Masjid-Masjid Tertua & Kuno

forum sahabat sahabat mualaf

Masjid-Masjid Tertua & Kuno

Postby daffa » 22 Jan 2010 15:38

Masjid Lautze, Masjid Dakwah Tionghoa Di Antara Jajaran Ruko

Sepintas, tak tampak masjid di deretan ruko di Jalan Lautze, Sawah Besar, Jakarta Pusat. Tak hanya gedungnya yang menyerupai ruko, aktivitasnya pun punya ciri khas sendiri.

Tak seperti pada umumnya masjid yang mengadakan buka puasa bersama setiap hari di bulan Ramadan, Masjid Lautze di Jalan Lautze, Sawah Besar, Jakarta Pusat ini mengadakan buka bersama dan salat tarawih berjamaah hanya di hari Minggu.

Image

Dengan demikian, pada Ramadan kali ini mereka hanya mengadakan berbuka dan tarawih sebanyak empat kali.

“Kita disesuaikan dengan masyarakat sini yang umumnya bekerja,” kata Humas Yayasan Haji Karim Oei, Yusman Iriansyah kepada detikRamadan, Senin (7/9/2009).

Masjid yang didirikan pada 1991 ini memang berbeda dengan masjid lainnya di Jakarta. Bentuknya mirip sebuah ruko empat lantai yang diapit puluhan ruko di kawasan pecinan padat penduduk di Pasar Baru. Pada bagian depan masjid, terpampang papan besar betuliskan Yayasan Haji Karim Oei (YHKO).

Tidak ada kubah maupun menara. Area salat juga tidak terlalu luas, hanya sekitar 100 meter persegi di lantai satu dan lantai dua. Pada lantai tiga masjid yang merupakan sekretariat pengurus, terpampang foto Haji Karim Oei bersama Presiden pertama RI Soekarno, dan ulama Buya Hamka. Masjid ini sudah menuntun 1000-an keturunan Tionghoa menjadi mualaf (masuk Islam) sejak tahun 1997.

“Masjid ini juga biasa disebut masjid jam kerja. Karena pada hari-hari biasa, masjid sudah ditutup setelah salat Ashar. Masjid tidak mengadakan salat Magrib dan salat Isya. Sebab, jamaah di sini datang dari jauh di Jabodetabek, mereka hanya punya waktu di hari Minggu,” ujarnya.

Setiap Minggu para jamaah yang hampir semuanya merupakan muslim keturunan Tionghoa berkumpul di masjid untuk pengajian. Dari pukul 10.00 WIB hingga pukul 12.00 WIB diadakan pengajian umum, dan selepas salat Zuhur pengajian untuk mualaf (orang yang baru masuk agama Islam).

Jika hari Minggu, ratusan jamaah sudah berdatangan sejak waktu Zuhur. Jamaah kemudian mengadakan pengajian, tadarus, dan bedah buku hingga sore. Dilanjutkan kegiatan bazar dan pembagian bingkisan sembako kepada para jamaah yang kurang mampu. Menjelang waktu berbuka, diisi dengan ceramah beberapa menit hingga waktu azan tiba. Para jamaah dibagikan masing-masing segelas air mineral dan tiga buah kurma.

Usai salat Magrib, jamaah menyantap hidangan yang sudah disediakan pengurus masjid di lantai tiga. Keakraban antar jamaah sangat terasa di sini. Selain karena hampir semuanya merupakan warga keturunan Tionghoa, sebagian besar diantaranya merupakan mualaf.

“Setiap bulan Ramadan, jumlah orang yang hendak masuk Islam mengalami peningkatan. Pada hari-hari biasa, hanya sekitar enam orang dalam sebulan. Namun sekarang baru seminggu puasa, sudah ada lima orang yang masuk Islam disini,” tuturnya.

Awalnya, masjid ini merupakan masjidnya umat Islam keturunan Tionghoa. Seiring waktu, banyak warga keturunan yang hendak masuk Islam dan menghubungi masjid ini.

Akhirnya pada 1997 barulah masjid ini menuntun para warga keturunan itu menjadi mualaf. Setiap warga keturunan Tionghoa yang hendak masuk Islam biasanya berkonsultasi beberapa kali sebelum akhirnya mengucap dua kalimat syahadat.

