Ir H Surya Madya : Perlu Rumah Singgah Mualaf
Organisasi Mualaf -
Lainnya
Sunday, 28 August 2005 01:48
Berbagai persoalan dihadapi para mualaf, begitu mereka 'hijrah' dan menyatakan diri memeluk Islam. Yang paling sering dihadapi, adalah persoalan ekonomi dan keluarga. Banyak dari mereka yang "dibuang" oleh keluarganya, dan dipecat dari pekerjaannya. Di sinilah, perlunya dukungan dan perhatian umat Islam kepada para mualaf, sehingga mereka bisa dengan tenang menjalankan ajaran Islam yang diyakininya sebagai jalan hidup yang paling benar dunia dan akhirat.
Amal Muslim Muhajirin dan Anshar (AMMA), sebuah lembaga nirlaba Muslim, mencoba melakukan sesuatu untuk membantu para mulaf. ''Dari pengalaman kami sekian tahun menangani para mualaf, kami merasakan pentingnya Rumah Singgah Mualaf, sehingga dapat membina mereka dengan baik,'' ungkap Ketua Umum AMMA, Ir H Surya Madya kepada Damanhuri Zuhri dari Republika, Selasa (23/8).
'c2~
Berikut ini wawancara dengan pria yang sehari-hari bekerja sebagai staf sekretaris di Pupuk Kaltim:
'c2~
Bisa diceritakan latar belakang pendirian lembaga AMMA
'c2~
Tahun 2000 saya melihat belum ada pembinaan yang menyeluruh terhadap mualaf. Kemudian saya mengajak teman-teman di Pupuk Kaltim untuk membuat sebuah yayasan yang bergerak di bidang pembinaan mualaf. Fokus kita di situ.
Kenapa disebut AMMA, saya mengambil Juz Amma. Juz Amma itu biasanya dibaca oleh para pemula yang belajar Alquran. Kita membahasakan yayasan yang ingin kita bangun ini adalah yayasan pemula. Cuma untuk sebuah legalitas di akta notaris kita memberi singkatan Amal Muslim Muhajirin dan Anshar (AMMA). Itu semangatnya atau filosofinya saya membahasakan bahwa mualaf itu tidak bisa hanya membina mualafnya, tapi kita harus bisa membina teman-temannya. Jadi, dalam bahasa AMMA, Muhajirin zaman sekarang ini adalah orang yang pindah agama artinya hijrah dan Anshar yang membantunya. Karena itu, setiap mualaf harus punya teman-teman yang siap membantunya.
AMMA berdiri April 2000, mulai dari seorang mualaf. Namanya Mbak Evi, dia tertarik Islam. Dari situ kita mulai pengajian dengan ditemani tiga orang. Di situ saya terangkan soal Islam, Evi waktu itu belum masuk Islam, saya terangkan tentang akidah sampai akhirnya dia memahami ibadah secara Islam dan berperilaku sesuai dengan yang diajarkan Rasulullah SAW. Evie akhirnya bersyahadat.
'c2~
Kini, setiap Ahad kami mengadakan pengajian dan pembinaan bagi mualaf di Musala An-Nur di kompleks perumahan Pukuk Kaltim. Agendanya, dari pukul 14.00 sampai 16.00 WIB belajar membaca Alquran. Pukul 16.00 sampai 18.00 kita mengkaji akidah, akhlak, dan sejarah. Jumlah jamaahnya berfluktuasi antara 20 hingga 30 orang.
'c2~
Siapa saja penyampai materinya?
'c2~
Saya dan teman-teman yang sudah lebih dulu masuk Islam, seperti dr Bambang Sukamto, Bapak Nababan, dan Ibu Irena Handono. Dari kalangan mubaligh, kita pernah mengundang Bapak Ihsan Tandjung. Pada hari-hari tertentu, jumlah peserta pengajian bisa lebih banyak. Misalnya saja, bila ada pertemuan gabungan mualaf se-Jabotabek. Ramai sekali jamaahnya.
'c2~
Apa problem utama yang paling banyak dihadapi saudara kita para mualaf?
'c2~
Biasanya kalau mereka masuk Islam karena belajar ilmunya, pengetahuan dasar Islamnya masih sedikit. Problem utamanya dia harus tambah ilmu. Problem tambahan, bila dia berpindah agama dan ditentang keluarganya. Atau kalau dia sudah berkeluarga, suami atau istrinya tidak setuju.
