Goa Maria Tritis Pusat Pemurtadan di Selatan Gunung Kidul

Goa Maria Tritis Pusat Pemurtadan di Selatan Gunung Kidul

Postby Nur_aeni » 08 Nov 2010 23:31

Sabili, Rabu, 03 November 2010 21:10 eman Mulyatman sumber

Goa tempat bersemedi penganut Kejawen ini, sudah puluhan tahun beralih fungsi jadi pusat pemurtadan di selatan Gunung Kidul. Pemda pun menetapkannya sebagai kawasan wisata religi.

Meski baru saja menginjakkan kaki di Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Ahad pagi (16/7). Wartawan SABILI langsung bergerak menuju sasaran, sekitar jam 09.30 wib. Kali ini, yang dituju adalah Dusun Bulu, Desa Girang, Kecamatan Playen.

Dusun yang berjarak 45 km selatan Wonosari, Ibu Kota Kabupaten ini, dikenal penganut Katolik dari seluruh Indonesia. Kardinal Dharmoyuwono dari Paroki Semarang, Jawa Tengah, yang membuat kawasan pegunungan ini dikenal orang. Tahun 1979, ia menyulap sebuah goa di dusun ini, menjadi tempat ibadah. Selanjutnya, goa ini disebut Goa Maria Tritis (GMT).



Seperti kawasan Gunung Kidul lainnya, untuk mencapai dusun ini, harus menembus hutan jati, pegunungan tandus, hamparan tebing terjal dan jalan berliku. Meski begitu, harus diakui, sepanjang perjalanan dari Wonosari menuju GMT, akan disuguhi pemandangan spektakuler, berupa hutan batu. Sepertinya, batu-batu itu tumbuh berjajar bagai tanaman di punggung dan lembah perbukitan.

Pemda Kabupaten Gunung Kidul, juga menetapkan GMT menjadi kawasan wisata religi. Tak heran, jika sarana pendukung seperti listrik, telepon dan jalan sangat memadai. Apalagi, jalan di daerah ini merupakan salah satu sarana utama menuju kawasan wisata lainnya, seperti Makam Ki Ageng Giring, Pantai Baron, Pantai Kukup, Pantai Sepanjang dan lainnya sepanjang pantai selatan Gunung Kidul.

Begitu sampai di areal parkir, Wartawan SABILI di sambut seorang perempuan tua. Ia memperkenalkan diri sebagai Sintem (70). Menurutnya, jika sedang ramai, khususnya bulan Mei dan Oktober, lahan kosong seluas dua kali lapangan sepak bola di seberang jalan, penuh dengan bis, mobil dan kendaraan roda dua para pengunjung.

Selanjutnya, Mbah Sintem menawarkan diri mengantar Wartawan SABILI memasuki goa di atas bukit. Sepanjang jalan setapak, meniti tangga batu, istri almarhum Kramajimika ini menuturkan ceritanya. Selain itu, simbah yang masih kuat menapaki jalan mendaki dan menurun ini, juga menunjukkan relief dan patung-patung yang menggambarkan proses penyaliban Yesus Kristus.

Sejak menapaki tangga pertama hingga masuk ke dalam goa terdapat 24 Pos Doa. Pada setiap pos terdapat relief, patung dan sarana menyalakan lilin. Tapi, meski hampir tiap hari mengantar tamu ke dalam goa, ia mengaku masih memeluk Islam. Padahal, anaknya Fransisco Lasiman (35) dan menantunya Fransisca Wasilah (30), telah murtad masuk Katolik.

Mbah Sintem juga menuturkan, sebelum menjadi tempat ibadah Katolik, goa ini merupakan pertapaan penganut Aliran Kepercayaan (Kejawen). Nenek moyang dan leluhur sebagian penduduk Dusun Bulu merupakan penganut Kejawen. Sekarang pun masih ada pengikutnya. Di Goa Tritis ini, mereka tirakat dan tetirah memohon petunjuk pada Sang Widhi.

Entah bagaimana prosesnya, tiba-tiba goa dan pegunungan yang mengelilingi berserta isinya, pindah tangan menjadi milik Paroki Semarang. Total lahan yang dikuasai paroki ditaksir mencapai puluhan hektar. Mbah Sintem, tak mengetahui pasti proses peralihan kepemilikan lahan dan berapa luasnya.

Yang ia ingat, sebagian pegunungan di kawasan ini, merupakan milik orangtua suaminya. Namanya, Padrana. Sekitar tahun 1970-an, Paroki Semarang membeli tanah seluas lebih dari 2 hektar milik Mbah Padrana, seharga Rp 2 juta. Padahal, di atas tanah itu tumbuh ribuan pohon jati. Kini, tanaman berkualitas tinggi ini sudah siap ditebang.

Sesampainya di dalam goa, Wartawan SABILI kembali disambut oleh penjaga goa. Ia tak lain adalah menantu Mbah Sintem, Fransisca Wasilah (30). Berbeda dengan Mbah Sintem, setiap ada tamu yang datang, Wasilah langsung menyambutnya dengan doa atas nama Yesus Kristus.

Di dalam goa ini, terdapat patung Bunda Maria dalam ukuran besar. Di depannya, terdapat ubarampe (prasarana) bersemedi (bertapa). Di antaranya, puluhan lilin yang menyala, sarana dan alat-alat sesajen, bunga, kemenyan dan lainnya. Di belakangnya, digelar tikar dan karpet untuk duduk para pengunjung, yang menghadap ke arah Bunda Maria.

Selain itu, di kiri atas patung Bunda Maria, terdapat patung Yesus Kristus di tiang gantungan. Saat Wartawan SABILI berada di lokasi, terlihat sepasang muda dan mudi duduk terpekur menghadap Bunda Maria, kedua tangannya ditangkupkan, diangkat ke depan hidung, seperti posisi menyembah raja sambil menengadahkan kepalanya ke arah patung.