Para mualaf yang masih malu-malu beribadah di masjid lain akhirnya terus mengaji dan belajar agama di masjid ini. Mereka mempunyai rasa kebersamaan dan keakraban yang tinggi antar sesamanya, dan menjadi jamaah tetap di masjid ini. Yusman menambahkan, ada dua macam mualaf yang di-Islam-kan di Masjid Lautze. Yakni yang mendapat piagam dan yang tidak diberi piagam.

“Sebab ada beberapa orang yang di KTP-nya sudah Islam, padahal baru mau masuk Islam, nah yang seperti itu tidak kita beri piagam,” tandasnya.

Hingga kini sejumlah Masjid YHKO juga bermunculan di daerah-daerah seperti di Jabodetabek, Bandung, hingga kota-kota di Jawa Tengah.

“Banyak yang hendak bergabung bersama kami dan mendirikan masjid, malah di Bandung dinamakan Masjid Lautze 2, padahal adanya di Jalan Tamblong,” tutur Yusman.
Image

Image
daffa
Junior User
 
Posts: 373
Joined: 12 Oct 2009 10:55

Re: Masjid-Masjid Tertua & Kuno

Postby daffa » 16 Jun 2010 09:37

Menyelusuri Masjid-Masjid Tua

Dari Jayakarta ke Tumenggung Mataram, Ketika VOC (Kompeni) menaklukkan Jayakarta (Mei 1619), JP Coen bukan saja menghancurkan keraton, tapi juga memporakporandakan masjid Kesultanan Jayakarta yang kini letaknya kira-kira di Kalibesar Timur. Pangeran sendiri dan para pengikutnya kemudian hijrah ke Jatinegara Kaum, dekat Pulogadung, Jakarta Timur. Mengikuti jejak Rasulullah, Pangeran Ahmad Jaketra di tempatnya yang baru membangun sebuah masjid yang diberi nama As-Salafiah.

Dari masjid yang dijadikan markas inilah, pengeran dan para pengikutnya bergerilya melawan Belanda. Sekalipun sudah berusia hampir empat abad, masjid ini masih berdiri kokoh. Ini terlihat dari empat tiang utama terbuat dari kayu jati yang menjadi penyangga masjid tersebut. Sekalipun masjid ini sudah delapan kali di renovasi dan diperluas tapi empat tiang utama ini masih kita dapati. Hal yang sama juga masih terlihat pada masjid-masjid tua lainnya. Dari masjid As-Salafiah inilah, ia mengobarkan semangat jihad kepada para anak buahnya yang tetap setia. Sambil tidak henti-hentinya mengusik Belanda dalam upaya merebut kembali Jayakarta. Menurut sejarah versi Belanda, sampai 1670 Batavia tidak pernah aman dari gangguan keamanan akibat aksi gerilya ini. Ketika Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten menyerang VOC, Jatinegara Kaum kembali memegang peran penting sebagai pos terdepan.

Hal yang sama juga terjadi ketika balatentara Mataram melakukan dua kali penyergapan ke Batavia (1628 dan 1629). Seperti juga masjid-masjid tua lainnya, di samping kiri masjid terdapat makam-makam. Termasuk makam Pangeran Ahmad Jaketra, para keluarga dan pengikutnya. Adanya kuburan ini baru diumumkan pada 1956 bertepatan dengan HUT DKI ke-429. Dengan alasan Belanda sudah enyah dari bumi Indonesia, yang sebelumnya selalu dirahasiakan. Jatinegara Kaum mungkin merupakan kampung tertua di Jakarta, dengan penduduk aslinya bukan Betawi, mengingat waktu itu Jayakarta dikuasai Kerajaan Banten. Para penduduk asli juga menggunakan bahasa Sunda yang bersumber dari Banten, bukan bahasa Melayu dialek Betawi.

