakat Muslim terutama Muslim Tionghoa yang menonjolkan kekayaan budaya Tionghoa meski dalam bentuk bangunan masjid.
'c2~
Liem mengaku sempat bertanya-tanya sebelumnya. Sebab, dengan ornamen layaknya bangunan kuil, setidaknya akan menimbulkan pro dan kontra dari kalangan masyarakat Muslim lainya. Ternyata, dia mendapati kenyataan bahwa Islam tidak seperti yang ia duga. Hal ini langsung ditegaskan oleh Aa Gym dalam ceramahnya waktu itu.
'c2~
Aa Gym menjelaskan, bahwa Islam merupakan agama yang memberikan rahmat bagi seluruh alam. Salah satu upaya untuk mewujudkan hal tersebut adalah dengan memperbaiki akhlak para pemeluknya. Untuk menjembatani terbentuknya akhlak, kata Aa Gym, perlu kesadaran umat untuk menerima perbedaan. ''Nabi Muhammad sendiri diutus ke dunia untuk memperbaiki akhlak manusia, tidak hanya di tanah Arab, tetapi seluruh umat yang ada di dunia termasuk masyarakat Tionghoa tentunya,'' kata dia di hadapan ribuan pengunjung yang hadir.
'c2~
Menginjak bulan Ramadhan 1424 H ini, Aa Gym mengajak segenap masyarakat Muslim Tionghoa untuk benar-benar memanfaatkan masjid sebagai sarana untuk bermunajat. Mereka juga diimbau untuk berbaur dengan masyarakat Muslim lainnya untuk memperdalam pengetahuan agama mereka. Terbukti, pada hari-hari pertama pelaksanaan ibadah puasa, tak kurang ada sekitar 600 orang memenuhi masjid tersebut.
'c2~
Mereka datang dari berbagai daerah dan dengan latar belakang yang berbeda. Pihak yayasan berserta segenap pengurus PITI Jatim menyediakan makanan gratis untuk berbuka puasa, dan ini akan berlangung sebulan penuh. Praktis, kawasan masjid tersebut tak pernah sepi. Sebab, masyarakat benar-benar memanfaatkannya selama 24 jam.
'c2~
Pemandangan yang cukup menyejukkan adalah pada jam-jam menjelang buka puasa. Ratusan umat Muslim sudah memadati areal masjid sejak pukul 16.00 WIB. Pada saatnya berbuka, mereka kemudian dijamu dengan makanan kecil dan air mineral (takjil), serta pembagian kupon berbuka puasa. Setelah selesai dilanjutkan dengan shalat tarawih beserta serangkain ceramah agama oleh beberapa ulama setempat.
'c2~
Dari beberapa jamaah yang sempat diwawancarai Republika umumnya mengatakan bahwa menjalani ibadah saat bulan Ramadhan di Masjid Muhammad Ceng Hoo benar-benar membantu mereka untuk memahami perbedaan. ''Meski secara fisik kami berbeda, namun di hadapan-Nya semua sama. Terbukti meski melakukan ibadah di tempat yang bernuansa Tiongkok, namun tata cara yang kami lakukan sama sebagaimana menjalankan ibadah di masjid-masjid lain,'' tutur salah seorang jamaah. Jadi, semua orang yakin Masjid Muhammad Ceng Hoo bisa menjadi jembatan pemersatu umat Muslim.