Monday, 24 November 2008 18:57
HM Syarif Tanudjaja SH dipercaya sebagai ketua umum DPW PITI DKI Jakarta. Dalam jajaran pimpinan ada juga H Muliawan (ketua I), Indrawan Abdurrahman (ketua II), dan Ir H Amir Abdullah (Ketua III). Ahmad Liu ST MM dipercaya sebagai Sekretaris Umum dengan wakil Kelvin Ikhwan SSn yang juga salah satu personil grup nasyid Lampion. Sedangkan Kepala Sekretariat dipimpin Agri Mediawan SPdi serta bendahara dipercayakan kepada M Sugirus dan wakil bendahara H Joni Anwar SE.
Sebagai organisasi dakwah, menurut Syarif, DPW PITI DKI Jakarta merumuskan beberapa kegiatan di dalam menjalankan fungsinya yang diharapkan nantinya bisa menyentuh dan bermanfaat khususnya bagi para muallaf dalam rangka membekali diri mereka dengan ilmu, pemahaman, keyakinan dan amal-amal shaleh agar secara bertahap kualitas keislaman dan keimanan mereka menjadi lebih baik, serta hati mereka pun menjadi kuat memegang teguh Islam.
''Target utama dari kegiatan DPW PITI DKI Jakarta periode 2008-2013 yang sifatnya pelayanan umar adalah: pengislaman, pembinaan muallaf dan keluarganya dalam majelis taklim baik bentuknya belajar baca tulis Alquran, mempelajari pokok-pokok keimanan (aqidah Islamiyah) dan tata cara thaharah, tata cara shalat serta rukun Islam lainnya. Kegiatan lainnya adalah konsultasi keislaman dan menjembatani keluarga muallaf yang bermasalah karena keislamannya semisal pengusiran, intimadasi dan sebagainya. Untuk itu semua tentu memerlukan anggaran biaya yang tak sedikit. Karena itulah kami kemudian mengadakan Gerakan Wu Wan yakni gerakan peduli muallaf,'' Syarif menambahkan.
| Next > |
|---|






"Setelah seorang keturunan Tionghoa menjadi muslim, maka keadaannya sungguh berlainan. Antara si pribumi (yang umumnya beragama Islam) dan nonpri keturunan Tionghoa yang masuk Islam, terjalin suatu hubungan batin yang luar biasa menakjubkan. Persamaan agama, dalam hal ini Islam, menciptakan hubungan mesra dan mengharukan sebagai saudara seagama. Berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits, arti dan nilai saudara sekandung tidak lebih besar dari saudara seagama. Bahkan, saudara sekandung bisa berbeda agama dengan segala konsekuensinya di akhirat. Sedangkan, saudara seagama sifatnya abadi di dunia maupun di akhirat." Junus Jahja