Ada yang terlantar
Dari Jatinegara Kaum, mari kita menuju ke Proyek Senen, Jakarta Pusat. Tapi kita bukan untuk berbelanja. Karena dibagian belakang dari proyek Senen, tepat di depan Gelanggang Remaja Planet Senen dan Stasion KA Senen juga terdapat sebuah masjid tua, Al-Arief namanya. Tidak diketahui pasti berapa usia masjid ini. Menurut seorang petugasnya, konon usianya lebih dari 200 tahun. Sayangnya, petugas ini tidak mau menjelaskan lebih rinci tentang masjid ini. Ia hanya menyatakan kecewa karena masjid tua yang dulunya terletak di Gang Jagal Senen tidak pernah mendapat bantuan pemerintah.

Terlantar, begitu ia mengistilahkan kondisi peninggalan sejarah ini. Di belakang masjid yang dapat menampung sekitar 500 jamaah ini, terdapat lima buah makam tua. Diantaranya makam Syekh Daeng Ariefuddin, pendiri masjid Al-Arief. Menurut seorang petugas, ia adalah keturunan Sultan Hasanuddin dari Sulawesi Selatan. Masjid ini pernah mau dibongkar pada masa Belanda, dan juga setelah kemerdekaan. Tapi berkat kegigihan pengurusnya dan umat Islam setempat, upaya membongkar masjid ini dapat digagalkan. Memang sampai tahun 1967 lokasi masjid ini di daerah hitam Planet Senen. Hingga didepannya seringkali mangkal para WTS dan hidung belang. Waktu itu ada pemeo : ''Mau menuju ke surga (masjid) atau ke neraka (tempat WTS) ada semua di sini''. Tapi sayangnya, para pengunjung lebih banyak menuju ke neraka! Di Pasar Senen, salah satu pasar tertua di Jakarta juga terdapat sebuah masjid tua lainnya. :cry:

Masjid At-Taibin yang terletak disamping gedung Gas Negara. Didirikan oleh para pedagang Pasar Senen sejak 1815. Masjid ini juga dapat diselamatkan dari pembongkaran Segi Tiga Senen pada tahun 1980-an. Seperti juga masjid tua lainnya, masjid At-Taibin juga disangga oleh 4 tiang berjejer lurus, terbuat dari kayu jati hitam. Tiap tiang memiliki nama sesuai dengan pemberian orang-orang yang menyumbangnya. Tiang pertama bernama Hajjah Fulana binti Husain, kemudian berturut-turut Hajjah Jantiyah, Haji Muhammad bin Fulan, dan Haji Sarbi. Para penyumbang ini tentunya orang-orang yang hidup saat masjid ini dibangun. Saat revolusi kemerdekaan, masjid ini pernah juga dijadikan markas pasukan Siliwangi. Dari masjid-masjid inilah para ulama memberikan semangat kepada pejuang dalam melawan Belanda. Masjid terletak di Jl Senen Raya 4, Kalilio, Jakarta Pusat.

Satu masjid dua nama
Dari Senen, kita memasuki kawasan Kwitang. Tidak jauh dari kali Ciliwung terdapat Masjid Al-Riyadh. Tapi orang lebih mengenalnya sebagai masjid Kwitang. Masjid ini dibangun sekitar satu abad lalu oleh Habib Ali Alhabsji, tokoh ulama Betawi. Awalnya masih berbentuk mushola. Sampai tahun 1960-an, Habib Ali selalu mengajar di masjid ini. Ia kemudian membangun Islamic Centre Indonesia di kediamannya, kira-kira 300 meter dari masjid. Masjid ini pada tahun 1963 pernah diresmikan Bung Karno. Oleh proklamator kemerdekaan Indonesia ini, masjid itu diberi nama Baitul Ummah atau kekuatan umat. Tapi kemudian diganti lagi dengan nama semula. Kawasan Glodok atau China Town yang selalu hingar bingar banyak memiliki masjid tua. Agak sedikit terpencil di Jl Pengukiran II terdapat sebuah masjid kecil. Seorang pengurusnya menyatakan, masjid yang diberi nama Al-Anshor didirikan oleh para pendatang dari Malabar (India) pada abad ke-17, tepatnya pada 1648.

