Tuesday, 03 May 2005 09:36
Sewaktu lahir pada 14 April 1961 di Jakarta, PITI adalah singkatan dari Persatuan Islam Tionghoa Indonesia, tetapi kemudian diubah menjadi Persatuan Iman Tauhid Indonesia. Karena keluar instruksi dari pemerintah (14 Desember 1972) yang menekankan agar organisasi ini tidak berciri etnis tertentu, walaupun PITI tetap merupakan wadah berhimpunnya orang-orang Tionghoa Muslim.
Kemudian PITI kembali menjadi Persatuan Islam Tionghoa Indonesia yang ditetapkan dalam rapat pimpinan organisasi pada pertengahan Mei 2000. Dengan demikian, dapat dikatakan PITI saat ini kembali ke Khittah (garis perjuangan) semula, yakni organisasi yang tegas menyebut diri sebagai wadah berhimpunnya orang-orang Tionghoa Muslim. Tujuannya adalah mengembangkan dakwah di kalangan orang-orang Tionghoa, baik yang sudah menjadi muslim maupun yang belum. Yang sudah muslim ditingkatkan pengetahuan dan pengamalan Islamnya, sedang yang belum muslim diberi penjelasan tentang Islam.
Apakah anda sudah mengetahui adanya PITI di tempat anda sebagai tempat bertanya tentang Islam ? berikut alamat PITI di daerah atau Korwil PITI di daerah anda :
-
Korwil Kalimantan Barat
-
Korwil Kalimantan Timur
-
Korwil Kalimantan Selatan
-
Korwil Jawa Tengah
-
Korwil Jawa Timur
-
Korwil Yogyakarta
-
Korwil Sumatera Utara
-
Korwil Lainnya Se Indonesia
Note : Belum semua Korwil PITI kami data karena keterbatasan informasi, dan akan kami lengkapi secepat mungkin, jika anda mengetahui Korwil PITI di daerah anda dan kepengurusannya, mohon agar kiranya dapat menginformasikan kepada kami'c2~
| < Prev | Next > |
|---|






"Setelah seorang keturunan Tionghoa menjadi muslim, maka keadaannya sungguh berlainan. Antara si pribumi (yang umumnya beragama Islam) dan nonpri keturunan Tionghoa yang masuk Islam, terjalin suatu hubungan batin yang luar biasa menakjubkan. Persamaan agama, dalam hal ini Islam, menciptakan hubungan mesra dan mengharukan sebagai saudara seagama. Berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits, arti dan nilai saudara sekandung tidak lebih besar dari saudara seagama. Bahkan, saudara sekandung bisa berbeda agama dengan segala konsekuensinya di akhirat. Sedangkan, saudara seagama sifatnya abadi di dunia maupun di akhirat." Junus Jahja