Organisasi Mualaf - Yayasan Karim Oey
Thursday, 17 November 2005 05:00
TAMPILAN luarnya tampak seperti ruko biasa. Apalagi, di sebelah kirinya ada papan nama kantor notaris, dan di sebelah kanannya ada papan nama perusahaan kontraktor. Hanya tulisan "Masjid Lautze 2" yang menjadi penanda bahwa di lantai dua, satu petak ruko di Jalan Tamblong Nomor 27, Bandung, itu adalah sebuah masjid. Tulisannya itu pun tak begitu mencolok. Kubahnya hanya berupa gambar di dinding kaca.

Sesuai dengan namanya, masjid ini merupakan "cabang" Masjid Lautze di Jakarta. Maka, tak mengherankan, di dindingnya ada foto besar ukuran 60 x 40 sentimeter memperlihatkan Karim Oei bersama Presiden RI Soekarno. Seperti juga di Jakarta, Masjid Lautze 2 merupakan masjid pertama komunitas keturunan Tionghoa di Bandung. Masjid ini pun didominasi warna merah seperti terlihat di kelenteng.
Ukurannya hanya 7 x 6 meter, sehingga hanya mampu menampung paling banter 60 jamaah. Selain tempat salat, terdapat pula kantor dewan keluarga masjid yang dibatasi tripleks. Berbagai poster mengenai kejadian bumi, alam setelah kiamat, cerita kenabian, terpampang di pembatas itu.
Ruko yang dulunya toko buku itu berubah fungsi menjadi masjid sejak 1999. Saat itu bersamaan dengan dibukanya cabang Yayasan Karim Oei di Bandung. Sekretariat yayasan ini berada di lantai dasar bangunan bertingkat dua itu. Harga sewanya hanya Rp 6 juta. Terhitung murah, karena ruko ini terletak di kawasan strategis. "Harga sewa tak naik dari dulu. Mungkin yang punya tahu bahwa kami nggak punya uang, dan senang tempat ini dijadikan masjid," kata Muhammad Sultoni, pengurus Masjid Lautze 2.
Kini, masjid sekaligus kantor yayasan itu itu berkembang menjadi tempat berkumpulnya warga keturunan Tionghoa yang memeluk agama Islam di Bandung. Mereka rajin menggelar pertemuan berkala saban Ahad. Selain untuk bersilaturahmi, pertemuan itu juga untuk mendengarkan ceramah dari para kiai yang diundang. "Materi yang dijadikan bahan ceramah biasanya menyangkut kehidupan sehari-hari, untuk memperkuat iman,'' ujar Muhammad. Masjid ini juga meluaskan fungsinya sebagai tempat kursus bahasa Mandarin.
Menurut Muhammad, sebetulnya masjid itu sudah tidak memadai lagi untuk menampung jamaah warga keturunan Tionghoa. Bila shalat Jumat berlangsung, jamaah Lautze meluber sampai ke trotoar. Jamaahnya mencapai ratusan. Bukan hanya warga keturunan yang sengaja datang, Masjid Leutze 2 juga digunakan para karyawan yang berkantor tak jauh dari situ. Kebetulan di sekitar kawasan itu memang tidak terdapat masjid.
Pengurus Masjid Lautze 2 sudah berencana membangun masjid baru. Namun, karena terbentur dana, keinginan itu terpaksa diredam dulu. "Kami harus sabar. Yayasan tetap ingin masjid berada di pusat bisnis. Mualaf umumnya berbisnis," kata Muhammad.
Mungkin karena statusnya masih kontrak, pengurus masjid tak terlalu bersemangat menyesuaikan bangunan masjid itu dengan masjid kebanyakan. Alhasil, kendati lokasinya di kawasan padat, tak banyak warga Bandung yang menyadari bahwa satu petak ruko di Jalan Tamblong itu adalah rumah Allah.
| Next > |
|---|






"Setelah seorang keturunan Tionghoa menjadi muslim, maka keadaannya sungguh berlainan. Antara si pribumi (yang umumnya beragama Islam) dan nonpri keturunan Tionghoa yang masuk Islam, terjalin suatu hubungan batin yang luar biasa menakjubkan. Persamaan agama, dalam hal ini Islam, menciptakan hubungan mesra dan mengharukan sebagai saudara seagama. Berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits, arti dan nilai saudara sekandung tidak lebih besar dari saudara seagama. Bahkan, saudara sekandung bisa berbeda agama dengan segala konsekuensinya di akhirat. Sedangkan, saudara seagama sifatnya abadi di dunia maupun di akhirat." Junus Jahja