Berbeda dengan masjid-masjid lainnya, masjid Al-Anshor yang dulunya luas dan terdapat pemakaman, kini sudah menyatu dengan rumah-rumah penduduk. Sudah tidak ada lagi yang tersisa untuk pekarangan masjid. Tidak diketahui berapa lama masjid ini digunakan oleh para imigran India. Karena para imigran dari negeri martabak yang datang belakangan mendirikan sebuah masjid lainnya, tak jauh dari masjid ini. Masjid baru yang dibangun di Jl Bandengan Selatan 34, oleh masyarakat setempat disebut Masjid Kampung Baru. Didirikan 1748 kini hanya tersisa beberapa dari bangunan aslinya. Seperti empat tiang penyangga dan beberapa pilar kecil pada jendela. Masih di kawasan Kota, di Jl Pekojan, terdapat sebuah masjid tua yang dibangun abad ke-18. Masjid An-Nawier erat kaitannya dengan masjid kuno di Keraton Surakarta dan Keraton Banten.

Menurut Dinas Museum dan Pemugaran DKI Jakarta, masjid Pekojan yang dapat menampung hingga 2000 jamaah, masa lalu merupakan salah satu masjid yang berperan dalam penyebaran Islam. Melihat masjid-masjid tua di Jakarta, tampak sekali sentuhan arsitektur Cina ikut berperan. Terutama pada Masjid Kebon Jeruk dan Angke. Bahkan di Masjid Kebon Jeruk, dekat penyeberangan Sawah Besar - Ketapang, kubahnya mendapat sentuhan arsitektur Cina. Berdiri pada 1786, masjid ini merupakan masjid pertama bagi 'peranakan' Cina (istilah orang Cina yang masuk Islam) di daerah Glodok. Di sini terdapat makam Ny Cai, istri pendiri masjid tersebut, Kapiten Tschoa. Kapiten inilah yang ketika itu memimpin masyarakat Muslim di Batavia. Masjid Tambora yang terletak di tepi kali Blandongan (anak dari kali Ciliwung) mempunyai kisah menarik.

Masjid ini dua abad lalu dibangun oleh orang-orang bekas tahanan Belanda. Ketika itu di daerah yang sekarang berdiri masjid datang sekelompok orang dari kaki pegunungan Tambora di Sumabawa. Mereka dibuang ke Batavia untuk kerja paksa (rodi) akibat menentang kekuasaan Belanda. Setelah bebas mereka memilih tinggal di daerah itu. Pada 1181 (1762 M) dibawah pimpinan Ki Mustadjib, tokoh masyarakat Tambora mereka mendirikan sebuah masjid. Untuk mengenang nama daerahnya, mereka menamakan Masjid Tambora. Di depan masjid ini terdapat makan pendirinya. Hanya beberapa ratus meter dari sini, terdapat sebuah masjid kuno lainnya. Masjid Al-Mansyur didirikan permulaan abad ke-18 oleh Abdul Mihad, putra dari Pangeran Tjakrajaya, sepupu dari Tumenggung Mataram. Keberangkatan ke Jakarta dalam rangka membantu rakyat Jayakarta untuk mengusir VOC.

Karena usahanya secara fisik tidak berhasil, maka Abdul Mihad berusaha melalui jalan lain untuk menentang penjajahan. Yakni dengan mendirikan masjid pada 1717. Di masjid inilah dia mengadakan ceramah-ceramah untuk menggelorakan semangat rakyat menentang penjajah. Pada 1947, masjid ini pernah ditembaki pasukan NICA. Pasalnya, KH Moh Mansyur, pimpinan masjid saat itu memasang merah putih di puncak menaranya. Kyai Mansyur kemudian ditangkap Belanda. Setelah ia wafat (12 Mei 1967) masjid ini pun dinamakan Masjid KH Mohd Mansyur. Sekaligus menjadi jalan utama di Kampung Sawah, Jembatan Lima, Jakarta Barat. Tentu masih banyak lagi sejumlah masjid, yang bukan saja patut dikenang karena kekunoannya, tapi juga perlawanannya dalam menentang penjajahan.