Banyak mualaf yang terusir dari rumahnya setelah keluarganya tahu dia menjadi Muslim. Ini yang paling sering terjadi. Biasanya, pada malam pertama bisa ditampung di tempat teman, sambil kita mencoba mencari jalan keluar, misalnya dengan mencarikan dia pekerjaan. Dengan bekerja, dia bisa mencari tempat kos.
Masalahnya menjadi sedikit kompleks karena kita tidak didukung oleh kekuatan finansial yang memadai. Donatur kita hanya beberapa orang saja. Kalau kita tidak mampu, maka jalan terakhirnya diajak kembali ke rumah orang tuanya. Pernah saya datang ke orang tua teman mualaf mengantarkan dia, dan saya turut diusir, setelah sebelumnya dimaki-maki. Padahal maksud saya saat itu ingin menunjukkan pada dia, walaupun sudah beda iman, tapi hubungan harus tetap baik. Anak tetap harus berbakti pada orang tua.
'c2~
Bagaimana model pembinaan mualaf yang ideal
'c2~
Membina muallaf itu bukan hanya mengadakan pengajian. Tapi bagaimana kita bisa kalau ada yang kesulitan mendapatkan tempat tinggal minimal bisa mencarikan tempat tinggal yang dia bisa dibina di situ. Saat ini kita masih mengumpulkan kepedulian Anshar untuk patungan mempunyai rumah singgah bagi para mualaf. Kita mengimpikannya, karena saat ini belum punya.
'c2~
Berapa kira-kira biaya yang dibutuhkan untuk mewujudkan rumah singgah mualaf tersebut?
'c2~
Satu rumah di wilayah pinggiran Jakarta sewa pertahunnya Rp 12 juta dengan beberapa kamar. Kita mengharapkan di rumah itu ada seorang pembina yang bisa secara terus menerus membimbing keimanan para mualaf. Rumah singgah ini terutama bagi para mualaf yang diusir dari rumahnya. Lalu, ada biaya operasional seperti makan bagi para mulaf serta honor pembina yang satu bulannya kira-kira mencapai Rp 500 ribu. Angkanya sekitar itu, tinggal dikalikan berapa jumlah mualafnya.
'c2~
Selama ini, bagaimana sesungguhnya perhatian umat terhadap para mualaf?
'c2~
Yang saya amati, orang Islam itu terharu ketika ada yang masuk Islam. Jadi, kalau orang non-Muslim di masjid ada yang mengucapkan syahadat, orang-orang Islam itu sampai meneteskan air mata. Sayangnya, hanya sebatas itu. Mereka tidak memahami problematika mualaf. Kita mencoba melihat mualaf dari sisi yang berbeda. Mereka saudara baru yang butuh bimbingan dan perhatian.
'c2~
Dari pengamatan Anda selama ini, apa faktor teman-teman muallaf pindah ke Islam?
'c2~
Yang menjadi masalah, bila dia pindah agama hanya karena hendak menikahi pasangannya yang Muslim, dan setelah itu tidak mau dibina. Ada juga yang dia belajar, nonton televisi, dengar pengajian, setelah itu dia tertarik dan masuk Islam. Banyak juga yang masuk Islam karena baca buku, dan karena pergaulan. Ada juga yang melalui mimpi, mendengar suara adzan atau bertemu orang yang menggunakan baju putih seperti jubah yang menasetai supaya masuk Islam. Ada yang bermimpi dia terhempas ketika dalam kegoncangan tiba-tiba dia terdampar di masjid. Itu semua hanya sebab dan membutuhkan ilmu.
'c2~
Terhadap mualaf, di mana AMMA memosisikan diri?
'c2~
AMMA bergerak di bidang ilmu-ilmu dasar. Saya ibaratkan sebagai pintu gerbang menuju Islam. Kita seperti
guide awal. Saya melihat dan ini saya coba tularkan kepada lembaga pembinaan mualaf yang diketuai Pak Bambang Sukamto (Yayasan Al Manthiq-red) kalau bisa kita punya materi dasar yang seragam. Jadi, kalau ada mualaf yang masuk Islam di mana pun juga, awal-awalnya mereka mendapatkan materi dasar yang seragam dan ini sedang digodok oleh tenaga pembina mualaf untuk menjadi sebuah silabus dan nantinya akan diterapkan pada lembaga-lembaga pembina mualaf.
sumber Harian Republika