Entah apa yang diminta pasangan remaja ini. Yang jelas, setelah prosesi persembahan yang berlangsung sekitar 10 menit berakhir, sepasang remaja lainnya maju ke arah patung. Mereka lantas duduk bersimpuh dan memulai prosesi yang sama. Menurut Wasilah, mereka sedang berdoa memohon pada Bunda Maria. “Orang yang baru memeluk Katolik juga banyak yang diberkahi dan dimandikan di goa ini,” tegasnya.

Selanjutnya, Wasilah yang tampak ramah pada setiap pengunjung ini bertutur pada SABILI. Ia menjadi penjaga di goa ini menggantikan posisi orang tuanya, almarhum Prapto Sentono. Selama hidupnya, Prapto berprofesi sebagai juru kunci Goa Tritis sejak masih menjadi tempat pertapaan kalangan Kejawen.

Wasilah juga mengaku bahwa ia sebelumnya memeluk Islam, bahkan saat menikah, akad nikahnya dilakukan secara Islam. Entah bagaimana prosesnya, yang jelas wanita berputra dua ini, sepuluh tahun lalu mengikrarkan diri masuk Katolik bersama suaminya. Mereka dimandikan (dibaptis) di goa ini oleh Rama Dharmoyuwono.

Sejak itu, ia bertugas menjaga dan membersihkan goa ini tiap hari. Ia pun menggantungkan hidup dari uang tips yang diberikan oleh hampir semua pengunjung yang datang. Meski begitu, ia mengaku membebaskan anak-anaknya untuk memeluk agama apa saja sesuai keyakinannya.

Menurut Wasilah, semua agama punya tujuan sama, perbedannya terletak pada tata cara ibadahnya. Berulang kali ia mengucapkan kalimat ini. Bahkan, saat menyaksikan Wartawan SABILI tak melakukan prosesi apa pun, selain melihat-lihat dan memotret, ia langsung menebak, “Anda Muslim, ya?”

“Muslim dan Katolik juga sama. Sama-sama ingin menggapai keselamatan dunia dan akhirat. Jadi, jangan dipertentangkan. Anak perempuan saya, Tuti Yana dan suaminya, Deni Tyastanto, juga memeluk Islam,“ ujarnya. Rupanya, metoda menyamakan semua agama untuk memurtadkan umat Islam di kawasan ini, sudah dilajankan Gereja Katolik sejak lama. Hasilnya, generasi seperti Wasilah mulai tumbuh di wilayah ini.

Ketika SABILI bertanya tentang status tanah, ia mengatakan, jika tanah di kawasan ini sudah dibeli oleh Paroki Semarang. Jumlahnya sekitar lima gunung, dengan luas puluhan hektar. Paroki membeli dari warga dusun, seperti tanah ibu mertuanya dan beberapa warga lain serta tanah bengkok (milik) desa. “Harga belinya sekitar Rp 2 juta per kepala keluarga (KK),” tandasnya.

Itulah ironisnya, di dusun yang mayoritas penduduknya beragama Islam, bersemayam pusat peribadatan (baca: pemurtadan) Gereja Katolik yang dikunjungi penganutnya dari seluruh Indonesia. Dari data yang dikeluarkan Kantor Kepala Desa, dusun ini dihuni oleh 75 KK atau sekitar 200 jiwa. yang Katolik hanya 7 KK atau 30 jiwa. Sisanya, 68 KK atau 170 jiwa memeluk Islam.

Tapi, kenapa Goa Tritis berubah menjadi “Goa Katolik?” Menurut Tokoh Masyarakat Paliyan, H Junari, berdirinya “Goa Katolik,” karena ulah Kepala Desa Girang dan oknum aparat Pemda yang kebetulan menganut Katolik. Bahkan, Kepala Desa Girang sampai sekarang masih dijabat oleh orang yang menganut Katolik. “Di Gunung Kidul, jabatan biasa dimanfaatkan untuk mengembangkan misi pemurtadan,” tandasnya.

Untuk menjaga akidah umat, H Junari dan tokoh masyarakat lainnya tak tinggal diam. Selang setahun dari berdirinya Goa Maria Tritis, atas bantuan DPW Muhammadiyah Yogyakarta, umat Islam di kawasan ini mendirikan Masjid Ki Ageng Giring. Masjid ini berdiri bersebelahan dengan gapura masuk ke kawasan goa.

Supardi (49), salah satu pengurus masjid menuturkan, selain untuk shalat lima waktu dan shalat jumat, masjid ini juga dimakmurkan dengan berbagai acara tambahan, antara lain belajar baca tulis al-Quran dan iqra’ untuk anak-anak, pengajian bulanan, dan peringatan hari-hari besar Islam.

Tapi, saat Zuhur tiba, wartawan SABILI dan rekan pemandu tak mendengar suara azan dari masjid ini. Ketika didatangi untuk menunaikan shalat, pintunya terkunci dan air wudhu tak tersedia. Akhirnya, kami pun shalat di masjid lain yang jaraknya cukup jauh dari Dusun Bulu.

Inilah faktanya. Sekali lagi, ladang dakwah makin terbuka lebar di wilayah selatan Gunung Kidul ini. (Dwi Hardianto Majalah Sabili, Indonesia Kita 03/XIV)
Image
Perbanyak dengan salam & doa-doa
User avatar
Nur_aeni
Junior User
 
Posts: 480
Joined: 12 Jan 2010 11:02

Return to Kristenisasi

Who is online

Users browsing this forum: No registered users and 1 guest

cron