http://mualaf.com/ragam-dan-muhibah/Muh ... masjid-tua
Image

Image
daffa
Junior User
 
Posts: 373
Joined: 12 Oct 2009 10:55

Re: Masjid-Masjid Tertua & Kuno

Postby daffa » 16 Jun 2010 09:49

Menelusuri masjid tua dan bersejarah Aceh

Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), memiliki beragam obyek wisata spritual yang khas, antik, dan menarik berupa masjid-masjid tua dan bersejarah. Usai bertandang ke masjid-masjid tersebut, pastinya Anda akan membawa pulang segudang pengetahuan, seperti sejarah tempo doeloe Aceh, arsitektur kuno, dan tentunya rasa keimanan yang kian menebal.
Di ujung Juni, langit di atas Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM), Banda Aceh, siang itu sedikit berawan kelam. Kendati begitu, bangunan utama bandara yang berarsitektur masjid modern dengan kubah didominasi warna hijau, tetap tampil megah dan indah. Saat melihat gaya bangunan bandara tersebut dari kejauhan, nuansa Islami yang membalut bumi Serambi Mekkah ini sudah mulai terasa.

Image

Ketika mobil rombongan press tour ke Aceh yang digelar Direktorat Nilai Sejarah, Dirjend Sejarah dan Purbakala, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata meninggalkan Bandara SIM, langit mencurahkan sayangnya ke bumi dengan rintik-rintik hujan. Padahal menurut salah seorang sopir, sudah lama tak turun hujan. Kondisi cuaca saat itu, seolah menyambut kedatangan rombongan press tour di provinsi terbarat Indonesia tercinta ini.

“Tujuan press tour mengunjungi masjid-masjid tua dan bersejarah serta sejumlah situs purbakala yang ada di Aceh, mengingat masjid-masjid di Aceh menjadi pusat kekayaan budaya sekaligus perjuangan masyarakat Aceh. Setelah itu disebarluaskan informasinya ke media agar keberadaan dan nilai-nilai sejarahnya diketahui masyarakat luas,” jelas Direktur Nilai Sejarah, Drs. Shabri A kepada Waspada saat tiba di Masjid Baiturahim, yang kini kerap dikunjungi wisatawan karena tetap tgar berdiri meski ditsapu tsunami.

Mengingat wilayah Aceh begitu luas dan obyek bersejarahnya tersebar di sejumlah kabupaten dan kota, press tour kali ini cuma mengambil obyek yang ada di 1 kota dan 4 kabupaten yakni Kota Banda Aceh, Kabupaten Aceh Besar, Pidie, Pidie Jaya, dan Kabupaten Aceh Barat.

Khusus masjid tua dan bersejarah yang berhasil dikunjungi press tour kali ini cukup banyak, pertama Masjid Baiturrahim di Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh (Baca: City Tour ke Banda Aceh, Menikmati Wisata Khas Tsunami). Kemudian berlanjut ke Masjid Indra Puri di Kebupaten Aceh Besar, Masjid Guci Rumpong atau Tengku Chik Di Pasi di Kabupaten Pidie, Masjid Madinah di Kabupaten Pidie Jaya, Masjid Gunong Kleng dan Masjid Tuha Manjing di Kabupaten Aceh Barat serta terakhir Masjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh.

Sebelum bertolak ke masjid-masjid tersebut, rombongan press tour mendatangi Gubernur Prov.NAD, Irwandi Yusuf. Menurut beliau Aceh memiliki banyak obyek wisata spritual baik yang sudah terkenal maupun situs-situs yang belum diketahui keberadaannya. Bila dikembangkan pasti akan mendatangkan wisatawan baik dari dalam maupun luar Aceh. Sebab masjid bukan cuma sebagai tempat ibadah, bila arsitekturnya antik, unik atau bahkan megah, masjid bisa menarik sebagai obyek wisata. “Kami akan serius mengembangkan wisata spritual di Aceh dan sekaligus menyadarkan masyarakat bahwa pariwisata itu bukan cuma bule-bule berjemur di pantai,” jelasnya.

Sementara Kadisbudpar Prov. NAD, Mirzan Fuadi mengatakan obyek wisata di Aceh sangat beragam, baik alam, budaya, sejarah, religi, dan lainnya. “Peminatnya hampir merata, cukup tinggi termasuk peminat ke obyek wisata sejarah dan religi,” terangnya.

Bekas peninggalan Hindu
Masjid Indrapuri yang kami kunjungi berada di Desa Pekuan Indrapuri, Kecamatan Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar. Menurut Kepala Seksi Pelestarian dan Pemanfaatan BP3 Aceh, Dahlia, masjid berkonstruksi kayu ini didirikan di atas reruntuhan bangunan benteng yang diperkirakan bekas peninggalan Hindu yang pernah dimanfaatkan sebagai benteng pertahanan di masa pendudukan Portugis dan Belanda.

“Setelah Islam masuk dan berkembang pesat di Aceh, benteng yang semua tempat peribadatan Hindu, dindingnya dihancurkan dan digantikan dengan masjid. Begitu juga dengan ornamen asli penghias bangunan dalam, ditutup plester mengingat ajaran Islam melarang adanya penggambaran makhluk bernyawa,” jelas Dahlia.

Berdasarkan pantauan Waspada, masjid yang dibangun tahun 1270 Hijriah atau akhir tahun 1853 ini miskin arsitektur. Bentuk atapnya limas tumpang tiga seperti masjid-masjid tradisional di Jawa. Kekuatan masjid ini justru berada di atas benteng yang kokoh. Sayangnya kondisi masjid ini kurang terawat. Kolam persegi empat yang berada di depan bangunan utama masjid, kering dan terisi bermacam sampah.

Menurut Bupati Aceh Besar, H. Bukhari Daud, bentuk bangunan Masjid Indrapuri merupakan asli dari masjid-masjid tradisional yang di Indonesia. Bahkan Masjid Demak di Jawa mengambil contoh arsitektur masjid ini. “Sayangnya banyak masyarakat Aceh yang belum tahu bahwa inilah bentuk asli tradisional masjid kita yang seharusnya dipertahankan. Mereka justru lebih tertarik dengan arsitektur masjid gaya Turki yang akhirnya mendominasi arsitektur masjid di Aceh sekarang ini,” jelasnya.

Lain lagi dengan Masjid Guci Rumpong yang berada di Desa Guci Rumpong, Kecamatan Peukan Bari, Kabupaten Pidie. Masjid yang dibangun oleh Syech Abdussalam yang berjuluk Tengku Chik Di Pasi pada abad 17 Hijriah. Karena itu pula masjid ini dikenal dengan nama Masjid Tengku Chik Di Pasi.

Yang menarik di masjid ini terdapat dua guci besar berwarna hitam yang ditempatkan di tempat khusus semacam kandang di sisi kanan masjid. “Menurut sejarah, kedua guci itu dulu pernah berkelahi hingga salah satunya giging rumpong atau ompong,” jekas Ismail Iskak, Pengurus masjid Guci Rumnpong. Di dalam kedua guci itu, lanjut Ismail Iskak, berisi air yang dipercaya masyarakat berkhasiat menyembuhkan berbagai penyakit.

Di dalam masjid ini terdapat sebilah bambu kuno yang berdiri tegak menuju atap masjid. “Bambu ini berumur 4,5 abad tujuannya dulu untuk memperbaiki atap dan membantu petugas azan naik ke atas untuk mengumandangkan azan, karena waktu itu belum ada alat pengeras suara,” ungkap Ismail Iskak lagi.

Sedangkan Masjid Madinah yang berada Jalan Poros Sigli-Medan tepatnya di Desa Dayah Krut Kuta Baro, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, juga punya kaitan dengan Masjid Guci Rumpon. Dulunya Guci Rumpong berasal dari masjid ini namun kini bukan guci asli. Kendati begitu air di dalam guci yang berada di masjid ini juga dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit. “Bahkan ada wisatwan asal Malaysia yang mengambil air di masjid ini untuk penyembuhan,” jelas Ismail B selaku juru pelihara Masjid Madinah.

Masjid Madinah dibangun oleh Muhammad Jalaluddin yang berjuluk Tengku Japakeh pada tahun 1623 Masehi, sehingga sering disebut juga Masjid Japakeh. Arsitektur masjid ini pun beratap tumpa bersusun dua dari genteng dengan puncak mustaka berbentuk bulat lonjong dari bahan seng.

Di Kabupaten Aceh Barat, rombongan mengunjungi Masjid Gunung Kleng yang berada di Desa Gunung Kleng, Kecamatan Meureubho dan Masjid Tuha Manjing di Desa Manjing, Kecamatan Pantai Cermin.

Masjid Gunung Kleng yang dibangun tahun 1927, berarsitektur unik dengan lima kubah. Menara masjidnya, dulu berfungsi sebagai alat untuk menyuarakan azan hingga menjangkau radius yang cukup jauh.

Masjid Tuha Manjing tak kalah antik. Masjid yang dibangun tahun 1918 atas swadaya masyarakat setempat ini dikelilingi deretan pohon pinang yang tinggi dan berbatang lurus ramping.

Yang unik, masjid berbentuk segiempat dengan tiang soko guru 4 buah dan 12 tiang lainnya, beratap tumpang dua dari rumbia dan dinding dari bambu yang dibelah dua ini, pembuatannya mengikuti pola masjid kuno yakni tanpa menggunakan paku. Hanya menggunakan pasak dan tali ijuk sebagai penguat.
Di Masjid Tuha Manjing, rombongan press tour disambut hangat warga setempat dengan suguhan kelapa muda yang diambil tak jauh dari masjid ini.

Masih jadi ikon
Masjid Baiturrahman di Banda Aceh menjadi penutup kunjungan press tour ke masjid-masjid kuno dan bersejarah di Aceh. Kendati bermunculan obyek wisata baru pasca tsunami, masjid raya ini tetap menjadi ikon pariwisata Banda Aceh bahkan Prov. NAD. Hingga ada anggapan, kalau belum ke masjid yang dibangun tahun 1292 atau abad ke 13 ini saat ke Aceh, belumlah sempurna.

Berdasarkan pantauan Waspada, kondisi masjid raya ini kini semakin baik pasca diterjang tsunami. Pengunjungnya pun tetap ramai, baik jamaah yang ingin shalat maupun wisatawan lokal yang berwisata atau melakukan pengambilan foto prewedding. Wisatawan dari luar Aceh dan beberapa pasang turis asing juga terlihat. Umumnya wisatawan yang datang ingin menikmati arsitektur Eropa, Turki dengan sentuhan Islam dan tradisional masjid ini, dan tak lupa foto diri berlatar belakang masjid indah ini.

Menurut Ketua Masyarakat Sejarahwan Indonesia (MSI) Aceh, Prof. Misri A. Muchsin, meski penampilan fisik Masjid Baiturrahman pasca tsunami sudah kembali bagus, namun untuk kembali menjaring wisatawan, masjid ini perlu melakukan peningkatkan pelayanan. “Pengurus ataupun penjaga masjid harus bersikap lebih ramah agar pengunjung merasa betah dan nyaman. Di samping itu pemandu wisata yang mahir berbahasa Inggris dan asing lainnya harus diperbanyak,” jelasnya.

Kendati bermunculan obyek wisata baru pasca tsunami, bagi masyarakat Aceh keberadaan Masjid Raya Baiturrahman tetaplah penting. Bukan semata sebagai simbol kebanggaan semata melainkan pula menjadi sandaran hidup bagi sebagian kecil warganya. Salah satunya buat Zulkisar, salah serorang khadam (petugas kebersihan) di Masjid Baiturrahman yang berjumlah 22 orang.

Menurut Zulkisar yang sudah bekerja sebagai khadam sejak tahun 1969, penghasilannya sebagai khadam membantu menopang hidup keluarga barunya. “Saya bekerja setengah hari dari pukul 8 pagi sampai 12 siang atau mulai pukul 1 siang hingga 4 sore, sebelum atau setelah itu melaut di Pantai Ulee Lheue,” kata Zulkisar sambil membersihkan ornamen tembaga di salah satu pilar dalam masjid dengan cairan kimia racikan sendiri.

Gelap malam berangsur menyelimuti langit di atas Masjid Raya Baiturrahman. Namun pesona keindahan masjid raya ini tak lantas memudar. Lampu-lampu masjid dan bayangan bangunan yang terpantul di air kolam di depan masjid, justru menghadirkan pesona tersendiri. Tak berlebihan di kala malam merayap, masih banyak pengunjung yang datang untuk menikmati dan mengabadikan keindahannya.

Image
Tugu Peringatan Tsunami

http://www.waspada.co.id/index.php?opti ... &Itemid=50
Image

Image
daffa
Junior User
 
Posts: 373
Joined: 12 Oct 2009 10:55


Return to Sahabat Mualaf

Who is online

Users browsing this forum: No registered users and 1 guest